Bab Tujuh Puluh Tujuh: Danik yang Mendapat Balasan atas Perbuatannya
Sambil menahan semangat juangnya yang membara, Danik melangkah masuk lebih dalam ke hutan. Tak lama kemudian, pepohonan yang menghalangi pandangan perlahan menipis, dan sebuah kastil megah pun muncul di hadapannya. Sebagai keluarga bangsawan ternama, kemewahan milik Einzbern sudah sering didengarnya, namun Danik tak menyangka bahwa di wilayah yang bukan milik utama mereka, keluarga itu tetap membangun kastil semegah itu tanpa ragu.
“Pusat dari penghalang ini ada di dalam kastil. Jika segalanya berjalan lancar, mungkin tempat ini bisa kita jadikan markas selanjutnya,” ujar Danik sambil mengamati struktur kastil, melontarkan gagasan untuk merebutnya.
Meski tetap waspada terhadap sekeliling, Danik kini jauh lebih santai. Lancer ada di sisinya—roh pahlawan kelas atas yang sanggup melawan Raja Pahlawan, membuatnya tak perlu takut akan jebakan apa pun. Ia hanya perlu menerobos dengan cepat, menyelesaikan semuanya sebelum lawan sempat bereaksi.
“Master, apa kau sudah memutuskan cara bertindak?” tanya Lancer dengan nada tak seoptimis Danik, hanya melirik tuannya sekilas seraya berkata, “Dengan memanfaatkan hutan, kita bisa menghindari deteksi penghalang luar dan menyelinap masuk. Tapi di pusat seperti ini, mustahil kita tak ketahuan. Begitu kita menyerang, musuh di dalam pasti akan menyadari. Agar mereka tak sempat menggunakan Mantra Pemaksa, biarkan aku yang menerobos langsung dan menghabisi Master lawan.”
“Itu terlalu mubazir,” Danik menjawab tenang. “Kondisiku kini sepenuhnya bergantung pada jimat ini, dan itu pun hanya secuil kekuatan yang bisa kuserap lewat pengorbanan pasif. Ibarat akar tak berumah, ragaku yang kini hanya jelmaan obsesi dan kenangan harus terus memangsa jiwa agar tetap utuh.”
“Tapi yang kuperlukan bukanlah kekuatan magis dari jiwa yang kulahap, melainkan esensi untuk mempertahankan diriku sendiri. Hanya mereka yang telah menapaki jalan sihir yang jadi nutrisi paling tepat.”
“Lalu, apa yang akan Anda lakukan?” tanya Enkidu, wajahnya tetap lembut seperti biasa, rambut panjangnya berayun pelan, memantulkan cahaya indah di bawah sinar rembulan.
“...Hmph.”
Keindahan sesaat itu sempat membuat Danik terpaku, namun ia segera sadar dan mengeluarkan dengusan dingin. “Tentu saja dengan sihirku sendiri.”
Walau belum dinilai secara resmi, dengan bantuan bisikan saat dirasuki Sang Cahaya Suci dan kekuatan jimat kambing, pencapaian Danik kini sudah layak disebut Penyihir Agung sejati.
“Tubuh yang kutinggalkan juga punya manfaatnya. Aku akan menenun mantra lewat jiwaku yang menempel pada jimat, menggunakan teknik rekayasa jiwa untuk meminjam kekuatan jimat kambing.”
“Bukankah jimat itu belum sepenuhnya dibuka segelnya?”
“Sudah cukup. Tanpa peralatan pelindung khusus, jiwa mereka akan terintimidasi, membuat mental dan fisik mereka terpisah dan tidak terkendali.”
“Hebat sekali, benda pusaka yang mampu mempermainkan jiwa,” ujar Enkidu, menoleh dengan senyum lebar, tampak benar-benar kagum.
Danik memalingkan muka, enggan menanggapi. Meski Lancer sangat setia, ia tahu kesetiaan itu sesungguhnya untuk kesadaran kolektif, bukan untuk dirinya pribadi sebagai individu.
Tapi itu tidak penting, selama Lancer patuh. Danik kemudian merapatkan kedua telapak tangan, menekannya ringan pada cakram di dadanya tempat jiwa tersimpan, lalu mengalirkan sihir untuk menyambungkan diri dengan jimat.
Sesaat kemudian, cahaya tak terlukiskan merebak, membawa aura aneh bagai ombak besar di laut, serangan yang menusuk hingga ke jiwa. Jika manusia biasa terkena, mungkin seumur hidup tak akan pernah sadar kembali.
Namun, saat sampai di gerbang dalam kastil, cahaya jiwa mirip ratapan itu lenyap tanpa jejak, seolah ditelan bumi.
Sebagai gantinya, suara ratapan yang nyata menggema. Dengan suara serak, Danik menjerit pilu; sirkuit magis dalam tubuhnya mengamuk, arus listrik biru cerah menyelimuti sekujur tubuhnya, asap putih tebal mengepul dari kulitnya.
