Bab 13: Munculnya Bintang di Shanggui
Tahun 122 SM, kota Shanggui terasa seolah dimasukkan ke dalam pengukus raksasa. Matahari terik menggantung tinggi, menyiramkan panas yang membakar tanpa penghalang, seakan ingin melelehkan bumi di bawah kaki. Pada tahun ini, Zhao Chongguo genap berusia lima belas tahun. Di kampung halamannya, Shanggui, ajang bela diri tahunan akan segera dibuka dengan megah. Pertandingan ini bukanlah acara biasa; ini adalah panggung utama bagi para pemuda untuk memamerkan keahlian bela diri mereka, sekaligus menjadi kesempatan krusial untuk menyeleksi prajurit baru bagi kota Shanggui. Seiring mendekatnya hari perlombaan, seluruh kota tenggelam dalam atmosfer yang hangat dan meriah. Penduduk dari desa-desa sekitar, dengan hati penuh harap, mengalir masuk ke lapangan latihan kota layaknya gelombang air yang tiada henti.
Standar seleksi ajang bela diri kali ini sangat ketat. Dalam cabang panahan berkuda, peserta harus membidik sasaran bergerak tepat di tengah dalam waktu yang ditentukan saat menunggang kuda yang melaju secepat kilat. Sasaran tersebut dibagi secara cermat ke dalam berbagai zona dengan poin yang berbeda-beda; hanya mereka yang mencapai skor tertentu yang berhak melaju ke babak berikutnya. Dalam sesi pertarungan senjata, para peserta tidak hanya dituntut menunjukkan teknik bela diri yang luar biasa, tetapi juga dinilai berdasarkan kemampuan adaptasi dan taktik dalam menghadapi situasi yang berubah secara instan. Para juri akan memberikan nilai secara mendetail dari berbagai aspek, seperti kekuatan serangan, teknik pertahanan, hingga koordinasi gerakan.
Setelah mendengar kabar tersebut, darah dalam diri Zhao Chongguo mendidih seketika. Ia sangat mendambakan untuk membuktikan kekuatannya di ajang ini. Sejak saat itu, ia berlatih dengan lebih keras. Sebelum fajar menyingsing, saat seluruh kota masih terlelap dan sunyi senyap, Zhao Chongguo sudah bangkit dan melangkah terburu-buru menuju tempat latihan. Cahaya bulan yang dingin menyinari tubuhnya, membentuk siluet yang tangguh dan tegas. Ia berlatih panahan berkuda berulang kali, menyesuaikan sudut dan kekuatan busurnya. Setiap kali menarik busur, otot-otot di lengannya menegang, seolah memusatkan seluruh kekuatan tubuh ke dalam satu anak panah tersebut. Ia mengayunkan tombak dengan konsentrasi penuh, meneliti setiap titik kekuatan dan kesinambungan jurus. Tombak itu berdesing di tangannya seolah-olah memiliki nyawa.
Lebih dari itu, Zhao Chongguo paham bahwa untuk menjadi talenta militer yang unggul, mengandalkan panahan berkuda dan teknik senjata saja tidak cukup. Oleh karena itu, ia mulai berkeliling mencari ilmu, terjun langsung mendalami teknik rekayasa militer dan pertahanan. Suatu hari, ia dengan penuh hormat mendatangi kediaman seorang pengrajin tua di kota.
"Tuan tua, saya mendengar Anda pernah berpartisipasi dalam pembangunan benteng pertahanan di perbatasan. Bisakah Anda mengajari saya rahasianya?" tanya Zhao Chongguo dengan sopan, matanya penuh harap.
Pengrajin tua itu mengelus janggutnya, matanya memancarkan kebijaksanaan yang terasah oleh waktu, lalu berkata perlahan: "Dalam membangun benteng pertahanan, pemilihan lokasi adalah yang terpenting. Harus dipilih tempat dengan medan yang curam dan berbahaya, sehingga bisa melihat pergerakan musuh dari ketinggian sekaligus memudahkan pertahanan dan serangan balik. Selain itu, ketebalan dan tinggi tembok, serta kedalaman dan lebar parit, semuanya memiliki aturan ketat. Tembok yang tebal dapat menahan alat pengepung musuh; yang tinggi membuat musuh sulit memanjat. Parit yang dalam dan lebar membuat kavaleri musuh sulit mendekati tembok dengan cepat. Semua ini harus ditentukan berdasarkan medan dan karakteristik musuh."
