Bab 8: Menonton Perang Lidah dari Seberang, Hati Penjaga Bayangan Mulai Tergugah

Luz Clara da Lua: A Transformação Sombria do Guarda Sombrio Abstinente Su Dong Qianxun 3577kata 2026-08-03 11:26:19

Di dalam paviliun air, keributan yang dipicu oleh Putri Keempat Zhao Mingzhu perlahan mereda seiring dengan campur tangan Permaisuri dan kepergian sang putri yang menahan rasa kesal, persis seperti riak air yang tenang kembali setelah dijatuhi kerikil.

Para selir dan putri lainnya saling bertukar pandang penuh arti, lalu kembali mencari topik pembicaraan. Ada yang berbincang dengan suara rendah sambil tertawa kecil, ada pula yang menyesap teh sembari menikmati pemandangan, seolah adu lidah yang tajam tadi tidak pernah terjadi. Inilah hukum bertahan hidup di dalam istana; kedamaian di permukaan selalu menjadi aturan utama, dan arus bawah yang sederas apa pun harus disembunyikan di balik ketenangan air.

Zhao Mingyue masih duduk tenang di sudut ruangan, memegang cangkir teh yang sudah mendingin. Kelopak matanya sedikit turun, menyembunyikan ekspresi yang sulit dibaca. Ia tampak kembali menjadi Putri Zhaoyang yang tidak mencolok, lembut, dan pendiam. Kata-kata yang tadi diucapkannya dengan tegas namun penuh sindiran halus, kini seolah menguap tanpa bekas, bagaikan bunga yang mekar sesaat lalu layu.

Namun, semua itu terekam jelas oleh sepasang mata yang mengamati dari atas pohon huai kuno di luar paviliun air.

Ling Xiao tetap mempertahankan posisinya, mematung seperti patung hitam yang menyatu dengan bayang-bayang pohon. Namun, batinnya jauh dari kata tenang. Adegan Zhao Mingyue menanggapi Zhao Mingzhu tadi seperti besi panas yang membakar tanda yang jelas dan mendalam pada persepsinya yang selama ini membeku.

Ia terus meresapi setiap kata yang diucapkan wanita itu.

"Kakak, tubuhku ini memang tidak berguna... aku merasa sangat bersalah." —Pertama, ia menunjukkan kelemahan untuk memancing musuh, mengakui "kekurangan" dirinya dengan jujur sehingga serangan lawan terasa seperti menghantam kapas, tidak ada tempat untuk memberikan tekanan.

"Selain memulihkan diri, hari-hariku hanya diisi dengan membaca buku kedokteran dan kitab Tao... belajar menenangkan pikiran." —Ia kemudian menyisipkan "kelebihan" dirinya, mengubah citra "sakit-sakitan" menjadi "fokus pada pengembangan diri", secara halus meningkatkan martabatnya dan menciptakan kontras dengan sikap agresif lawan.

"Martabat keluarga kekaisaran tidak hanya terletak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada ketenangan jiwa... mampu menjaga keteguhan hati di tengah kesederhanaan, dan tidak kehilangan semangat di tengah penyakit, mungkin... itu juga merupakan salah satu bentuk martabat kekaisaran, bukan?" —Akhirnya, ia mengangkat citra "sakit" dan "pendiam" yang tadinya dianggap rendah menjadi sebuah "martabat kekaisaran". Ucapannya lembut namun tajam, menjaga harga dirinya sekaligus menyindir lawan yang hanya mementingkan tampilan luar dan memiliki hati yang gelisah.

Sepanjang proses itu, bicaranya tenang, sikapnya lembut, bahkan disertai permintaan maaf dan rasa tak berdaya yang pas. Tanpa sedikit pun terlihat agresif, ia berhasil meredam situasi yang seharusnya memalukan baginya, bahkan membuat sang provokator merasa malu sendiri hingga menarik perhatian dan "penengah" dari Permaisuri.

Ini...

Di mata Ling Xiao yang telah melihat berbagai kematian dan menjadi mati rasa terhadap dunia, untuk pertama kalinya muncul emosi yang jelas: "terkejut".

Ini bukan sekadar "pandai bicara". Di dalamnya terkandung pemahaman tajam terhadap hati manusia, pengamatan jeli terhadap suasana, penggunaan kata-kata yang cerdik, serta ketenangan luar biasa saat menghadapi provokasi.

Kecerdasan dan kelicikan macam apa ini?

Pikirannya kembali tertuju pada catatan singkat di berkasnya: "Berwatak lembut dan tenang, tidak suka bersaing."

Kini, deskripsi itu terasa sangat konyol.

