Bab 2 Fajar di Shangui: Kedatangan Zhao Chongguo dan Awal Mimpi
Pada pagi musim semi tahun 137 sebelum Masehi, di Shanggui, Longxi (kini Tianshui, Gansu), suasana seolah-olah baru saja dituangkan dalam sebuah lukisan segar. Di tepi Sungai Kepala Sapi, kabut tipis seperti selendang sutra masih enggan beranjak dari permukaan air, enggan sirna. Sinar matahari bagaikan peri lincah yang berjuang menembus tirai tipis itu, lalu menari di atas aliran sungai yang gemericik; seketika, permukaan air berkilauan, seolah-olah butiran emas halus melompat-lompat di sana. Dedaunan dedalu yang berjuntai di tepi sungai sudah mengeluarkan tunas-tunas muda nan hijau, ranting-rantingnya yang lentik menari lembut diterpa angin, seolah penari anggun yang sedang mengisahkan kedamaian dan kesejahteraan masa lalu tanah kuno ini.
Di tengah kegairahan musim semi yang penuh kehidupan itu, suara tangis bayi yang nyaring dan lantang tiba-tiba menggema, seperti dentang lonceng fajar yang memecah keheningan kediaman keluarga Zhao—di tengah harapan semua orang, Zhao Chongguo lahir ke dunia.
Saat itu, ayah Zhao Chongguo, Zhao Wengzhong, seorang perwira bergelar bangsawan dalam, mengenakan pakaian perang, mondar-mandir di luar rumah dengan langkah-langkah cepat dan berat. Debu dari patroli perbatasan semalam masih menempel di baju zirahnya, membentuk noda-noda kecil, laksana jejak waktu dan tanggung jawab. Meski telah berjaga semalaman dan kelelahan membanjiri tubuhnya, di matanya masih menyala harapan yang menggebu, tanpa sedikit pun terlihat lelah. Di dalam rumah, bidan tampak sibuk, sesekali terdengar suaranya, dan setiap bunyi seperti palu yang menghantam hati Zhao Wengzhong dengan keras.
"Sudah berapa lama, kenapa belum juga ada kabar pasti," gumam Zhao Wengzhong dengan dahi berkerut, matanya sesekali menatap pintu yang tertutup rapat.
Pengurus rumah tangga yang menunggu bersama di luar melangkah mendekat, menenangkan dengan suara pelan, "Tuan, nyonya pasti selamat, dan bayi laki-laki kita pasti lahir dengan sehat. Mohon tenangkan hati Anda."
Zhao Wengzhong mengangguk pelan, tapi langkahnya tetap tak bisa berhenti, mulutnya terus berbisik, "Aduh, hati ini seperti ada kelinci di dalamnya, tak bisa tenang sama sekali. Semoga anak ini selamat dan sehat."
Beberapa saat kemudian, terdengar suara lantang bidan dari dalam, "Sudah lahir, sudah lahir, bayi laki-laki yang montok!"
Jantung Zhao Wengzhong bergetar keras, langkahnya terhenti seketika, dan kedua tangan mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Akhirnya, suara tangisan yang ditunggu-tunggu itu menembus langit, dan wajah tegang Zhao Wengzhong seketika merekah senyum penuh kelegaan, seperti danau yang diterpa angin sepoi-sepoi musim semi. Ia menghela napas panjang, seakan beban berat terangkat dari pundaknya, lalu melangkah lebar masuk ke dalam rumah.
Begitu masuk, Zhao Wengzhong segera menghampiri ranjang, menatap istrinya yang tampak lemah namun tersenyum lebar, lalu menengok ke bayi mungil yang dibedong, matanya basah menahan haru, suara seraknya bergetar, "Istriku, terima kasih atas perjuanganmu. Anak ini tampan sekali, kelak pasti akan menjadi orang hebat."
Sang istri menggeleng pelan, menatap lembut anaknya, lalu berkata, "Asal dia tumbuh sehat, itu lebih dari segalanya."
Waktu berlalu tanpa terasa, tibalah tahun 136 sebelum Masehi, tepat setahun usia Zhao Chongguo. Sesuai adat istiadat Shanggui, para tetua keluarga berkumpul bersama untuk menggelar upacara "menangkap masa depan". Di ruang utama yang luas dan terang, sebuah meja kayu berukir indah penuh dengan beragam benda yang tertata rapi, bagai jamuan godaan tanpa suara. Pena, tinta, kertas, dan batu tinta berjajar, menguarkan aroma tinta tipis—simbol ilmu dan budaya—seakan memanggil jiwa-jiwa pencari pengetahuan; pedang dan pisau yang tajam berkilauan, menandakan keberanian tanpa takut; busur dan anak panah mini yang elok, garisnya halus, menyiratkan semangat kepahlawanan; tumpukan emas dan perak di samping, berkilauan memantulkan sinar matahari, menggoda penuh pesona.
Kakek buyut Zhao Chongguo, Zhao Zhongkuang, seorang bendahara istana yang setia di bawah dua pemerintahan kaisar, dikenal karena kecakapannya mengelola keuangan dan urusan rumah tangga kerajaan, menegakkan wibawa tinggi di istana. Saat itu, ia mengenakan jubah sutra abu-abu tua bersulam motif halus yang samar terlihat di bawah sinar matahari, menambah kesan khidmat. Ia duduk tegak di kursi tinggi, sorot matanya dalam, mengamati segala yang terjadi dengan penuh perhatian.