Zhao Chongguo mendengarkan dengan saksama tanpa berkedip, bahkan sesekali mengajukan pertanyaan: "Lalu bagaimana jika menghadapi medan yang datar?" Pengrajin tua itu menjawab dengan sabar: "Maka harus mengandalkan parit dan rintangan seperti 'tanduk rusa' (kawat berduri kayu). Galilah banyak parit di luar kota dan tanamlah rintangan tajam untuk memperlambat laju serangan musuh." Setelah itu, Zhao Chongguo sering mengunjungi lokasi konstruksi, mengamati para pengrajin membangun tembok, belajar cara memadatkan fondasi dan menumpuk batu bata. Setiap langkah ia perhatikan dengan serius dan ia rekam dalam ingatannya.
Dalam hal pengumpulan dan analisis intelijen, Zhao Chongguo juga berusaha keras. Ia mencari seorang veteran yang pernah menjadi pengintai dan bertanya dengan rendah hati: "Paman, bagaimana cara mengumpulkan informasi yang akurat?"
Veteran itu meminum araknya, membasahi tenggorokan, lalu mulai bercerita: "Menjadi pengintai, pertama-tama harus belajar menyembunyikan diri agar tidak ditemukan musuh. Harus mendekat tanpa suara layaknya bayangan. Juga harus pandai mengamati; dari tata letak perkemahan musuh dan kepulan asap dapur, nilai kekuatan dan pergerakan mereka. Jika tenda musuh rapi dan asap dapur stabil, berarti pasokan pangan mereka cukup dan moral tentara stabil. Jika tenda berantakan dan asap jarang, mungkin mereka kekurangan bahan makanan. Selain itu, jangan mudah percaya pada informasi sepihak, harus diverifikasi dari berbagai sumber. Terkadang musuh sengaja menyebar berita bohong untuk memancing kita."
Zhao Chongguo mengingat perkataan veteran itu dan sering berlatih simulasi misi pengintaian bersama teman-temannya, menyusuri hutan dan gunung untuk mengamati setiap gerak-gerik "musuh", guna melatih kemampuan pengumpulan dan analisis intelijennya.
Melihat putranya yang semakin kurus, sang ibu merasa iba hingga matanya memerah, dan berkali-kali membujuknya: "Chong'er, lihatlah betapa kurusnya dirimu. Istirahatlah sejenak, jangan sampai jatuh sakit karena kelelahan."
Zhao Chongguo selalu tersenyum menenangkan ibunya, senyum yang penuh keteguhan: "Ibu, aku tidak apa-apa. Ajang bela diri ini adalah kesempatan langka bagiku. Aku harus meraih prestasi yang baik agar kelak bisa membela negara dan membuat Ibu hidup berkecukupan. Saat waktunya tiba, aku akan kembali membawa kehormatan dan membuat Ibu bangga padaku."
***
Akhirnya, hari perlombaan tiba. Lapangan latihan sudah dipenuhi lautan manusia. Rakyat yang menonton bersorak-sorai, teriakan mereka seperti gelombang pasang yang datang silih berganti. Zhao Chongguo mengenakan pakaian tempur yang sederhana namun praktis, ujung bajunya melambai tertiup angin. Sambil menuntun kuda kesayangannya, ia melangkah masuk ke lapangan dengan mantap dan penuh percaya diri. Matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan, seolah menyatakan kepada semua orang bahwa ia telah bersiap sepenuhnya dan yakin akan menang.
Cabang pertama adalah panahan berkuda. Seiring aba-aba yang nyaring, Zhao Chongguo menarik napas dalam-dalam, melompat ke atas punggung kuda seperti macan tutul yang tangkas. Dengan sedikit sentuhan kakinya di perut kuda, kuda itu melesat bagai anak panah yang terlepas dari busurnya, menerbangkan debu di sekeliling. Di lapangan, Zhao Chongguo memegang busur, tubuhnya bergerak lincah di atas kuda, menari layaknya penari yang fleksibel. Saat ia hendak memanah, tiba-tiba angin kencang bertiup, menerbangkan pasir dan batu hingga mengaburkan pandangannya. Namun, Zhao Chongguo tidak panik. Berbekal latihan keras setiap hari dan insting tajam terhadap arah angin, ia segera menyesuaikan sudut busurnya. Dengan satu tarikan kuat, terdengar bunyi "swoosh", anak panah melesat dan tepat mengenai sasaran. Penonton terpukau oleh teknik panahan berkuda dan ketenangannya dalam menghadapi situasi, sorak-sorai dan tepuk tangan bergemuruh di seluruh lapangan.
