Bab Tiga Puluh: Lautan Darah, Tanpa Ujung, Cacat Langit, dan Bumi Layu (Bagian Ketiga Telah Tiba)

Mencapai Keabadian Si Pemalas dari Gusu 3179kata 2026-03-04 17:37:11

Selama masa promosi kategori, akan ada tiga bab per hari.
--------------------------------
Pertemuan besar itu berakhir dengan terburu-buru, dan pada akhirnya hanya Lin Feng yang menjadi pemenang. Sosok yang dulu pernah menjadi buah bibir sebagai 'Anak Setan Racun' itu kembali menjadi pusat perhatian para murid luar. Namun, yang diingat orang-orang hanyalah usianya yang muda dan kebengisannya.

Beberapa hari terakhir, hidup Lin Feng berjalan tenang. Tiga hari telah berlalu sejak berakhirnya Turnamen Bela Diri. Ia dan Tuan Harimau belum segera kembali ke Puncak Pil, melainkan memilih kembali ke Aula Tujuh Pedang. Menurut Lin Feng, ia ingin lebih banyak berinteraksi dengan Adik Qin Yu, membina hubungan baik. Walaupun alasan itu terdengar licik dan tak tahu malu, bahkan baginya sendiri.

Hari ini adalah hari kedatangan hadiah dari bagian dalam perguruan. Seluruh anggota Aula Tujuh Pedang tampak sibuk, seolah hendak mengadakan upacara penyambutan yang meriah untuk Lin Feng. Namun, Lin Feng sendiri sangat membenci segala macam formalitas, sehingga ia lebih memilih segala sesuatu dilakukan sesederhana mungkin.

Untuk urusan penyambutan kakak seperguruan dari bagian dalam, Lin Feng pun enggan turun tangan. Lebih baik menyerahkan hal ini pada Harimau Putih, penjaga roh Puncak Pil yang sangat dihormati. Kehadirannya justru dapat menunjukkan rasa hormat terhadap murid bagian dalam.

Isi dari "Kitab Pil" amat luas dan mendalam. Dalam beberapa hari ini, Lin Feng terus mempelajari dan menelaahnya dengan sungguh-sungguh, terutama pada bagian Tiga Sembilan Penguatan Jiwa, yang kini mulai ia latih. Namun, ilmu rahasia seperti ini sangat sulit di awal, dan Lin Feng belum menemukan cara yang tepat. Untuk benda yang disebut 'piring' itu pun ia biarkan begitu saja. Menurutnya, berlatih seni bela diri tidak semudah itu, kuncinya tetap pada bakat dan pemahaman diri sendiri.

"Lupakan saja, lebih baik aku pergi mengamati lukisan itu." Lin Feng bangkit meninggalkan tempat pertapaannya. Di perjalanan, para murid Aula Tujuh Pedang dengan sopan menyingkir, seolah telah menganggapnya setara dengan tujuh kepala aula.

"Sekali tercerahkan, langsung mencapai pencerahan sejati. Bagaimana sesungguhnya Penatua Dewa Pedang zaman dulu memahami makna pedang? Dua puluh tahun bermeditasi di Tebing Pengamat Laut, betapa besar tekad dan keberanian yang dibutuhkan." Lin Feng mengagumi kebijaksanaan dan tekad para pendahulu, sambil merenungkan kekurangan dirinya sendiri.

Aula Pedang tampak kosong, hanya ada sebuah lukisan yang tergantung tinggi di dinding. Lin Feng memusatkan pikiran, memperluas kekuatan batinnya ke permukaan lukisan. Meskipun niat membunuhnya tidak begitu kuat, namun sudah mampu menimbulkan resonansi dengan lukisan itu.

Lukisan itu kembali menampakkan lautan luas tanpa batas, ombak biru bergelombang. Di ujung lautan, mentari pagi mulai menyembul, memancarkan sinar kuning keemasan. Seorang pria berwajah tegas berdiri di tepi tebing, entah menatap lautan atau menyongsong sang surya.

Waktu berlalu perlahan, matahari sudah separuh terbit, suhu di sekeliling pun seolah meningkat. Suasana menjadi hangat. Saat itu, pria dalam lukisan perlahan mengangkat lengan kanannya, menunjuk ke depan dengan telunjuk. Di ujung jarinya tiba-tiba muncul cahaya samar.

Pikiran Lin Feng tiba-tiba bergetar hebat. Cahaya di ujung jari itu tak begitu terang, sangat redup, seolah hembusan angin saja sudah bisa memadamkannya. Namun, yang dirasakan Lin Feng adalah ketakutan luar biasa. Seakan-akan bila ia menyentuh cahaya itu, tubuhnya akan meleleh dan lenyap dari dunia.

