Lan An Sembilan

Taman Bintang Satu Mil Mimpi 1221kata 2026-03-05 18:17:01

Huang Chengcheng membawa seikat bunga mawar di tangannya, mendorong pintu kamar rumah sakit, meletakkan bunga itu dengan hati-hati, lalu duduk di kursi di samping ranjang. Ia memandang Lan An yang kemarin baru saja dipindahkan dari ruang ICU ke kamar perawatan biasa, lalu mengambil kapas dari samping untuk membasahi bibirnya yang kering dan pucat. Ia mengeluarkan sebuah kantong keberuntungan dari tasnya dan meletakkannya di dekat bantal kepala Lan An.

Kantong itu ia dapatkan dengan berdoa di sebuah kuil di Kota Gunung Qiang sejak pagi-pagi sekali. Ia tidak tahu lagi, di dunia ini, apa yang bisa ia pinta, dan kepada siapa ia harus memohon? Maka ia hanya menyerahkan harapannya pada langit.

Hingga seberkas cahaya matahari pertama menembus jendela, barulah ia tersadar bahwa ia harus pergi. Huang Chengcheng membetulkan selimut Lan An, memandang lekat-lekat wajahnya yang masih tertidur lelap, lalu berbisik, "Kamu harus bangun. Harus selamat."

Di bengkel mobil, Wei Liqiu yang tengah memperbaiki mobil melihat jam tangannya, baru teringat bahwa di rumah sakit masih ada pasien yang ada hubungannya dengannya. Ia harus menunggu gadis itu sadar, lalu memintanya mengembalikan uang. Sudah lebih dari sepuluh hari di ICU, biaya itu harus diganti, bagaimanapun ia masih harus menggaji karyawan. Ia berpikir, lebih baik selesaikan perbaikan lalu pergi ke rumah sakit.

Saat ia mengayuh sepeda ke rumah sakit, waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Ia membawa sarapan dan melangkah cepat menuju kamar tempat gadis itu dirawat.

Begitu membuka pintu kamar yang hanya dipenuhi suara mesin medis, ia melangkah perlahan ke sisi ranjang, menunduk memandang sang gadis, lalu mengerucutkan bibir dan berkata, "Kasihan sekali, cepatlah bangun dan bela dirimu sendiri."

Wei Liqiu melihat bunga mawar merah muda di atas meja, matanya langsung berbinar. Ia mengambil bunga itu, menemukan sebuah kartu bank dengan catatan sandi tersembunyi di dalamnya. Jantungnya berdebar keras, buru-buru membuka kertas kecil bertuliskan sandi di baliknya. Ia memasukkan kartu bank itu ke dalam sakunya. Ia duduk sebentar, memandangi Lan An, kemudian beralih memandang bunga mawar itu. "Gadis kecil, sebenarnya siapa sih kamu? Nanti kalau kau sudah bangun, akan kukembalikan semua ini padamu."

Baru saja ia selesai berbicara, beberapa dokter masuk untuk memeriksa pasien.

"Selamat pagi, Dokter. Sudah sarapan belum?" katanya sambil menyerahkan roti yang sudah ia gigit ke dokter muda berkacamata hitam yang berwajah tenang di depan.

Dokter muda itu memasang ekspresi jijik dan memalingkan wajah. Ia mengetuk kepala Wei Liqiu dengan buku catatan medis. "Jangan ganggu, minggir sana, pembawa sial~" Ucapan dua kata terakhir ia panjangkan dengan sengaja.

"Huh, padahal aku sudah bawa sarapan untukmu." Wei Liqiu berjalan ke kursi di dekat meja bundar kecil, duduk dengan dongkol sambil mengunyah roti isi bawang bombay.

Di ruang kantor, dokter muda itu duduk di hadapannya, meneguk air dari gelas termos sebelum bicara. "Dia seharusnya akan segera sadar."

Wei Liqiu hanya mengangguk, menatapnya tanpa bicara. "Ada lagi yang mau kau bicarakan padaku?"

"Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk lebih hati-hati. Dengan kejadian seperti ini, apa kau tidak mencurigai latar belakang gadis itu? Tertembak, lho." Suara dokter itu tiba-tiba dipelankan.

"Tentu saja, aku malah lebih peka soal begini daripada kamu," jawab Wei Liqiu.

"Kalau begitu, pergilah, jangan lupa perbaiki motorku. Aku mau mulai kerja," kata dokter itu sambil melambaikan tangan, menyuruhnya cepat pergi.

"Baik, aku pergi sekarang." Wei Liqiu berdiri malas dan melangkah ke luar.

"Menyesal, kan? Andai dulu kau masuk universitas yang sama denganku, atau universitas lain pun, semua ini pasti takkan terjadi," ujar dokter itu sambil mengetik di depan komputer.

Wei Liqiu sempat terhenti sejenak di pintu, lalu menjawab tidak menyesal, dan menutup pintu.

"Kau tahu, aku sangat tidak suka padamu. Bagaimana, suka dengan pria yang aku kenalkan padamu itu?" Hua Jian menatap Zhang Ning dengan jijik, tangannya menepuk bahu Zhang Ning.

Zhang Ning menyingkirkan tangan Hua Jian dari bahunya, lalu berkata dingin, "Kau seperti orang gila."

Hua Jian memandang punggung Zhang Ning yang menjauh dengan wajah merah padam karena marah.