Bab Tujuh Puluh Satu: Menyamar untuk Menyelidiki
Li Maoyang dengan tegas berkata, “Begini saja, aku langsung panggil adikku ke sini, kita bisa makan sambil berbincang.” Sambil berbicara, ia mengeluarkan ponsel dan menekan sebuah nomor, berbicara singkat sebelum menutup telepon.
“Dua puluh menit lagi adikku sudah sampai,” kata Li Maoyang sambil tersenyum.
Zhao Xiaoning sangat senang. Jika benar begitu, Deng Yanru bukan hanya bisa mengundurkan diri, bahkan sangat mungkin membuat Zhou Jianlin dan kepala sekolah SD Pusat menerima akibat yang berat. Perlu diketahui, apa yang dilakukan kedua orang itu benar-benar membuat orang marah dan merasa jijik.
Dua puluh menit kemudian, pintu ruang makan didorong terbuka. Seorang pria paruh baya berwajah tegas, sekitar empat puluh tahun, melangkah masuk dengan senyum ramah. Ia mengenakan kaos putih, celana kain hitam, dan kacamata berbingkai hitam, seluruh penampilannya memancarkan aura intelektual.
“Wah, Pak Direktur Meng juga di sini rupanya. Sudah lama sekali kita tidak bertemu,” sapa Li Maoguang sambil tersenyum.
Meng Tao menggoda, “Pak Kepala Li ini memang sibuk sekali, mau bertemu saja susahnya bukan main.”
“Adik, kenalkan, ini namanya Zhao Xiaoning, sahabat baikku,” jelas Li Maoyang.
Li Maoguang dengan ramah menjabat tangan Zhao Xiaoning, lalu duduk.
Li Maoyang melanjutkan, “Aku mengajakmu ke sini karena ada satu urusan yang ingin kupinta bantuannya. Untuk lebih jelasnya, dengarkan saja penjelasan adik Zhao ini.” Sambil berkata, ia memberi isyarat pada Zhao Xiaoning.
Karena kepala dinas pendidikan sendiri sudah hadir, Zhao Xiaoning tidak menutupi apa-apa. Ia pun menceritakan semua yang menimpa Deng Yanru.
Mendengar Deng Yanru dipindahkan mengajar ke SD hanya karena menolak menjalin hubungan dengan Zhou Jianlin, Meng Tao spontan memaki, “Astaga, kok bisa ada guru sekotor itu? Orang seperti itu tidak pantas jadi pendidik!”
Li Maoyang tampak tidak senang, “Adik, kau kan Kepala Dinas Pendidikan se-kabupaten, mengurus seluruh guru. Aku jadi heran, selama jam kerja, apa saja yang kau lakukan? Kok bisa ada orang seperti itu dan kau tidak tahu? Sekarang ini era digital, kalau sampai ada yang mengumpulkan bukti kelakuan Zhou Jianlin dan menyebarkannya di internet, kau juga ikut bertanggung jawab. Aku harap kau bisa menangani masalah ini dengan baik, jangan sampai ada keributan.”
Sebagai kakak tertua, ucapannya bagaikan perintah seorang ayah. Li Maoguang tidak bisa membantah, ia pun sadar ini memang kelalaian dalam pengelolaannya. Ia langsung berjanji, “Tenang saja, Kak, masalah ini pasti kutangani dengan baik.”
Li Maoguang cukup waswas. Seperti kata kakaknya, jika perbuatan Zhou Jianlin benar-benar tersebar di dunia maya, pasti akan menimbulkan kemarahan masyarakat. Saat itu, posisinya sebagai kepala dinas pendidikan bisa saja tamat.
“Kak, masih sore, aku akan langsung ke Kecamatan Dongshan sekarang juga.” Li Maoguang menghela napas. Terjadinya masalah ini saja sudah membuatnya gelisah, apalagi ini menyangkut Zhao Xiaoning. Walau bukan seorang pengusaha, ia tahu, siapa pun yang bisa dipanggil ‘saudara’ oleh kakaknya pasti bukan orang sembarangan.
Zhao Xiaoning juga berkata, “Pak Direktur Meng, Pak Kepala Li, aku ikut saja dengan Pak Kepala Li. Kita bertemu lagi lain waktu.”
“Baik. Kalau ada kabar, kita bisa saling menghubungi,” jawab Meng Tao dan Li Maoyang sambil mengangguk.
Setelah itu, mereka berdua menuju tempat parkir dan naik mobil Passat milik Li Maoguang melaju ke arah kecamatan. Menjelang tiba, Zhao Xiaoning menelpon Deng Yanru, “Bu Guru, sedang di rumah kan? Aku sebentar lagi sampai depan rumahmu, tolong keluar sebentar.”
Begitu tiba di depan rumah Deng Yanru, Zhao Xiaoning sudah melihat seorang wanita anggun berdiri di bawah pohon wutong, menanti dengan penuh harap.
“Bu Guru, ke sini,” panggil Zhao Xiaoning sambil melambaikan tangan. “Naik dulu ke mobil, aku akan membawamu ke suatu tempat.”
Deng Yanru tidak tahu apa yang sedang dilakukan Zhao Xiaoning, namun ia tetap duduk di kursi belakang. Saat melihat Li Maoguang di kursi pengemudi, ia tersenyum dan mengangguk sebagai salam.