Ketakutan yang menembus jiwa ini jauh lebih kuat dibanding saat ia bertemu cahaya pedang di Gunung Sepuluh Ribu Binatang. Dulu ia masih bisa berjuang, sekarang bahkan keinginan untuk melawan pun tak ada.

Matahari terus naik, cahaya di ujung jari semakin terang. Sebuah kekuatan besar menahan pikiran Lin Feng, dan kekuatan itu berasal dari ujung jari tersebut.

"Hancur." Satu kata meluncur dari mulut pria itu.

Mendadak pandangan Lin Feng menghitam, dahinya terasa nyeri menusuk, dan ia pun terbangun dari ilusi.

"Mengerikan sekali, sebenarnya apa lukisan ini?" Lin Feng bermandikan keringat. Pemandangan barusan terasa sangat nyata, sampai-sampai pikirannya tak bisa bergerak.

Terpikir soal kekuatan batin, Lin Feng segera memusatkan perhatian dan terkejut: kekuatan batinnya benar-benar hancur, terpecah menjadi empat belas butiran kecil. Tiga belas di antaranya mengelilingi satu butiran utama, terhubung erat satu sama lain.

Satu pikiran utama dengan tiga belas pikiran pendukung.

"Apa yang terjadi? Apa aku benar-benar terkena jebakan tadi?" Lin Feng tak tahu apakah kehancuran pikiran ini baik atau buruk, tapi ia sadar lukisan itu memang menyimpan kekuatan luar biasa.

"Apakah aku masih bisa menggunakan kekuatan batin?" Dengan satu niat, dunia di sekelilingnya tiba-tiba tampak jauh lebih jelas. Ia merasa seolah memiliki dua belas pasang mata tambahan. Bayangan roh hewan buas seperti harimau, bangau, ular piton, serigala, kera, macan tutul, dan singa muncul di sekitarnya.

"Aduh, ini benar-benar untung di tengah malapetaka." Lin Feng menarik kembali kekuatan batinnya, memandang lukisan itu dengan penuh semangat.

"Hahaha... luar biasa, luar biasa! Hari ini aku, Tuan Harimau, benar-benar tampil gagah, bukan?" Tiba-tiba terdengar suara keras Harimau Putih dari luar, menandakan murid bagian dalam sudah pergi.

Harimau Putih melompat masuk ke aula pedang, diikuti tujuh kepala aula dan sepuluh murid. Mereka membawa sepuluh baki, yang berisi hadiah peringkat sepuluh besar turnamen bela diri.

"Selamat, Adik Lin! Kali ini kau dapat hadiah besar. Tadi banyak kakak seperguruan tingkat tinggi dari ranah Tiga Bunga yang mengintip di luar. Bahkan beberapa ingin menitipkan salam lewat aku." Liu Yifeng tampak bersemangat hari ini. Ia baru di awal ranah Tiga Bunga, biasanya para kakak seperguruan tingkat tinggi itu tak pernah meliriknya, tapi hari ini malah ingin menjalin hubungan baik dengannya.

"Buka kain sutra itu, biar Kakak Lin melihat langsung." Liu Yifeng mengibaskan tangan, sepuluh hembusan angin lembut membuat kain-kain sutra itu terlepas sendiri. Terlihat ia sudah sangat terampil mengendalikan energi, bahkan jauh melebihi Lin Feng.

Lin Feng maju ke depan, memandang sekilas ke seluruh baki. Empat senjata sakti semuanya berupa pedang. Pedang pertama tampak sederhana, ukirannya penuh bunga dan rerumputan, dengan binatang kecil unik yang tersembunyi di antaranya, sangat indah. Saat pedang itu dihunus, seluruh aula langsung diselimuti hawa dingin.

Pada badan pedang terukir dua aksara: "Lautan Darah".

"Pedang ini diciptakan untuk membunuh, karenanya dinamakan Lautan Darah." Lin Feng membaca keterangan kecil di sampingnya.

Pedang sakti kedua bernama Tanpa Mata. Sesuai namanya, pedang ini benar-benar tak memiliki mata pedang, hanya terasa aura kokoh dan berat saat digenggam.

"Pedang berat tanpa mata, tak ada yang tak bisa ditaklukkan."

Pedang sakti tingkat menengah ketiga bernama Langit Cacat. Pada bagian ujungnya terdapat lekukan-lekukan seperti gigi yang membuatnya tampak cacat sejak lahir, namun tubuh pedang memancarkan aura tajam yang sangat menusuk.

"Langit Cacat muncul, siapa berani bersaing?" Lin Feng geli sendiri. Para pandai besi ini sepertinya agak aneh pikirannya, pedang sakti tingkat menengah saja sudah berani mengumbar janji besar.