"Hebat! Anak siapa dia, punya keahlian panahan berkuda yang luar biasa!" seru seorang kakek di tengah kerumunan dengan takjub.
"Kabarnya dia bernama Zhao Chongguo. Masih muda tapi sudah sehebat ini, masa depannya pasti cemerlang!" sahut penonton muda lainnya dengan tatapan penuh iri.
Setelah perlombaan panahan berkuda yang spektakuler berakhir, Zhao Chongguo berhasil menonjol di antara para peserta dan menempati posisi teratas dengan nilai yang sangat memuaskan.
Selanjutnya, perlombaan senjata yang dinanti-nantikan pun dimulai di bawah tatapan mata penonton yang penuh antusiasme. Zhao Chongguo berdiri tegak layaknya pohon pinus yang kokoh di tengah badai. Tangan kanannya menggenggam erat pedang *huanshou*, bilah pedangnya yang panjang berkilau dingin dan tajam, seolah mampu memotong besi seperti memotong tanah liat. Tangan kirinya memegang senjata unik: *gouxiang*. Senjata ini memiliki perisai persegi kecil yang kokoh dari perunggu, memancarkan kilau kuno yang berat di bawah sinar matahari. Di atas perisai itu terdapat kait melengkung yang tajam bagai bulan sabit, sementara di sisi perisai terdapat bilah horizontal pendek yang tajam seperti taring yang tersembunyi. Senjata yang memadukan pertahanan dan serangan ini seolah menyatu dengan Zhao Chongguo.
Lawan yang dihadapinya adalah pemuda yang bertubuh kekar layaknya bukit kecil. Pemuda itu mengangkat tombak panjang dengan kedua tangan, memancarkan kekuatan yang dahsyat. Saat gong berbunyi, lawannya menyerang dengan ganas bagai badai. Zhao Chongguo tetap tenang, matanya yang tajam mengunci setiap gerakan lawan. Ia menghindar dengan lincah, mencari celah untuk serangan balik.
Dalam sebuah pertukaran serangan yang sengit, lawan mencoba melakukan serangan tipuan untuk menyasar kaki Zhao Chongguo. Namun, Zhao Chongguo bereaksi secepat kilat. Ia melompat tinggi ke udara, menghindari serangan fatal tersebut, lalu dengan satu gerakan, ia meluncurkan serangan balik ke arah tenggorokan lawan. Lawan yang terkejut segera menangkis dengan tombaknya, menimbulkan bunyi benturan logam yang nyaring di seluruh lapangan.
Zhao Chongguo menyadari pertahanan lawannya sangat rapat. Ia pun berpura-pura kehilangan keseimbangan dan mundur dengan panik untuk memancing lawan. Lawan yang termakan umpan segera mengejar dengan serangan besar-besaran, namun justru membuka celah dalam pertahanannya. Zhao Chongguo memanfaatkan momen itu, berteriak lantang, lalu menggunakan *gouxiang*-nya untuk mengait dan menyingkirkan tombak lawan. Sesaat kemudian, pedangnya sudah berada tepat di depan tenggorokan lawan.
"Aku kalah!" seru lawan dengan penuh kekecewaan. Sorak-sorai penonton pecah, merayakan kemenangan Zhao Chongguo yang penuh keberanian dan kecerdasan.
Berkat penampilannya yang luar biasa, Zhao Chongguo berhasil meraih gelar juara dalam panahan berkuda dan pertarungan senjata. Meski bangga, ia tahu ini baru tujuan kecil dalam perjalanan hidupnya. Mimpinya adalah menjadi jenderal sejati yang menjaga perbatasan dan kedamaian rakyat.
Setelah ajang bela diri berakhir, Zhao Chongguo berhasil menjadi ksatria di Shanggui. Ia memulai perjalanannya untuk mengabdi pada negara. Begitu masuk ke dalam militer, ia belajar dengan haus mengenai koordinasi tim, manajemen logistik, dan strategi militer. Berbekal kemampuan bela diri, kecerdasan, dan penguasaan pengetahuan militer yang luas, ia perlahan mulai menonjol di dalam pasukan. Ia tahu jalan di depan penuh dengan duri dan tantangan, namun ia tidak takut sedikit pun. Keyakinannya pada negara bersinar terang bagai bintang di langit, mendukungnya untuk terus melangkah maju dengan gagah berani.