Salju Musim Semi Bagian Sebelas

Taman Bintang Satu Mil Mimpi 1224kata 2026-03-05 18:16:04

Ponsel di dalam saku bergetar hebat, seolah-olah jika tidak segera direspons akan hancur berkeping-keping. Alis Zhang Ning yang panjang berkerut rapat saat ia melihat pesan-pesan yang terus-menerus menandainya di grup obrolan "Geng Gila Ilmu".

“Gila, Zhang Ning si dewi pelajar pindah ke Kota Kecil Qiangshan! Tempat itu kan melahirkan banyak ilmuwan jenius! Astaga!”
“Jangan-jangan nanti dia juga seperti beberapa jenius lain, akhirnya malah memilih jadi pertapa? Soalnya dia memang agak dingin orangnya.”
“Urus saja urusanmu sendiri! Kita ini memang teman setimnya, tapi juga lawan! Jangan lupa itu.”
“Di lingkungan tempat dia tinggal, banyak pensiunan akademisi dan profesor. Latar belakang mereka luar biasa, memang beda!”
“Jelaslah! Bukankah neneknya semasa hidup juga profesor matematika yang sudah pensiun?”
“Sial, aku juga tinggal di Qiangshan, kok nggak pernah lihat dia?”
“Pasti dia masuk SMA terbaik di Distrik Xingfeng, biaya sekolahnya saja sudah bikin melongo.”

Pesan-pesan itu bermunculan di layar, namun Zhang Ning hanya membaca beberapa dan segera mematikan ponselnya.

Beberapa orang berkumpul di dekat minimarket, merokok sambil sesekali melirik ke arah mereka. Yu An memperhatikan sorot mata mereka yang tampak menyimpan sedikit kebencian, lalu melirik ke arah toko kue, merasa firasat buruk menghampiri.

Meng Linyu sedang menunduk, sibuk membalas pesan dengan alis berkerut, hingga tak menyadari sudah melangkahi zebra cross. Lampu merah menyala saat ia hendak menyeberang, namun Zhang Ning segera menariknya.

“Lihat jalan, dong!” seru Zhang Ning dengan nada agak kesal.
“Oh iya, iya! Ada urusan di kantor, Mama harus urus sebentar.” jawab Meng Linyu terburu-buru, lalu matanya kembali tertuju pada ponsel.

“Biar aku saja yang bawa, Tante gandeng saja tangan Mama.” kata Yu An sambil mengulurkan tangan, bermaksud mengambil kotak kue dari tangan Zhang Ning.

Sesampainya di rumah, mereka langsung melihat seorang wanita berbalut mantel dan rok musim dingin duduk santai di samping meja, menyesap teh perlahan. Begitu melihat mereka, ia berdiri, sepatu hak tingginya beradu lantai, menimbulkan suara “tak tak”.

“Mama, kok Mama ke sini?” sapa Zhang Ning.
“Halo, Tante!” sapa Yu An.

“Wah, orang sibuk ternyata masih sempat jalan-jalan, ya? Malah ngajak anak saya pula! Diajakin saya belanja malah cuek, huff, nyebelin!” Wanita itu melangkah ke arah Meng Linyu, pura-pura merengut dan menepuk pundaknya.

Meng Linyu merentangkan tangan hendak memeluknya, namun wanita itu dengan lincah menghindar lalu langsung memeluk Zhang Ning.

“Tante kangen banget, Ning Ning!” katanya sambil memeluk Zhang Ning erat dan tersenyum gembira.

Zhang Ning menghela napas pelan, lalu tersenyum seadanya, “Tentu saja, Tante, aku juga kangen.”

“Iya? Kalau begitu sini cium pipi Tante.” katanya sambil mencium pipi Zhang Ning, lalu melirik Meng Linyu yang cemberut, “Tuh, aku sudah cium putrimu!”

“Kalau begitu aku juga mau cium anakmu!” balas Meng Linyu sambil melangkah maju, namun hanya pura-pura sebelum kembali melihat mereka.

Yu An menaruh kue di meja, menyaksikan pemandangan itu sambil menahan tawa.

“Nenek Lan sudah menyiapkan cokelat panas menunggu kalian pulang. Wah, tambah kue pasti makin nikmat. Anak-anak, cepat sini, kita minum teh sore!” kata Nenek Wu sambil membawa teko teh dan beberapa piring kudapan ke meja.

Zhang Ning yang baru keluar dari kamar mandi segera membantu menata makanan. Saat mengeluarkan kue, ia menemukan sebuah cincin di dalam tas. Ia mengamatinya sejenak, mengenali itu sebagai cincin yang biasa dipakai Lin Xiufang, lalu diam-diam memasukkannya ke saku baju.

“Tante Wu, duduklah.” kata Meng Linyu sambil menarik kursi dan membantu Nenek Wu duduk. Ia lalu memanggil Yu An yang tengah mengobrol dengan ibunya, “An-An, sini, ayo makan!”

“Iya, Tante, sebentar,” sahut Yu An.