Kakek Zhao Chongguo, Zhao Sheng, yang menjabat sebagai penasehat kerajaan, terkenal akan ilmunya yang luas, kejujurannya, dan keberaniannya memberi nasihat tanpa takut. Ia berdiri di samping, mengenakan jubah sederhana, tampak anggun dan berwibawa. Sambil mengelus jenggot, matanya memancarkan harapan besar pada cucunya.
Zhao Junzhen, paman Zhao Chongguo, pernah bertugas di istana. Ia selalu dikenal berhati-hati, bertahun-tahun menjaga ketertiban istana bak pengawal setia. Namun, roda nasib berputar kejam; akibat intrik politik yang rumit, ia terpaksa pindah ke Shanggui, Longxi. Pengalaman pahit ini menjadi luka mendalam yang tak hanya mengubah tempat tinggal keluarga, tapi juga memengaruhi perjalanan keluarga mereka selanjutnya. Kini, ia berdiri di sudut ruangan, mata menyipit, bahu yang semula tegang perlahan mengendur, dan tersungging senyum tipis di wajahnya.
Zhao Sheng memandang Zhao Zhongkuang sambil tersenyum, "Ayah, hari ini hari besar bagi keluarga kita. Mari kita lihat apa yang akan dipilih cucu ini, siapa tahu itu pertanda nasibnya kelak."
Zhao Zhongkuang mengangguk pelan, matanya tetap tertuju pada meja penuh benda itu, lalu berkata perlahan, "Masa depan anak ini akan menentukan nasib keluarga kita. Biarkan ia memilih jalannya sendiri. Semoga ia bisa menempuh jalan yang membanggakan keluarga dan kejayaan Dinasti Han."
Saat itu, salah seorang bibi jauh Zhao Chongguo mendekat dan tertawa, "Anak ini kelihatan cerdas. Apa pun yang dipilihnya, pasti akan jadi orang besar. Siapa tahu kelak jadi pejabat tinggi, membawa kemuliaan bagi keluarga Zhao."
Di bawah tatapan penuh harap, Zhao Chongguo kecil diletakkan di depan meja. Matanya membulat seperti dua permata hitam, menatap penasaran ke segala hal baru di sekitarnya, tangan mungilnya melambai-lambai riang, seolah menyapa dunia dengan penuh semangat. Tiba-tiba, pandangannya terpaku pada miniatur busur dan anak panah yang indah, sangat realistis, seakan siap melesatkan panah kapan saja. Tangan kecil Zhao Chongguo langsung meraih busur itu tanpa ragu, menggenggamnya erat hingga jemarinya memerah.
Melihat pemandangan itu, seisi ruangan sempat terdiam, seolah waktu berhenti sejenak, lalu pecah oleh tawa riang semua orang.
"Anak ini pasti akan berjuang di medan perang, membela keluarga dan negara!" seru Zhao Junzhen, paman yang pertama sadar, tertawa lebar penuh harapan pada keponakannya.
Ibu Zhao Chongguo, yang duduk di samping, kekhawatirannya seketika luluh, wajahnya berseri memandang anaknya yang lucu, menahan senyum bahagia, matanya penuh kasih dan sayang, berbisik lembut, "Apa pun yang terjadi kelak, asal dia selamat, itu sudah cukup."
Zhao Sheng menimpali dengan senyum, "Anak ini memilih busur dan panah, barangkali kelak jadi jenderal handal Dinasti Han, membawa nama besar untuk keluarga. Mungkin akan berjaya di medan laga."
Zhao Wengzhong mengangguk sambil tersenyum, "Jika memang demikian, itu adalah takdirnya, dan kebanggaan bagi keluarga Zhao. Tapi medan laga penuh bahaya, semoga ia tumbuh menjadi pemberani yang cerdas dan selalu pulang dengan selamat."
Canda dan tawa memenuhi ruangan, gema harapan dan doa untuk masa depan Zhao Chongguo menggema di udara.
Keluarga Zhao tinggal di rumah empat serambi khas Longxi. Bangunannya dari kayu dan tanah, dindingnya tebal dan kokoh, seperti pengawal setia yang melindungi dari angin kencang dan dingin. Begitu memasuki halaman, tampak pelataran luas di mana sinar matahari menerangi setiap sudut, memberi kehangatan dan keceriaan pada rumah itu. Di pelataran, beberapa pot bunga yang dirawat ibu Zhao Chongguo ditata rapi; bunga peoni yang merekah indah, kelopaknya bertumpuk-tumpuk, bergoyang lembut ditiup angin seperti para bangsawan anggun yang membawa aroma semerbak memenuhi rumah; anggrek yang anggun mekar dalam keheningan, kelopaknya putih bersih laksana permata, seperti peri suci yang berdiri sendiri menambah kehangatan lembut di rumah yang maskulin itu.
Di sudut pelataran, ada meja batu kecil dan beberapa bangku sederhana. Setiap hari, keluarga sering duduk bersama di sana, menikmati masakan rumahan sambil berbagi cerita kehidupan. Mulai dari kisah lucu di ladang hingga kabar dari istana, semua menjadi bahan obrolan. Pintu dan jendela rumah dihiasi ukiran burung dan binatang yang seolah-olah hendak terbang atau berlari kapan saja; ada bunga-bunga yang tampak hidup dan harum; serta simbol-simbol keberuntungan yang menyimpan harapan akan hidup bahagia. Keterampilan ukir kayu di rumah itu luar biasa, setiap garis terasa alami seolah bernyawa, menambah nuansa khas pada rumah empat serambi kuno mereka.