Bab Dua Puluh Lima: Satu Kali Pencerahan Menuju Jalan Kebenaran (Bagian Pertama)
Di arena latihan Balai Tujuh Pedang, tujuh sosok melompat-lompat naik turun, tujuh pedang energi saling bersilangan di udara, membentuk formasi yang luar biasa.
"Formasi Tujuh Pembunuh Utama Biduk Utara, bentuklah!"
Sebuah suara menggema, lalu ketujuh sosok itu berputar di atas tanah, membentuk pola rasi bintang Biduk Utara. Tujuh pedang energi di langit langsung mengeluarkan dengung lembut, sementara arus aura langit dan bumi terus mengalir ke dalam formasi pedang itu. Aura tersebut kemudian terbagi menjadi tujuh jalur, masing-masing diserap oleh tujuh orang di bawah.
Setengah jam berlalu sebelum formasi berhenti menyerap aura, pedang-pedang energi kembali ke pemiliknya, dan ketujuh orang itu serempak membuka mata.
"Kakak tertua, kekuatan kita bertujuh memang masih ada selisih. Formasi Tujuh Pembunuh ini juga tampak ada cacatnya. Sepertinya kami berenam harus giat berlatih lagi, berusaha menembus ke tingkat ketujuh Penyaringan Qi. Jika berhasil, formasi ini bisa menopang latihan kita sampai satu setengah atau bahkan dua jam."
"Kakak kedua benar, kita memang harus lebih giat lagi. Sayang, sebentar lagi sebulan lagi ada Kompetisi Murid Luar, dan kita sudah tak berhak ikut. Kakak tertua sudah mencapai awal Tingkat Tiga Bunga, kita tak bisa lagi membentuk Formasi Tujuh Pembunuh untuk memperebutkan Pil Roh Ungu itu."
"Haha, saudara-saudaraku, aku bisa lebih dulu menembus ke Tingkat Tiga Bunga juga berkat kalian yang mengalah waktu kompetisi lalu hingga aku mendapat Pil Roh Ungu. Tapi kalian semua juga sudah hampir sempurna di tingkat enam Penyaringan Qi, hanya perlu satu-dua tahun latihan lagi, pasti bisa menembus ke Tingkat Tiga Bunga bersama."
Ternyata, ketujuh orang ini adalah pendiri Balai Tujuh Pedang, sekaligus tujuh kepala balai. Formasi yang mereka ciptakan sendiri, "Tujuh Pembunuh Utama Biduk Utara", tak hanya bisa menjebak dan membunuh musuh, tetapi juga menyerap lebih banyak aura langit dan bumi untuk mendukung latihan. Di kalangan murid luar, nama mereka sangat terkenal.
"Tuan-tuan kepala balai, Tuan Harimau dari Balai Pil sedang datang!" Seorang murid berlari terburu-buru ke arena latihan, terlihat gugup.
Begitu mendengar Tuan Harimau datang, ketujuh kepala balai langsung terkejut dan melompat berdiri. Binatang roh punya kekuatan setara murid inti tingkat Dao, bahkan statusnya lebih tinggi dari murid tingkat tiga Dao Pil. Para makhluk kuat yang biasanya tak tersentuh itu, kenapa tiba-tiba muncul di balai kecil mereka?
"Cepat, sambut Tuan Harimau dengan penghormatan tertinggi!" Kepala balai utama, Liu Yi Feng, langsung melesat keluar dari arena latihan, diikuti enam saudaranya yang lain.
Di aula utama Balai Tujuh Pedang, para murid berlutut memenuhi lantai. Di posisi utama, seekor harimau besar menguap lebar, di sampingnya berdiri seorang pria muda berwajah polos.
"Bukankah harimau ini malah menjerumuskanku? Begitu banyak murid berlutut dengan takut, hanya aku satu-satunya yang berdiri, ingin rendah hati pun tak bisa," pikir Lin Feng sambil mengamati Balai Tujuh Pedang. Tata letaknya cukup bagus. Terutama sebuah lukisan yang tergantung di dinding, sekali melihatnya, mata sulit beralih.
Lukisan itu hanya menggambarkan seorang pria berdiri di tepi tebing, menghadap lautan luas yang berkilauan, matahari terbit menyebar sinar emas menerpa wajah pria itu, menambah kesan misterius. Sekilas terlihat biasa saja, tapi semakin Lin Feng memperhatikan, ia semakin terhanyut dan kagum.
Matahari dalam lukisan seolah perlahan naik, sementara sosok pria itu makin lama makin samar. Saat matahari sepenuhnya muncul dari balik laut, sosok pria itu telah lenyap di tepi tebing. Hanya tersisa lautan dan cahaya emas yang memenuhi dunia.
Tak tahu berapa lama Lin Feng larut dalam lukisan itu, tiba-tiba kepalanya terasa nyeri menusuk, ia pun tersadar. Lukisan di dinding tampak kembali biasa saja, seolah semua yang barusan dialami hanya ilusi.
Mengalihkan pandangan, Lin Feng baru menyadari para murid yang tadi berlutut sudah pergi, kini hanya tersisa tujuh lelaki tua penuh wibawa, para kepala balai. Mereka menatap Lin Feng dengan harap, seakan menunggu jawabannya.
"Tadi kau memandang lukisan itu terus, apakah kau menemukan sesuatu?" tanya Harimau Putih sambil menggelengkan kepala dan mengamati lukisan di dinding. "Tak ada yang istimewa, kan?"
