Bab Tiga: Sudah Membuat Masalah

Penduduk Perkasa Tak Terkalahkan Bergelut dan berjuang keras 2315kata 2026-03-06 06:32:02

Tahun ini, Siti Melati berusia tiga puluh tahun. Wajahnya bulat seperti telur, matanya besar, dan tubuhnya montok; ia adalah perempuan tercantik di desanya. Namun hidupnya jauh dari kata bahagia. Sepuluh tahun lalu ia menikah dengan keluarga Zainuddin di Dusun Zainuddin, tetapi hingga kini belum juga dikaruniai anak untuk meneruskan keturunan suaminya.

Awalnya ia berharap, dengan ikut Zainal merantau ke kota untuk bekerja, mereka bisa mengumpulkan uang lebih banyak, lalu memeriksakan diri ke rumah sakit besar di kota, mencari tahu sebabnya. Siapa sangka, suaminya pergi dan tak pernah kembali, meninggalkannya seorang diri dalam status janda. Pekerjaan yang terlalu berat jelas tak sanggup ia kerjakan seorang diri. Maka ia membeli bibit semangka, berniat menanamnya demi menyambung hidup. Saat semangka-semakka itu hampir siap panen, harapan akan masa depan mulai tumbuh kembali di hatinya.

Tak disangka, sepulang makan ketika ia datang ke ladang semangka, ia melihat Zaki, putra dari musuh besarnya, tengah merusak tanaman semangka miliknya.

Melihat Siti Melati berjalan mendekat dengan penuh amarah, Zaki buru-buru berkata, "Bibi Melati, aku tak bermaksud buruk! Ladang semangkamu terserang hama, harus segera ditangani!"

Siti Melati mengatur napasnya yang memburu, dadanya naik turun, menunjuk Zaki sambil memaki, "Kamulah hama terbesar di ladang ini! Pergi! Aku tak butuh bantuan pura-puramu itu! Kalau kau benar-benar mau membantu, enyahlah dari pandanganku, supaya hatiku lebih tenang!"

Zaki sudah terbiasa menerima caci maki seperti itu. Ia tak menaruh hati dan berkata dengan cemas, "Bibi Melati, aku sungguh tak bermaksud buruk. Percayalah sekali saja padaku, kalau tidak, ladang semangka ini akan gagal panen!"

Plak!

Siti Melati menampar wajah Zaki, air mata menggenang di matanya, ia menjerit penuh kesakitan, "Zaki, karena ayahmu, suamiku meninggal! Aku, Siti Melati, sudah tak punya harapan keturunan! Sekarang, kau malah mengutuk ladang semangkaku akan gagal panen. Apa maumu sebenarnya? Dosa apa yang sudah kulakukan hingga kau menyiksaku seperti ini?" Ia pun menangis tersedu-sedu.

Pipi Zaki terasa panas, di mulutnya mulai terasa getir darah. Namun ia tahu, luka di hati Siti Melati jauh lebih dalam, dan ia sadar betul perempuan itu sangat membencinya. Tapi ia juga tahu, tak ada waktu untuk berdebat. Setiap detik yang terbuang, ladang semangka itu makin terancam.

"Bibi Melati, maafkan aku!"

Zaki melepas ikat pinggangnya, dan di tengah amukan Siti Melati serta usahanya melawan, ia membaringkan perempuan itu ke tanah, mengikat tangan dan kakinya dengan ikat pinggang. Setelah itu, ia melanjutkan mencabut tanaman semangka yang terserang hama putih.

"Zaki, kau kutuk tujuh turunan!" Siti Melati meronta dan menangis pilu melihat tanaman semangkanya yang sudah ia rawat dengan susah payah dicabut paksa.

Siti Melati ingin berteriak minta tolong, tapi jarak ladang ke desa cukup jauh, apalagi angin berhembus ke arah lain, suaranya sama sekali tak sampai ke telinga warga desa. Ia hanya bisa menyaksikan Zaki merusak ladangnya tanpa daya.

Untungnya, tak banyak tanaman yang terserang, dan pada tanaman yang lain pun hama tidak merata. Setelah selesai mencabut tanaman yang terinfeksi, Zaki bergegas pulang, mengambil sebotol insektisida yang selama ini hanya ia simpan tanpa pernah digunakan. Ia juga mendorong gerobak penuh rumput kering ke arah ladang.

