Bab Sepuluh: Energi Darah
Hari kedua puluh.
Energi panas itu terus-menerus masuk ke dalam tubuh melalui jutaan pori-pori, memperkuat kulit, otot, tulang, dan darah Lin Feng di bawah hantaman gelombang panas yang tak henti-hentinya membasuhnya. Gelombang kenikmatan yang tak terlukiskan terus merangsang saraf otaknya.
“Aaah, aaah, aaah...”
Akhirnya, Lin Feng tak mampu lagi mengendalikan emosinya dan meraung keras. Harimau Putih yang berjaga di depan gerbang membuka matanya yang sebesar lonceng tembaga, melirik ke arah kediaman Lin Feng, menampakkan kilau aneh di matanya, “Bocah ini rupanya tahu cara menyerap energi api tanah untuk memperkuat tubuhnya. Untung dia berlatih jurus luar, kekuatan fisiknya jauh lebih kuat dari para ahli olah napas biasa. Tapi kalau terus menyerap seperti ini, cepat atau lambat dia akan meledak. Apa dia mengira tubuhnya tubuh binatang suci?”
Keadaan Lin Feng memang mulai berbahaya. Setelah beberapa kali berteriak, pikirannya perlahan menjadi jernih. Ia bisa merasakan suhu tubuhnya yang begitu tinggi, darah dalam tubuhnya seakan mendidih, seluruh dirinya seolah-olah ditempa dalam tungku api.
“Tidak, kalau begini terus, aku bisa jadi abu terbakar.”
Jurus Tinju Tujuh Langkah, satu-satunya jurus keras yang Lin Feng kuasai dan mampu menguras banyak tenaga, segera ia lepaskan.
Satu kali, dua kali, tiga kali... entah sudah berapa kali ia mengulang gerakannya, Lin Feng menghamburkan tenaga tanpa mengenal lelah.
Harimau Putih yang tadinya sedikit meremehkan, akhirnya bangkit. Dari kejauhan ia bisa merasakan ada perubahan besar pada bocah itu, kekuatan fisiknya terus meningkat dan diperkuat. Ada energi aneh yang berkumpul dan mengalir di permukaan tubuh Lin Feng; energi ini sangat familiar bagi Harimau Putih. Dulu, saat pertama kali ia beroleh kesadaran dan menjadi binatang suci tingkat awal, tubuhnya juga pernah mengalami penguatan energi semacam ini.
Belakangan, Harimau Putih tahu energi itu bernama “Daya Darah”, sebuah kemampuan bawaan yang dimiliki semua binatang suci. Inilah yang membuat raga mereka sekeras artefak sihir, sangat tangguh. Beberapa binatang suci berbakat besar dapat mengembangkan daya darah lebih banyak, tubuhnya bahkan melebihi artefak kelas atas. Saat bertarung, mereka tak perlu pakai muslihat, cukup menabrak musuh saja sudah sangat ganas.
Karena itu, biasanya setiap sekte abadi berharap memiliki beberapa binatang suci penjaga gunung. Para murid sekte pun tidak mau berseteru dengan binatang suci tanpa alasan.
“Bagaimana mungkin tubuh manusia punya daya darah, itu bakat alamiah binatang suci. Apa dia sebenarnya binatang suci yang menyamar? Tak mungkin. Tapi makin lama ia mampu bertahan, makin besar pula keuntungan yang akan didapat nanti. Semoga bocah ini sanggup melewati ujian ini, aku sebaiknya mengawasinya. Sudah ratusan tahun aku tak bertemu manusia semenarik ini,” pikir Harimau Putih sambil melangkah mendekat.
Mata Lin Feng memerah, seolah ada dua nyala api menyala di sana. Panas—panas yang menusuk hingga ke jiwa. Dunia menjadi tungku raksasa, dirinya seakan ditempa dan dibakar ribuan kali dalam kobaran api yang tak berkesudahan.
Rumah tempat ia berlatih sudah runtuh, tapi Lin Feng tidak merasakannya. Ia terus memukul, menyerang apapun yang menghalangi di hadapannya. Tiba-tiba, seekor binatang besar menerjang ke arahnya. Tanpa gentar, Lin Feng mengayunkan tinjunya, menghantam dengan kekuatan yang menggelegar.
“Brengsek, sudah ratusan tahun tak ada yang berani melayangkan tinju ke arahku,” gerutu Harimau Putih. Begitu ia melompat ke halaman, ia langsung melihat Lin Feng yang seperti orang gila menerjang ke arahnya. Dengan sedikit rasa geli, ia menyambut dengan satu cakar depannya.
Dua kekuatan bertubrukan. Gelombang dahsyat tampak menyebar dari titik benturan. Harimau Putih meniupkan debu dari cakarnya dengan santai, sementara Lin Feng terpental jauh.
“Kekuatannya lumayan, tapi serangannya masih kurang terfokus. Hari ini kau beruntung, bocah. Biar kubantu, ingin kulihat seberapa banyak daya darah yang bisa kau bangkitkan.” Harimau Putih kembali menerkam, cakarnya menghantam tubuh Lin Feng dengan ringan, namun tepat sasaran.
“Bunuh...” Lin Feng sudah kehilangan akal sehat.
“Bunuh apaan, satu cakarku saja kau tak sanggup tahan.” Harimau Putih duduk di samping Lin Feng, setiap kali Lin Feng bangkit, ia langsung menambah satu pukulan lagi, dan setiap kali tempat yang berbeda.
Energi api tanah di udara seperti tertarik oleh kekuatan misterius, mulai mengalir menuju satu titik.
