Mekarnya Bunga Ketiga
Setelah pelajaran olahraga pagi usai, waktu istirahat masih tersisa sepuluh menit. Zhang Ning sendirian berjalan ke jembatan kecil di belakang sekolah, menatap bebatuan bulat di dasar sungai yang jernih, sementara bulu-bulu halus dari pohon willow beterbangan di tepi sungai. Ia teringat ucapan Nenek Wu padanya, bahwa ibunya kembali sering terbangun di tengah malam, terjaga hingga fajar karena sulit tidur. Kerinduan ibunya pada ayahnya sudah terukir dalam-dalam, dan selama delapan tahun ini telah tumpah seluruhnya. Zhang Ning mengerutkan kening, bingung harus bagaimana supaya bisa mendapat kabar tentang ayahnya.
Ketua klub kaligrafi, Qu Tingting, yang sedang memeluk buku matematika, mendekati Zhang Ning. Melihat Zhang Ning yang sedang berwajah muram dan keningnya berkerut, ia pun tertegun. Si jenius yang nilai hampir semua mata pelajarannya nyaris sempurna ini ternyata juga punya masalah yang membebaninya. Rupanya siapapun tak bisa lepas dari kegundahan. “Ketua, kau tak apa-apa?” tanyanya pelan dengan hati-hati.
Zhang Ning menoleh, melihat Qu Tingting, segera melonggarkan kerutan di keningnya dan tersenyum tipis, “Ketua, ada perlu apa mencariku?”
“Tak usah panggil aku ketua, panggil saja Qu Tingting. Aku murid seni rupa dari kelas 2A. Aku ingin minta bantuanmu mengajari dua soal ini, aku benar-benar tak mengerti. Nilai matematikaku buruk, aku takut nilainya tak cukup untuk pelajaran wajib.” Ucapnya sambil menunjuk soal di bukunya, wajahnya memerah malu.
“Baik, kakak juga jangan panggil aku ketua, nanti aku malah tertekan. Panggil saja Zhang Ning atau adik kelas,” kata Zhang Ning setelah melihat soal dan menatap Qu Tingting yang malu-malu itu.
“Baiklah! Kalau begitu, adik, kau mau mengajariku?” Qu Tingting mengangguk mantap dan bertanya lirih.
“Tentu saja. Aku akan jelaskan dasarnya dulu, karena waktunya terbatas. Untuk langkah-langkah penyelesaian, nanti saat istirahat pelajaran berikutnya akan kutuliskan untukmu, boleh?” tanya Zhang Ning setelah melihat soal di buku.
“Oh, boleh, boleh! Terima kasih banyak!”
“Sama-sama!”
Masa remaja selalu dipenuhi kebingungan, kebingungan seperti berdiri di bawah sinar matahari yang redup, memandang dunia yang tampak kelabu, tanpa warna lain yang mencolok. Qu Tingting tenggelam dalam penjelasan menarik Zhang Ning, dan di tengah kebingungan itu, setitik cahaya menyusup masuk.
Ia pun merasa tercerahkan, tersenyum bahagia dan mengangguk, “Akhirnya aku mengerti. Terima kasih, terima kasih banyak.”
Saking senangnya, ia memeluk Zhang Ning, yang tiba-tiba berkata, “Nanti akan kucarikan soal serupa untukmu. Kalau kau bisa mengerjakannya, berarti kau benar-benar sudah paham. Ayo kembali ke kelas, sebentar lagi pelajaran dimulai.”
“Eh, masih harus mengerjakan soal?” Qu Tingting langsung melepas pelukan, mengerucutkan bibir dan menunduk, mengikuti Zhang Ning dari belakang, dan cahaya itu pun kembali meredup.
“Belajar memang harus sungguh-sungguh hingga tuntas, baru bisa benar-benar memahami. Jangan takut, kesulitan pasti kalah di hadapan keberanian,” ujar Zhang Ning sambil berjalan di jalan setapak sekolah, melihat Qu Tingting yang masih memeluk buku dengan wajah sendu.
“Huh, iya, tak takut kesulitan, tak takut gagal, tak takut kecewa,” sahut Qu Tingting sambil tertawa, dan wajah sedihnya pun lenyap seketika.
“Kalau begitu, aku kembali ke kelas dulu, ya. Sampai jumpa,” kata Zhang Ning sambil tersenyum dan berjalan menuju gedung kelasnya.
“Iya, sampai jumpa!” Qu Tingting melambaikan tangan, melihat Zhang Ning menaiki tangga, lalu berbalik dan bersenandung kecil menuju gedung kelas lain.
“Menik, kau sudah masuk klub belum? Aku dan Ying Jin masuk klub basket,” tanya Xiang Yiyang sambil memegang formulir pendaftaran, kepada Zhang Ning yang baru masuk kelas.
“Aku tahu, aku masuk klub kaligrafi,” jawab Zhang Ning sambil duduk dan mengeluarkan buku pelajaran dari tas.
“Kau sendiri, Yu An?” tanya Xiang Yiyang lagi pada Yu An yang sedang membaca.
“Dia ikut klub fotografi,” jawab Zhang Ning.
Yu An mengangkat kepala, memandang belakang kepala Zhang Ning, dan berkata, “Ya, aku ikut klub fotografi.”