Bab Tiga Belas: Kalianlah yang Mencari Mati

Penduduk Perkasa Tak Terkalahkan Bergelut dan berjuang keras 2480kata 2026-03-06 06:33:06

“Mau apa kau mencariku?” tanya Siti Zamrud, mencoba mengalihkan pembicaraan sambil bangkit dan menepuk-nepuk debu di bajunya. Ketika ia bergerak, dadanya yang besar pun ikut berguncang hebat.

Orang desa hidup serba kekurangan, makan saja susah, apalagi membeli penutup dada seperti orang kota. Karena tak ada yang membatasi, maka terlihat begitu membusung.

Mengingat kembali betapa putihnya yang ia lihat tadi, darah muda Jaka Ningrat pun berdesir hangat, matanya jadi terpana.

“Dasar bocah, apa yang kau lihat? Tak pernah lihat sebelumnya?” wajah Siti Zamrud memerah, setengah malu setengah marah.

Jaka Ningrat berdeham pelan, “Memang belum pernah.”

“Sudah, kau cari aku ada urusan apa?” Siti Zamrud, yang hatinya jadi tak karuan gara-gara tatapan Jaka Ningrat, tubuhnya pun jadi panas. Meski Jaka Ningrat baru enam belas tahun, tapi ia sudah seperti pemuda dewasa.

Melihat wajah Siti Zamrud yang merah padam, darah muda Jaka Ningrat makin mendidih, namun ia tetap berkata, “Bibi Zamrud, aku ingin melihat apakah semangka di kebun bibi sudah matang, kalau sudah, mau aku jual ke pasar kecamatan.”

Walau pasar besar hanya ada di tanggal 4 dan 9 tiap bulan menurut kalender Imlek, hari-hari biasa pun ramai pengunjungnya.

Siti Zamrud menoleh pada semangka yang tadi kepalanya pecahkan, lalu membelahnya dengan tangan, memperlihatkan daging merah yang segar.

“Coba dulu, manis atau tidaknya,” ujarnya sambil menyerahkan sepotong kepada Jaka Ningrat.

Jaka Ningrat mengangguk, lalu jongkok dan makan dengan lahap. Karena ditanam di tanah berpasir, semangkanya manis dan dagingnya renyah.

“Ini sudah matang betul,” kata Jaka Ningrat sambil makan, “Bibi Zamrud, semangka yang sudah matang harus segera dipetik, jika terlalu matang nanti malah tak bisa dijual.”

Siti Zamrud mengangguk, “Kalau begitu, hari ini juga kita ke pasar kecamatan.”

Buah-buahan berbeda dengan padi, jika sudah matang tapi tidak segera dijual akan cepat rusak, dan kalaupun laku, orang jadi enggan membeli lagi.

Mereka lalu meminjam gerobak dari tetangga, dan mulai bekerja. Memilih semangka yang matang, lalu memotong tangkainya dengan gunting.

Sampai tengah hari, mereka sudah mengisi gerobak penuh semangka, ada lebih dari delapan puluh buah. Jika rata-rata sepuluh kilogram per buah, berarti lebih dari delapan ratus kilogram.

Tak mungkin digotong dengan tenaga manusia. Untungnya keluarga Siti Zamrud memelihara seekor sapi. Maka, dengan memakai caping, berdua mereka menggiring gerobak sapi di bawah matahari terik menuju pasar kecamatan.

Sesampainya di tempat yang ramai, Jaka Ningrat mulai berseru, “Jual semangka! Semangka kulit tipis, daging merah pasir, hanya lima ratus per kilo! Silakan cicip dulu baru beli, stok terbatas, siapa cepat dia dapat!”

Kemarin saat ke pasar, ia dengar harga semangka sekarang enam ratus lima puluh per kilo. Kalau ingin cepat laku, lebih baik untung sedikit asal banyak terjual.

Walau hanya selisih seratus lima puluh, satu semangka bisa hemat sampai seribu lima ratus. Bagi orang kota, uang segitu mungkin sudah tak berharga, tapi buat orang pasar atau desa, jumlah itu tetap berarti. Mereka pasti akan hitung-hitungan.

Namun meski teriak sampai serak, tak ada yang melirik.

“Ning, begini terus tak akan jadi apa-apa,” Siti Zamrud mulai cemas.

Jaka Ningrat menggeleng, “Mau bagaimana lagi, bibi. Ladang kita cuma dua hektar lebih, jual dua ratus sekilo, pedagang besar pun tak mau ambil ke desa.”

Siti Zamrud mengipasi diri dengan kipas daun pisang, menghela napas, “Tahun depan, apapun yang terjadi, aku tak akan tanam semangka lagi.”

