Bab 056: Pergilah ke Tempat yang Paling Dingin
Ternyata, setelah menangis beberapa saat dan melihat Xiaolan tetap diam, Ruan Ziwen pun memohon dengan suara penuh isak tangis, “Xiaolan, sekarang hanya ada satu cara untuk menyelamatkanku. Katakan saja itu kau yang mengakuinya, bilang saja kau menemukan bahwa dalam Anggur Bunga Persik telah ditambahkan ramuan penetral panas oleh Paman Guru Ketujuh, dan jumlahnya kebanyakan, bagaimana? Hampir tak ada orang yang bisa masuk ke Lembah Bunga Persik, mau mencari Paman Guru Ketujuh pun, tak ada yang berani berbuat apa-apa padanya... Bagaimana menurutmu?”
Dulu, saat Ruan Ziwen menjebak Xue Meiyan, ia juga memohon pada Xiaolan dengan air mata menetes, dan Xiaolan yang kala itu sangat berjiwa besar mengangguk serta setuju, menanggung dosa itu. Sekarang, ia benar-benar ingin mengulangi cara lamanya lagi?
Tak ada yang berani berbuat apa-apa pada Paman Guru Ketujuh... Tapi Paman Guru Ketujuh, yang seperti dewa itu, dalam hidupnya paling mencintai membuat anggur, bagaimana mungkin menimpakan aib ini padanya? Walau pun ia tak akan pernah tahu, tetap saja itu tak mungkin!
Karena itu Xiaolan buru-buru melambaikan tangan, “Tidak, tidak, Nona, itu tidak bisa! Membuat anggur adalah kebanggaan terbesar Paman Guru Ketujuh, bahkan memberiku satu gentong Anggur Bunga Persik yang sangat berharga itu pun agar semua orang bisa mencicipinya, bagaimana bisa... sama sekali tidak boleh!” Bahkan saat Lianshuanghua ingin menyisakan setengah gentong untuk dicampur air pun Xiaolan tak setuju, bagaimana mungkin berkata bahwa anggur Paman Guru Ketujuh yang gagal membuat semua orang sakit perut?
Ruan Ziwen seperti sudah tahu Xiaolan akan bereaksi seperti ini, air matanya malah semakin deras, “Lalu bagaimana? Apa kau mau melihat aku dijebak si perempuan jalang itu? Kita baru masuk kelas khusus, ke depannya pasti harus banyak bergantung pada para senior, tapi sekarang...”
“Kau sudah tahu ada tambahan ramuan, kenapa tidak langsung bilang pada semuanya agar tak dimakan?”
“Mereka sedang makan dengan gembira, mana mungkin aku berkata begitu? Aku pun ikut-ikutan makan banyak! Dalam hati aku pikir, kalau pun ada masalah, aku pun menanggungnya bersama yang lain, jadi tak akan ada yang berkata apa-apa padaku, kan? Tapi kau malah membawa anggur itu. Saat itu aku pikir, mungkin inilah jalan keluar yang diberikan langit untuk kita berdua!”
“Itu bukan jalan keluar! Kalau kau bilang supaya tak dimakan lagi, itulah jalan keluarnya!”
“Lalu biar semua orang tahu aku dijebak ibuku sendiri, menontonku jadi bahan tertawaan?” Air mata masih penuh di wajah Ruan Ziwen, namun kini ia menyeringai dingin, “Kau juga tahu, kita berdua bisa punya hari seperti ini di Gunung Menutupi Awan, selain karena bakat, juga karena posisi keluarga Ruanlah sebagian besarnya! Banyak sesama murid yang lebih berbakat dariku, tapi karena tak punya dukungan keluarga, mereka selalu ditekan dan dipersulit... Apa kau juga mau menjalani hari-hari seperti itu?”
Xiaolan memang tak ingin hidup seperti itu, tapi hari-hari di mana semua orang memanjakan Ruan Ziwen juga tak ada hubungannya dengan dirinya.
Sejak Ruan Ziwen meminta agar Anggur Bunga Persik Paman Guru Ketujuh menjadi kambing hitam untuk kue buatannya, Xiaolan merasa semakin muak padanya. Ia benar-benar tak ingin menjadi musuhnya, hanya ingin menjauh sejauh mungkin, agar Ruan Ziwen tak lagi mencelakainya. Apakah keinginan sekecil itu pun tak bisa terkabul? Masih juga terus mengejarnya, terus mencelakai orang-orang yang baik padanya?
Sambil memikirkan itu, Xiaolan akhirnya tertawa dingin, “Nona, aku sangat bersimpati padamu, niat baikmu ingin bergaul dengan semua orang malah dimanfaatkan oleh Ny. Ruan. Tapi aku tetap tak akan bilang ini salah anggur, menodai nama Paman Guru Ketujuh dan membawa masalah pada diriku sendiri.”
Barangkali Ruan Ziwen tak pernah bermimpi Xiaolan yang biasanya tampak bodoh dan penurut bisa berkata seperti itu, air matanya langsung berhenti, matanya membelalak menatap Xiaolan, tak percaya, “Kau... apa yang kau katakan?”