Lembut dan tenang mungkin benar, tetapi ia jelas bukan sosok yang lemah dan bisa ditindas. Tidak suka bersaing mungkin juga benar, tetapi itu karena ia tidak sudi, atau lebih tepatnya, ia lebih ahli menggunakan cara yang lebih tinggi dan halus untuk mencapai tujuannya, alih-alih bertindak kasar dan hanya mengandalkan lidah seperti Putri Keempat.

Ling Xiao bahkan yakin, kata-kata terakhirnya tadi tidak hanya ditujukan untuk Zhao Mingzhu, tetapi juga untuk semua orang yang mendengarkan, termasuk Permaisuri yang duduk di kursi utama. Tanpa menunjukkan emosi, ia telah menjaga dirinya sekaligus menyampaikan pesan kepada semua orang (terutama pengamat tingkat tinggi yang tersembunyi): Aku, Zhao Mingyue, tidak sesederhana yang kalian bayangkan.

Kesadaran ini meledak seperti petir di dalam pola pikirnya yang selama ini kaku dan hitam-putih.

Ia selalu mengira dirinya sedang mengawasi sosok malang yang terlupakan oleh kekaisaran, yang hanya bertahan hidup di sudut istana. Sebuah vas bunga rapuh yang hanya perlu dilindungi dari bahaya fisik.

Namun sekarang, sepertinya yang ia awasi adalah sebuah pedang lunak yang disembunyikan dengan rapi, tampak tumpul namun sebenarnya sangat tajam.

Mengapa ia harus menyembunyikannya?

Pertanyaan ini muncul begitu saja di benak Ling Xiao. Dengan kecerdasan dan watak seperti itu, jika didukung oleh keluarga atau klan ibu yang kuat, ia seharusnya bisa meraih posisi di istana ini. Namun, ia justru memilih untuk menampilkan diri sebagai sosok yang "sakit-sakitan" dan memarginalkan dirinya sendiri. Ini tidak wajar.

Apakah ini strategi perlindungan diri karena ibunya meninggal dunia lebih awal dan ia tidak memiliki sandaran? Atau... apakah ia memiliki tujuan yang lebih dalam dan tidak diketahui?

Tatapan Ling Xiao tanpa sadar kembali tertuju pada sosok yang duduk tenang di sudut ruangan itu. Sinar matahari yang menembus kisi-kisi jendela paviliun menciptakan bayangan yang berpendar di tubuhnya, membuatnya tampak samar dan semakin sulit ditebak.

Ia teringat beberapa hari lalu, saat wanita itu membungkuk untuk menyentuh permukaan jalan yang telah ia kerjakan. Saat itu ia hanya merasa sedikit heran, namun sekarang dipikir kembali, itu sama sekali bukan kebetulan! Dengan kecerdasan dan daya pengamatan yang ditunjukkannya hari ini, ia pasti telah menyadari sesuatu! Hanya saja, ia tidak bersuara, tidak menyelidiki, bahkan tidak membocorkan sepatah kata pun kepada pelayan terdekatnya, melainkan memilih... bersabar dan mengamati dalam diam?

Wanita ini... pikirannya sangat dalam hingga terasa menakutkan.

Jantung Ling Xiao, yang telah ditempa menjadi sekeras besi di ambang kematian berkali-kali, untuk pertama kalinya terasa berdegup tidak beraturan.

Ini bukan ketakutan, bukan pula pikiran yang aneh. Pelatihan di Paviliun Bayangan telah membuang emosi yang tidak berguna darinya. Ini adalah semacam getaran—seperti seorang pemain catur yang bertemu dengan lawan kuat yang tidak terduga, perpaduan antara kewaspadaan dan kegembiraan yang sulit dijelaskan.

Ya, getaran.

Tugasnya sepertinya bukan lagi sekadar menjaga gudang kosong. Yang ia jaga mungkin adalah peti harta karun yang menyimpan rahasia, atau... seekor binatang buas yang sedang tidur.

Apakah ini berarti tingkat kesulitan dan risiko tugas akan meningkat drastis?

Dahi Ling Xiao berkerut, ia mulai mengevaluasi kembali seluruh tugasnya.

Pengawasan: Harus lebih teliti. Tidak bisa lagi hanya mencatat tindakan lahiriahnya, ia harus mencoba menganalisis niat tersembunyi di balik setiap gerak-gerik kecilnya. Buku-buku yang ia baca, bunga-bunga yang ia rawat, saat-saat ia melamun... semua ini mungkin tidak sesederhana kelihatannya.

Perlindungan: Juga harus ditingkatkan. Seseorang yang tahu cara menyembunyikan ketajamannya, entah untuk menghindari bencana atau karena memiliki ambisi besar. Apa pun alasannya, itu berarti ia mungkin menghadapi situasi yang lebih kompleks dan musuh yang lebih berbahaya daripada yang dibayangkan. Pelaku yang menumpahkan minyak di jalan itu mungkin bukan pelayan bodoh yang kebetulan lewat, melainkan puncak gunung es dari konspirasi yang lebih dalam. Jika benar demikian, maka ancaman terhadapnya tidak akan sesederhana menumpahkan minyak.