Tiba-tiba, seorang kakek enam puluhan berhenti, “Coba kasih saya sepotong, saya mau icip dulu seperti apa manisnya.”

“Baik, Pak,” Jaka Ningrat langsung menyodorkan sepotong yang sudah dipotong.

Setelah mencicipi, sang kakek berkata, “Bagus, lebih manis dari yang biasa saya beli. Saya ambil satu.”

“Baik, saya pilihkan yang matang, Pak.” Jaka Ningrat mengambilkan semangka yang paling matang. “Pak, beratnya dua belas kilo empat ons, ongkosnya enam ribu saja, tak usah hitung lebih.”

Enam ribu rupiah pertama masuk, membuat Siti Zamrud sangat bahagia. Maklum, ini uang pertama yang ia hasilkan sendiri selama hidupnya.

“Cicip dulu, kalau tak manis tak usah bayar!” suara Jaka Ningrat terus menggema di pasar.

Cuaca panas, banyak orang membeli semangka untuk menghilangkan dahaga. Semakin sore, udara tak lagi sepanas tadi, pengunjung pasar pun makin ramai.

Harganya murah, rasanya enak, dagangan Jaka Ningrat dan Siti Zamrud laris manis.

Jaka Ningrat sibuk menjual, Siti Zamrud mengurus uang. Meski keduanya bermandi keringat, senyum bahagia terpancar di wajah mereka.

Namun, di kejauhan, seorang pria paruh baya penjual semangka jadi kesal. Sebelumnya, hanya ia satu-satunya penjual semangka di pasar, tiap hari bisa menjual seratus buah. Tapi sejak Jaka Ningrat dan Siti Zamrud datang, tak ada lagi yang membeli semangkanya.

Sesama pedagang ibarat musuh, kini baru ia mengerti arti pepatah itu. Melihat hari makin sore dan semangka di gerobak Jaka Ningrat makin sedikit, pria itu sadar, kalau tak segera mengusir mereka, dagangannya tak akan laku.

“Macan, ini aku, Cak Panjang. Ada masalah, bantu aku sebentar, bagaimana?” Setelah ragu sejenak, ia menelpon seseorang.

Macan nama aslinya Macan Wijaya, sekampung dengan Cak Panjang. Konon, selama ini ia jadi preman di pasar, bernaung pada seorang juragan bermarga Wang.

“Begini, aku jualan semangka di pasar, ada orang yang mengganggu rezekiku. Kau kan jago di sini, bantu aku dong, nanti aku traktir sate kambing,” kata Cak Panjang ramah.

“Ah, urusan kecil, serahkan saja padaku. Katakan saja di mana orangnya, aku usir sekarang juga,” suara jumawa terdengar dari seberang telepon.

“Ning, aku beli beberapa roti bakar, makanlah dulu,” kata Siti Zamrud sambil membawa beberapa roti yang baru keluar dari oven.

Mencium wangi roti, Jaka Ningrat pun merasa lapar. Sejak siang, mereka hanya makan dadar gulung dengan daun bawang.

Menyantap roti yang gurih dan renyah, Jaka Ningrat sampai ingin menelan lidahnya. Tak ada lauk pun tak apa, kata orang tua, kalau sudah sangat lapar, bahkan air putih terasa seperti nasi.

“Pelan-pelan makannya, lihat betapa laparnya kau. Setelah semangka habis terjual, bibi akan masakkan yang enak sebagai balas budimu,” kata Siti Zamrud sambil tersenyum.

“Iya, Bi.”

“Tuh, sudah makan ya?” Tiba-tiba, empat pemuda sekitar dua puluh tahunan mendekat.

Jaka Ningrat segera mengunyah dan menelan rotinya, lalu bertanya sopan, “Kakak-kakak mau beli semangka? Silakan cicip dulu, kalau tak manis tak usah bayar.” Ia pun segera mengambil beberapa potong semangka dan menyodorkan.

Plak!

Pemuda yang paling depan menepis semangka dari tangan Jaka Ningrat, marah, “Sialan, kau tidak tahu jalan ini di bawah kekuasaanku? Siapa yang mengizinkan kau jualan di sini? Kalau tak mau babak belur, enyah dari sini, jangan sampai aku melihatmu lagi!”

Melihat kejadian itu, Siti Zamrud sangat ketakutan, menarik ujung baju Jaka Ningrat, “Ning, lebih baik kita pulang saja.”

Jaka Ningrat menoleh dan tersenyum, “Tenang saja, Bi. Mereka cuma preman kecil, aku tak takut pada mereka.”

“Kau benar-benar cari mati!” sorot mata Macan Wijaya penuh ancaman, sambil mengepal tangan, terdengar suara retakan sendi.

Tatapan Jaka Ningrat berubah dingin, “Justru kalianlah yang cari mati.”