Pedang sakti tingkat rendah terakhir bernama Bumi Bunga Matahari, pedang yang tampak sangat biasa.

"Aku membuat senjata selama lima tahun, hasilnya lumayan, namun kemampuanku terbatas, hanya mampu menempa pedang sakti tak sempurna, terpaksa dimasukkan dalam kategori tingkat rendah. Sungguh disayangkan!"

"Orang ini setidaknya tahu diri." Lin Feng mengembalikan pedang Bumi Bunga Matahari ke baki.

"Hehe, pandai besi ini pasti akan jadi tokoh luar biasa di masa depan. Lima tahun sudah bisa mencapai hasil begini, benar-benar jenius. Kelak, dalam beberapa dekade, dunia pengrajin senjata pasti akan melahirkan seorang raja baru." Liu Yifeng berujar penuh makna.

"Oh, menempa senjata itu sulit, ya?" Lin Feng sendiri tak paham prinsip menempa senjata, jadi tak merasa itu sulit.

"Adik Lin, menurutmu membuat pil itu mudah?"

Mendengar pertanyaan balik itu, Lin Feng langsung paham.

"Kakak Liu, tahu berapa banyak pil yang diberikan sekte kali ini?" Lin Feng sendiri tak terlalu peduli pada pil, sebanyak apa pun tak akan habis dipakai.

"Total ada empat butir Pil Roh Ungu, tujuh butir Pil Lima Unsur, dua puluh lima butir Pil Penguat Energi." Liu Yifeng menambahkan, "Pil Roh Ungu untuk murid-murid ranah Tiga Bunga. Biasanya, saat mencapai dua bunga, cukup minum satu butir lalu berdiam diri beberapa hari, langsung bisa naik ke puncak ranah Tiga Bunga, menghemat setidaknya sepuluh tahun latihan. Pil Lima Unsur untuk murid ranah Lima Energi dan puncak ranah Tertinggi."

"Bagi murid puncak ranah Tertinggi, menelan satu Pil Lima Unsur dapat meningkatkan peluang menembus ke ranah berikutnya hingga tujuh puluh persen. Sedangkan murid ranah Lima Energi, dengan satu pil bisa langsung membangkitkan satu energi dalam lima organ dalam. Jika beruntung dan dasar kuat, bisa bangkit dua energi sekaligus. Jika dikonsumsi saat puncak, menembus ke ranah Tiga Bunga pun akan terasa mudah."

"Adapun Pil Penguat Energi, semua murid sebelum ranah Kondensasi Energi boleh mengonsumsinya. Satu butir bisa menghemat tiga bulan sampai satu tahun latihan."

Lin Feng berpikir sejenak, lalu berkata ringan, "Sepertinya aku masih akan sedikit lama tinggal di Aula Tujuh Pedang. Tujuh Pil Lima Unsur kuberikan enam butir untuk enam kepala aula ranah Lima Energi. Dua puluh lima Pil Penguat Energi kuminta tolong Kakak Besar aula sampaikan pada Adik Qin Yu. Selain itu, mohon Kakak Besar aula juga sampaikan satu Pil Roh Ungu untuk Kakak Wang Kun dari Akademi Pedang, satu lagi untuk Kakak Feng Tianyuan dari kelompok petarung independen. Dua Pil Roh Ungu sisanya akan kusimpan dulu, siapa tahu nanti sangat berguna. Satu Pil Lima Unsur yang tersisa, Kakak Liu, bisa bantu tukarkan ke Pil Penguat Energi?"

"Adik Lin, benarkah kau serius dengan keputusan tadi?" Suara Liu Yifeng sampai bergetar.

Melihat ekspresi ketujuh orang itu, Lin Feng tahu mereka benar-benar tak percaya ia bisa dengan mudah membagikan enam Pil Lima Unsur kepada mereka.

"Tentu saja. Ke depannya aku akan sering merepotkan para kakak."

"Kalau begitu, Pil Lima Unsur terakhir akan aku ambil. Beri aku tiga hari, akan kucoba kumpulkan seratus Pil Penguat Energi untuk ditukar, bagaimana?"

"Seratus butir?" Lin Feng agak terkejut.

Wajah Liu Yifeng seketika memerah. Ia berniat menjelaskan kalau itu sudah jumlah maksimal yang ia bisa kumpulkan, dan bila dibandingkan dengan harga di luar, tidak terlalu rugi. Namun, Lin Feng langsung menimpali,

"Sebanyak itu? Kukira paling banyak cuma bisa tukar dua puluh butir saja. Baiklah, aku terima tawaranmu."