“Daya Darah Menelan? Gila, bocah ini benar-benar makhluk aneh. Dulu aku sehebat itu pun tak pernah sampai terjadi fenomena ini. Sependek ingatanku, hanya si Monyet Besar dari Lembah Pedang yang pernah mengalaminya waktu menembus tingkat binatang suci.” Sepasang mata Harimau Putih memancarkan keseriusan, cakarnya makin cepat menghantam.
Di Sekte Jiwa Binatang, ada sepuluh binatang suci dan dua binatang abadi yang entah di mana sedang bertapa. Saat ini, selain Harimau Putih di Puncak Pil, sembilan binatang suci lainnya tengah berlatih di gua masing-masing.
Tiba-tiba, mereka semua membuka mata bersamaan, keluar dari gua, memandang ke arah Puncak Pil dengan heran dan bingung. Energi yang tersebar di udara begitu mereka kenal, setiap kali menembus tingkat, energi itu selalu meledak dari tubuh mereka.
“Daya darah kali ini sangat sedikit, jelas bukan Harimau Putih yang menembus tingkat. Atau mungkin ada binatang suci baru lahir? Lebih baik aku kembali ke daerah penjagaanku.” Seekor Bangau Suci yang bersinar dalam lima warna membentangkan sayapnya selebar delapan meter, di kepalanya terdapat mahkota merah menyala. Satu kepakan, tubuhnya lenyap, hanya menyisakan jejak cahaya warna-warni.
“Itu Bangau Suci. Sepertinya benar ada kejadian di Puncak Pil. Tapi daya darah kali ini jenis langka: Darah Membara Api Merah. Sayang yang diserap hanya api tanah di bawah Puncak Pil, kalau tidak kualitas daya darah ini pasti lebih tinggi, dan potensinya di masa depan jauh lebih besar.” Seekor Kera Emas setinggi dua meter menggenggam tongkat hitam lebih dari tiga meter, auranya berkilau emas samar. “Untung saja aura itu bukan milik Harimau Putih, kalau tidak, duel berikutnya pasti merepotkan.”
Delapan binatang suci di delapan puncak gunung masing-masing menebak-nebak, perubahan apa yang sebenarnya terjadi di Puncak Pil. Namun mereka semua yakin, ledakan daya darah kali ini bukan berasal dari Harimau Putih. Namun, mereka hanya bisa menunggu. Puncak Pil akhir-akhir ini memang dikarantina total, kecuali binatang penjaga gunung, tidak seorang pun boleh mendekat.
Harimau Putih kini menjauh dari Lin Feng, lebih tepatnya menjauh dari Lin Feng yang kini tubuhnya bagai kobaran api, tak lagi berbentuk manusia. Meski itu bukan api sungguhan, melainkan bentuk khusus dari daya darah yang terlepas terlalu besar hingga tak sempat diserap. Namun dari dalam itu, terasa jelas daya hidup Lin Feng terus meningkat, fisiknya pun terus berkembang.
Sebuah bayangan besar turun dari langit—Bangau Suci baru saja tiba.
“Darah Membara Api Merah?” Bangau Suci menatap gumpalan api di depannya dengan terkejut. “Kakak Harimau, apa benar ini manusia?”
“Haha, hari ini sungguh menyenangkan. Puncak Pil sejak Sesepuh Yun Sheng wafat perlahan kehilangan kejayaannya. Kudengar si Wuzi baru-baru ini berhasil menguasai Ilmu Kecil Pemurnian Dewa dan berniat mengambil artefak dan tungku pil di ruang pil. Aku masih kesal, tak disangka ada bocah menarik datang.” Harimau Putih menggoreskan cakarnya di tanah batu baja, meninggalkan bekas-bekas dalam. “Adik Bangau, dengan bocah ini, hidup kita tak akan membosankan lagi.”
“Aneh atau tidak, itu urusan nanti. Sekarang kita harus selesaikan masalah ini.” Bangau Suci mengepakkan sayap, tirai cahaya lima warna menutupi halaman. “Jangan sampai mengganggu Wuzi yang sedang meramu pil, dan jangan sampai para tetua serta murid lain menyadari kejadian ini. Sepertinya daya darah bocah ini belum sepenuhnya lepas, ia masih harus menyerap energi api.”
“Kau memang cermat, Adik Bangau. Aku terlalu senang hingga lupa. Bagaimanapun juga bocah ini murid luar Puncak Pil, apapun masa depannya, sekarang tetap harus kita lindungi.” Harimau Putih membuka mulutnya, memuntahkan sebutir pil emas sebesar kepalan tangan. Pil itu melayang di atas Lin Feng, berputar-putar, memancarkan kabut spiritual yang tampak oleh mata. Begitu kabut itu menyentuh api di tubuh Lin Feng, api langsung membesar dan melahap kabut itu dengan rakus.
Setengah jam berlalu, barulah Harimau Putih menarik kembali pil emasnya, yang kini tampak mengecil. “Kali ini aku benar-benar rugi. Setengah jam begini butuh dua bulan latihan untuk pulih.”
Kini tubuh Lin Feng sudah kembali tampak, api yang membara pun lenyap. Jubah Tao yang ia kenakan telah jadi abu. Tubuh dan tulangnya membesar, setiap ototnya menyimpan kekuatan ledak yang luar biasa. Di permukaan kulitnya mengalir selapis pelindung emas tipis.
“Tiga lapis Kekuatan Baja, tampaknya masih terus membentuk lapisan baru, dan itu Kekuatan Baja Dalam. Bocah ini rupanya memang berlatih jurus luar?” Bangau Suci terkejut.
“Tentu saja, inilah yang membuatnya menarik!” Harimau Putih menjulurkan lidah menjilat bibirnya, “Adik Bangau, jagalah dulu di sini. Aku akan bertapa. Luka duel terakhirku dengan si Monyet Besar belum benar-benar pulih, sekarang malah harus ‘beramal’ untuk bocah ini, benar-benar rugi besar...”