Lin Feng berpikir sejenak, tak segera menjawab, melainkan membungkuk hormat pada ketujuh kepala balai, "Salam hormat, para kakak. Maaf kami datang mendadak, mohon dimaafkan atas segala kekurangan."
"Saudara Lin, tak perlu sungkan," jawab mereka, meski dalam hati penuh kegundahan. Awalnya mereka kira cukup melayani Tuan Harimau saja, pasti tak ada masalah. Namun, begitu bertemu, ternyata di samping Tuan Harimau ada pemuda ini.
Dan pemuda ini justru orang yang paling tak ingin mereka hadapi. Mereka memang murid Balai Pedang, tak gentar pada Balai Pisau, namun masalah yang ditimbulkan saudara Lin ini sudah terlalu besar, memicu kemarahan banyak pihak karena kepentingan yang sangat besar.
"Liu Kecil, coba kau jelaskan siapa sebenarnya pelukis lukisan itu? Aku merasa sosok pria di lukisan itu cukup familiar, seperti pernah kulihat," ujar Harimau Putih sembari menunjuk lukisan dengan cakarnya.
Liu Yi Feng segera menjawab dengan hormat, "Lukisan ini dibuat oleh Dewa Pedang saat beliau mendapat pencerahan. Pria dalam lukisan itu adalah Dewa Pedang sendiri, yang kini menjadi Penatua Dewa Pedang."
"Penatua Dewa Pedang? Yang selama dua ratus tahun lebih tak keluar dari pertapaannya itu?" suara Harimau Putih meninggi, "Pantas saja aku merasa familiar, rupanya dia."
Penatua Dewa Pedang memang tak punya nama. Seumur hidupnya ia mengabdi pada pedang. Umur tujuh tahun sudah mulai berlatih, umur sepuluh tahun membunuh, umur dua puluh tak terkalahkan di dunia persilatan, dijuluki Dewa Pedang, dewa di antara para pendekar. Umur tiga puluh, ia mendapat pencerahan tertinggi di Tebing Pengamat Laut, umur lima puluh ia menembus tingkat Dao. Setahun kemudian, di Gunung Iblis Langit, ia membantai lima murid sesat tingkat dua Dao; tiga tahun berikutnya, di Tanah Terlarang Purba, ia membunuh sepuluh murid sesat tingkat tiga Dao. Tahun keempat, ia menutup pedang dan bertapa, dua puluh tahun kemudian menciptakan jurus sakti "Pedang Terbalik Cahaya", lalu keluar pertapaan, menyeberangi lautan seorang diri untuk membantai pemimpin Pulau Iblis yang berkekuatan tingkat enam Dao, padahal ia sendiri baru tingkat tiga. Namanya pun semakin harum, dan saat itu usianya bahkan belum seratus tahun.
Setelah itu, entah karena apa, ia kembali menutup diri. Dua ratus tahun berlalu tanpa kabar. Namun, ia dijuluki murid terhebat dalam seribu tahun terakhir, selain Penatua Dewa Penyegel, hingga mendapat gelar Penatua Dewa Pedang dari Gerbang Abadi.
Liu Yi Feng menambahkan, "Lukisan ini dibuat Penatua Dewa Pedang saat beliau mendapat pencerahan di Tebing Pengamat Laut. Selama lebih dari dua ratus tahun, para murid telah mencoba memahaminya, tapi tak ada yang mendapat pencerahan, sehingga dianggap hanya lukisan biasa. Lalu saat kami bertujuh mendirikan Balai Tujuh Pedang, Balai Pedang memberikan lukisan ini kepada kami."
Lin Feng merasa lukisan ini jelas tak sederhana, semua yang ia lihat tadi bukan sekadar ilusi. Jika lukisan ini memang dibuat saat Penatua Dewa Pedang mendapat pencerahan, pasti menyimpan rahasia besar. Mungkin para murid lain tak mampu menembus makna lukisan karena belum cukup layak dan belum mendapat kesempatan. Lin Feng pun tergoda untuk berlama-lama menatap lukisan itu.
Dulu Penatua Dewa Pedang bisa mendapat pencerahan dan menembus Dao, jika ia bisa memperoleh sedikit saja pemahaman dari lukisan itu, pasti akan sangat berguna bagi peningkatan kekuatannya. Dua tokoh besar yang ia kenal, keduanya luar biasa dan mampu menantang atau mengalahkan lawan jauh di atas mereka. Satu adalah Penatua Dewa Penyegel, satu lagi Penatua Dewa Pedang.
Namun tujuan utama Lin Feng ke sini bukan untuk melihat lukisan, melainkan mencari Adik Qin Yu, berusaha mendapatkan kristal aura elemen api darinya. Penatua Dewa Pedang butuh dua puluh tahun untuk mendapat pencerahan, Lin Feng sendiri tak sekhusyuk itu—jangan dua puluh tahun, dua ratus tahun pun ia tak akan sampai ke tingkat sang penatua.
Lebih baik selesaikan urusan utama dulu. Lin Feng menenangkan diri, membungkuk ringan, "Kedatanganku hari ini tak lain hanya ingin bertemu Adik Qin, ada urusan penting yang ingin kubicarakan. Apakah beliau sedang berada di Balai Tujuh Pedang?"