“Aku katakan, Nona, aku tak bisa setuju.” Xiaolan menegakkan punggung, menatap Ruan Ziwen tanpa menghindar, “Ini masalahmu sendiri, kau yang begitu cerdas, pasti bisa menemukan cara lain, tapi jangan salahkan Anggur Bunga Persikku.” Selesai berkata, ia merasa hatinya lapang luar biasa, menunggu sejenak, melihat Ruan Ziwen masih menatapnya tak percaya, tak mampu berkata apa-apa, barulah ia membungkuk sedikit, lalu berbalik hendak pergi.
“Xiaolan,” akhirnya Ruan Ziwen bicara, “Kau benar-benar Xiaolan yang dulu? Yang tumbuh besar bersamaku, yang meski berstatus pembantu namun seperti saudara sendiri, Wang Xiaolan? Aku sudah begitu merendah memohon padamu, pun kau tak mau membantu? Kau lupa bagaimana bisa masuk ke Gunung Menutupi Awan ini? Kalau bukan karenaku, dengan bakatmu, apa kau kira bisa jadi murid Xuanmen?”
Xiaolan menoleh menatapnya, “Aku sangat berterima kasih padamu, juga pada Tuan Ruan. Kalau bukan kalian, memang tak akan ada Xiaolan yang sekarang. Tapi utangku padamu, sudah lunas sejak aku dihukum di Tebing Penyesalan, bukan? Kita berdua sama-sama tahu siapa yang meracuni Xue Meiyan, aku sudah menggantikanmu menanggung hukuman, itu sudah cukup.”
“Itu saja cukup?” Ruan Ziwen menatap Xiaolan dengan wajah dingin, air mata kembali mengalir deras, seperti mata air pegunungan yang baru mencair, “Kau adalah pembantuku, ibumu adalah pembantu ibuku, ayahmu adalah budak keluarga Ruan! Kau ingin bilang utang kita sudah lunas? Apa kau pernah memikirkan nasib orang tuamu?”
Xiaolan sedikit tertegun.
Memang ia tak terpikir soal itu, ia yang kini menjadi Wang Xiaolan, tapi lupa bahwa Xiaolan di rumah besar keluarga Ruan di kaki gunung masih punya orang tua yang turun-temurun menjadi budak dan pelayan keluarga Ruan. Jika Ruan Ziwen ingin mencelakakan mereka, dirinya... apakah ia sudah berbuat adil pada pemilik tubuh ini?
Ruan Ziwen melihat keraguan Xiaolan, air matanya semakin deras, wajahnya penuh penyesalan dan kesedihan, “Aku menganggapmu seperti saudara kandung, karena hubungan kita sejak kecil. Apa kau benar-benar mengira kita hanya saudara? Kau lahir dari keluarga pelayan, sama seperti aku lahir dari selir, itu tanda yang tak bisa dihapus seumur hidup, bahkan ketika kita menikah dan punya anak, anakku tetap anak selir, anakmu tetap anak pelayan. Kau hidup di halaman belakang keluarga Ruan sebelas tahun, apa kau sampai lupa hal sebesar itu?”
Hati Xiaolan terasa seperti diikat dan ditarik erat, sesak, sakit, dan ingin sekali menampar Ruan Ziwen. Namun kini ia tak punya pilihan lain, hanya bisa menenangkan Ruan Ziwen dulu, baru mencari jalan keluar, tapi tetap tak boleh mengaku bahwa masalahnya ada pada anggur.
Maka, ia menahan bara api yang membakar di dadanya dan berkata, “Mohon izinkan aku memikirkannya, Nona.”
Ruan Ziwen mendengar ada harapan, segera melangkah maju, menggenggam tangan Xiaolan, bibirnya bergetar seolah ingin bicara namun tak mampu, hanya akhirnya memeluk Xiaolan, menangis pelan menahan isak, baru setelah beberapa saat bisa mengendalikan perasaan, menyandarkan dahi ke dahi Xiaolan dan menangis lirih, “Xiaolan, aku tetap menganggapmu saudaraku sendiri, di hatiku, tak pernah kuanggap kau pembantuku. Barusan... aku sungguh panik... Aku sendiri anak selir, mana mungkin tak tahu betapa pahitnya ‘status’, ‘kedudukan’, dan ‘aturan’ itu? Aku benar-benar tak ingin melukaimu dengan itu... jangan salahkan aku...”
Suaranya serak, penuh iba, isak tangisnya merdu, seolah sangat menyesal dan berat hati namun tak punya pilihan lain. Jika ini dulu, Xiaolan pasti sudah memeluk Ruan Ziwen dan menangis bersama, lalu menepuk dada berjanji “semua urusan biar aku yang tanggung”, kan? Tapi sekarang, Xiaolan sama sekali tak akan berkata demikian, hanya ingin mengatakan satu kalimat.
Ruan Ziwen, pergilah ke mana pun kau suka, selama jauh dariku.