Melihat angin bertiup dari tenggara, Zaki menata rumput kering di sekeliling ladang, lalu menyiramnya dengan insektisida dan menyalakan api. Rumput kering itu terbakar hebat, mengeluarkan asap tebal dan bau tajam pestisida yang menyengat. Asap pun terbawa angin, menyelimuti seluruh ladang semangka.

Zaki tidak terlalu yakin apakah cara ini bisa membunuh hama putih, tapi ia tahu, asap insektisida dapat membunuh lalat dan nyamuk di rumah. Maka ia memutuskan mencoba.

Ternyata benar, setelah diasapi, hama putih itu mati. Zaki girang, tapi belum sepenuhnya lega. Hama memang sudah mati, tapi penyakit layu masih belum teratasi.

Ia pun segera memanggul alat penyemprot, mengelilingi dua hektar ladang semangka, menyemprotkan pestisida di tiap sudut.

Setelah selesai, tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Satu tahun penuh hidup dalam kesulitan membuat tubuhnya kurus dan lemah, kini ia benar-benar kelelahan. Namun ia merasa, semua itu sepadan.

Tiba-tiba ia teringat Siti Melati yang masih terikat oleh ikat pinggangnya. Ia tercekat, lalu buru-buru berlari ke tepi ladang. Ternyata Siti Melati tertidur karena kelelahan usai memaki-maki dirinya.

Dengan kaus putih ketat dan rok panjang biru langit, Siti Melati tampak seperti putri tidur. Tangan dan kakinya yang terikat membuat pinggulnya terangkat tinggi, seperti ada dua semangka besar di balik roknya.

Zaki yang baru berusia enam belas tahun tentu sudah mulai memahami hasrat antara laki-laki dan perempuan. Melihat pemandangan itu, napasnya langsung memburu. Namun ia tetap berhati-hati membuka ikatan ikat pinggang.

Walau sudah berhati-hati, saat ikat pinggang terlepas dari tubuh Siti Melati, perempuan itu langsung terbangun. Seperti seekor macan betina, ia menerjang Zaki, menjatuhkannya ke tanah, mencekik lehernya erat-erat, tanpa sadar posisi mereka sangat intim.

"Katakan, kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Siti Melati dengan tatapan tajam, hatinya terasa sangat terhina.

Zaki memang laki-laki, tapi tubuhnya lemah karena kurang gizi, ditambah pulang pergi ke kota dan menyemprot pestisida tadi, ia benar-benar tak punya tenaga. Wajar saja ia tak bisa melawan perempuan itu.

Namun, saat Siti Melati duduk di atas tubuhnya, ia merasakan kehangatan dan kelembutan menyelimuti. Ia ingin bicara, tapi lehernya dicekik, tak ada kesempatan menjelaskan.

Melihat wajah Zaki berubah ungu, Siti Melati sadar ia sudah terlalu jauh. Ia memang membenci Zaki, tapi kalau sampai membunuhnya, ia pun akan dipenjara. Ia segera melepaskan cekikannya, namun tetap mencengkeram kerah baju Zaki, "Cepat katakan! Kenapa kau lakukan ini padaku? Apa salahku padamu?"

Zaki menatap dengan pasrah, "Bibi Melati, aku tahu aku sudah melukaimu, dan aku siap menerima hukuman apa pun. Kalau itu bisa membuat hatimu lega, pukullah aku sepuasnya."

Siti Melati hendak bicara, tapi tiba-tiba ia merasakan sesuatu menekan di bawah tubuhnya, membuatnya tak nyaman. Ia menggeser posisi sedikit, berharap rasa tak nyaman itu hilang, tapi justru makin terasa aneh.

Zaki merasa malu setengah mati. Kalau saja botol insektisida tadi masih tersisa, mungkin sudah ia minum demi menahan malu. Ia mengutuk dirinya dalam hati.

Tiba-tiba, Siti Melati menyadari sesuatu. Tatapan matanya berubah, rona aneh muncul di wajah yang tadi penuh amarah—malu, canggung, dan terutama panik.

"Melihat kau mau mengakui salah, kali ini aku maafkan. Pergilah, cepat!" Siti Melati buru-buru berdiri, mengucap itu dengan suara keras.

Zaki pun bangkit, meminta maaf sekali lagi, lalu memanggul alat semprot dan melangkah pulang dengan langkah tertatih-tatih.

Siti Melati menatap punggung Zaki yang menjauh dengan sorot mata rumit, lalu berbisik, "Anak itu baru enam belas tahun, tapi modalnya sudah luar biasa... Ish, Siti Melati, dia itu anak musuh besarmu, apa yang ada di pikiranmu?"