Andai hanya luka fisik, betapapun parah, ia masih bisa bertahan. Seperti saat diserang peluru asal-muasal dulu, ia tetap sadar karena kendali tubuhnya seperti mengendalikan mesin tempur—asal kokpitnya utuh, semuanya baik-baik saja.
Namun kali ini berbeda. Arus biru yang lahir dari sirkuit magis mekar seperti bunga, memunculkan tentakel tak terhitung jumlahnya yang menancap ke cakram di dadanya, menghancurkan seluruh kesadarannya dalam sekejap.
Inilah balasan dari jiwanya sendiri—perintah paksa yang ia buat sendiri! Peringatan dan harga yang harus dibayar atas pelanggaran kontrak yang ia tandatangani sendiri, dan siapa yang terkait di dalamnya sudah jelas.
“Lancer!”
Tersiksa oleh sengatan jiwa, Danik bahkan tak sempat mengucap perintah utuh sebelum kesadarannya lenyap.
Pintu besar di depan mereka pun perlahan terbuka dari dalam.
“Ada apa ribut-ribut? Rasanya seperti ada yang berteriak di dekatku saat sedang tidur,” ujar Roland, keluar dari pintu, mengusap keningnya, menatap Danik yang pingsan dan Lancer yang menatapnya penasaran.
“Kau dewa dari mana? Intimidasi barusan memang bukan untukku, tapi aku tetap merasakan ancamannya. Bahkan seorang Roh Pahlawan akan kaku sejenak, seperti dipetrifikasi. Tapi kau tak terluka sama sekali.”
“Itu hanya karena jiwa mereka terlalu lemah,” jawab Roland sambil mengangguk. “Aku tak perlu menanyakan tujuan kalian ke sini, toh tak penting. Sekarang perjanjian sudah rusak, kita kembali jadi musuh.”
Roland menatap Lancer dan berkata dengan terus terang, “Sepertinya kau tak menyukai tuanmu. Mau bergabung denganku?”
“Tidak,” jawab Lancer lirih setelah melirik Danik yang tergeletak, “Jika itu pilihan mereka, aku akan tetap melindungi.”
“Begitu ya? Walau kau sangat kuat, menurutmu bisa menunaikan tugasmu melindungi dalam jarak sedekat ini?” Roland menyeringai buas, melangkah mendekat ke arah Lancer.
“Karena aku hanyalah senjata. Tanpa perintah, aku hanya bisa begini,” batin Enkidu. Saat menghadapi kesadaran kolektif, pikirannya melimpah. Namun di tangan Danik, ia menyingkirkan semua pemikiran berlebih, patuh sepenuhnya pada perintah.
Meski sudah pernah mati dan memiliki hati, hanya di hadapan alam, sesama, dan sahabat ia menampakkan sisi itu. Di waktu lain, ia hanyalah senjata abadi yang tak pernah berhenti.
Justru karena itulah, ia begitu kuat.
Melihat Roland yang semakin mendekat, senyum di wajah Enkidu tidak berubah sedikit pun.
“Wahai dewa yang tidak kukenal, mulai sekarang aku akan bertarung sungguh-sungguh.”
Ia tidak menggunakan pusaka rantai penakluk tanah, karena bisa melukai tuannya. Ia pun tidak membawa tuannya kabur, sebab sejak menangkap aura Roland yang aneh dan luas, ide itu langsung terasa sia-sia.
Namun, Enkidu tetap tanpa rasa takut. Ia memang diciptakan sebagai senjata pemisah dewa dan manusia, sehingga bahkan menghadapi dewa sejati pun, ia masih punya kekuatan bertarung.
“Krraaakkk—!!”
Tiba-tiba, rantai-rantai melesat di udara.
Di tanah, langit, pepohonan, bahkan di dalam tubuh Enkidu, rantai yang ditempa dari khayalan saling bersilangan, mengeluarkan suara nyaring penuh tekanan, melesat ke arah Roland bagaikan kilat.
Dari leher ke pergelangan tangan, dari pinggang ke kaki, seluruh tubuhnya terbelenggu rapat.
Semakin agung seorang dewa, semakin tak berdaya di hadapan rantai ini—Enkidu yakin akan hal itu.
Namun hari ini, keyakinan yang sudah jadi prinsip itu runtuh.
“Rantai Langit… bisa terputus…”
Belum sempat kata-kata takjub Enkidu selesai, tawa liar Roland sudah menggelegar.
“Tak ada gunanya!”
Roland tertawa keras, bagaikan binatang buas yang mengamuk, melepaskan tenaga brutal. Rantai itu bahkan tak mampu menahan sedetik pun, bergetar dan hancur, berubah menjadi partikel roh yang lenyap begitu saja.
Dalam sekejap, api yang mengamuk bagaikan hendak melalap ruang itu sendiri, meninggalkan bekas merah menyala yang membakar Enkidu jatuh terhempas ke tanah!