Ia harus lebih waspada dan meningkatkan tingkat perlindungan ke level tertinggi.

Tugas ini benar-benar tidak sederhana. Bahkan... mungkin jauh lebih kompleks dan lebih menguji kemampuannya daripada banyak misi pembunuhan yang pernah ia lakukan sebelumnya.

Ling Xiao menarik napas dalam-dalam, udara dingin masuk ke paru-parunya, membuat jantungnya yang sempat berdegup kencang karena terkejut kembali stabil dan dingin seperti sedia kala.

Entah itu kejutan atau kewaspadaan, semuanya tidak boleh memengaruhi penilaian dan tindakannya. Ia adalah penjaga bayangan dari Paviliun Bayangan, tugas utamanya adalah mematuhi perintah dan menyelesaikan misi.

Hanya saja, mulai saat ini, pemahamannya terhadap target tugas ini telah berubah total.

Ia tidak lagi menganggapnya sebagai simbol yang mudah dikendalikan dan diprediksi.

Ia adalah variabel. Sebuah variabel yang membutuhkan seluruh energi dan kecerdasannya untuk dihadapi.

Pesta kecil di paviliun air masih berlanjut, tetapi perhatian Ling Xiao sudah sepenuhnya terfokus pada sosok di sudut ruangan. Tatapannya seperti penggaris paling presisi, memperhatikan setiap ekspresi kecil dan ritme napas wanita itu, berusaha mengintip kebenaran di balik penampilan luarnya.

Ia melihatnya mengangkat cangkir teh, jari-jarinya ramping dan putih, namun ujung jarinya memiliki kapalan tipis akibat sering memegang pena atau mengolah tanaman obat.

Ia melihatnya sesekali menatap ke luar jendela, tatapannya tenang dan jauh, seolah sedang melihat pemandangan, namun juga seolah sedang melihat sesuatu yang lebih jauh dan tidak diketahui di balik pemandangan itu.

Ia melihatnya tetap bersikap hormat saat Permaisuri berbincang dengan orang lain, namun tanpa disadari siapa pun, ia mampu merekam setiap ekspresi dan reaksi orang-orang di sekitarnya.

Semua ini sangat kontras dengan kesan "lembut, sakit-sakitan, dan tidak tahu apa-apa" yang ia miliki sebelumnya.

Apakah ini jati dirinya yang sebenarnya? Atau, apakah ini hanyalah topeng lain yang sengaja ia tunjukkan?

Untuk pertama kalinya, muncul rasa ingin tahu dan keinginan untuk menyelidiki yang begitu kuat terhadap target tugas di dalam hati Ling Xiao.

Perasaan ini sangat asing, bahkan sedikit berbahaya. Namun ia tahu, untuk menyelesaikan misi, mengenal target dengan baik adalah bagian yang paling krusial.

Ia harus mengenalnya.

Pesta kecil itu akhirnya usai. Para putri dan selir berpamitan satu per satu.

Zhao Mingyue masih menjadi salah satu orang terakhir yang pergi. Ia memberi hormat dengan tenang kepada Permaisuri, lalu dengan dipapah oleh Yunxi, ia berjalan perlahan keluar dari paviliun air, menyusuri jalan kecil di taman kekaisaran menuju Istana Zhaoyang.

Punggungnya ramping, masih terlihat lemah tak berdaya, seolah embusan angin saja bisa merobohkannya.

Namun, tatapan Ling Xiao yang mengikutinya kini sudah berbeda.

Ia tahu, di balik tubuh yang tampak lemah itu, tersembunyi jiwa yang cerdas, tangguh, dan tak terukur kedalamannya.

Melihat api dari seberang sungai, yang terlihat hanyalah permukaannya.

Adu lidah tadi justru membuatnya sempat mengintip puncak gunung es itu.

Hati seorang penjaga bayangan seharusnya tenang seperti air yang diam.

Namun saat ini, permukaan air yang tenang itu sedikit bergoyang karena pandangan tersebut.

Meskipun sangat tipis, meskipun hanya sesaat, namun pada akhirnya... hati itu telah bergerak.

Sosok Ling Xiao tetap tersembunyi di kedalaman tajuk pohon. Sampai sosok sang majikan dan pelayan itu benar-benar menghilang di ujung penglihatan, barulah ia perlahan dan tanpa suara mengubah posisinya yang terasa kaku.

Misi masih berlanjut.

Hanya saja, bidak catur di atas papan permainan ini tampaknya jauh lebih menarik daripada yang ia bayangkan sebelumnya.