“Xiaoning, kita mau ke mana?” tanya Deng Yanru pelan.
“Nanti juga tahu,” jawab Zhao Xiaoning sambil tersenyum tipis.
Passat itu berbelok kiri-kanan dan akhirnya masuk ke halaman kantor dinas pendidikan kecamatan. Saat Deng Yanru masih bingung, ia dikejutkan dengan kemunculan Kepala Kantor Pendidikan Zhang Xiangming yang dengan ramah membuka pintu mobil, seperti seorang penyambut tamu di hotel.
“Selamat datang Pak Kepala Dinas, silakan melakukan inspeksi,” kata Zhang Xiangming.
Deng Yanru benar-benar terkejut. Hanya Kepala Dinas Pendidikan se-kabupaten yang bisa dipanggil ‘Pak Kepala Dinas’ oleh Kepala Kantor Pendidikan, bukan? Jangan-jangan, orang ini memang Kepala Dinas Pendidikan?
Astaga, bagaimana mungkin Zhao Xiaoning mengenal orang sehebat ini?
Saat itu, Li Maoguang mulai bicara. Nadanya terdengar biasa saja, namun memancarkan wibawa yang tak bisa dibantah, “Pak Zhang, tak usah terlalu formal. Tolong hubungi Zhou Jianlin dari SMP dan Kepala SD Pusat, Yang Wenbo. Suruh mereka segera datang ke sini, sekarang juga.”
“Baik, baik, saya akan segera menelpon mereka,” jawab Zhang Xiangming tanpa ragu. Hatinya dipenuhi firasat buruk. Biasanya, setiap kunjungan Kepala Dinas Pendidikan pasti diberitahu lebih dulu. Tapi kali ini, ia baru mendapat kabar sepuluh menit sebelumnya. Ini benar-benar seperti inspeksi diam-diam.
Sebelumnya, Zhang Xiangming memang bertanya-tanya kenapa Li Maoguang tiba-tiba datang. Melihat wajahnya yang tegas dan penuh tekanan, tak perlu berpikir lama, pastilah beliau datang untuk menuntut pertanggungjawaban.
Siapa lagi yang mungkin membuat Kepala Dinas Pendidikan murka? Selain Zhou Jianlin dan Yang Wenbo, siapa lagi?
“Halo, Pak Kepala Zhou? Bisa datang ke kantor dinas pendidikan? Saya ada urusan ingin didiskusikan,” kata Zhang Xiangming, menelpon Zhou Jianlin di hadapan Li Maoguang.
Satu orang adalah Kepala Kantor Pendidikan, satunya Kepala SMP, jabatan mereka setara, dan sudah bertahun-tahun jadi rekan kerja, jadi bicara pun santai.
“Pak Zhang, kalau ada apa-apa bilang saja lewat telepon, aku lagi minum bareng Pak Yang, kamu ikut saja ke sini,” suara lantang Zhou Jianlin terdengar jelas karena teleponnya di-loudspeaker.
Zhang Xiangming nyaris menjatuhkan ponselnya. Sial, jam kerja malah minum-minum, hanya ini saja sudah cukup untuk membuatmu dipecat.
“Saya masih kerja, jadi tak bisa ke sana. Lebih baik kalian yang ke sini. Oh ya, kamu sama Yang Wenbo ya? Pas sekali, saya juga ingin bertemu dia. Sekalian saja kalian berdua ke sini,” kata Zhang Xiangming.
Zhou Jianlin mulai terlihat tak sabar, “Pak Zhang, kenapa sih harus rahasia-rahasia gini? Bukankah tak ada orang lain, bicara lewat telepon juga bisa kan?”
Zhang Xiangming pun melirik ke arah Li Maoguang, seolah meminta petunjuk.
“Katakan saja, ada urusan mutasi jabatan. Bilang saja, SMP nomor tiga kabupaten sedang cari wakil kepala sekolah,” kata Li Maoguang setelah berpikir sejenak.
Zhang Xiangming langsung berkata, “Pak Zhou, kalau tidak datang, jangan menyesal. Saya dengar di SMP nomor tiga sedang butuh wakil kepala sekolah. Kamu dipanggil ke sini soal itu. Tapi, soal seperti ini tidak bisa dijelaskan lewat telepon.”
“Mutasi jabatan?” Zhou Jianlin langsung bersemangat. Meski cuma wakil kepala sekolah, SMP nomor tiga adalah sekolah unggulan. Kalau bisa bekerja di sana, pasti lebih bergengsi dan punya wewenang lebih besar daripada jadi kepala sekolah SMP kecamatan.
Zhang Xiangming mengangguk, meski dalam hati penuh rasa kesal, tetap tersenyum, “Benar, soal mutasi jabatan.”
Namun, ada satu hal yang tidak ia katakan. Mutasi jabatan ini bukan berarti dipromosikan ke posisi lebih tinggi, justru mungkin malah diturunkan jabatannya! Adapun kabar tentang SMP nomor tiga sedang mencari wakil kepala sekolah, itu hanya umpan yang dilempar Li Maoguang, tujuannya untuk menjebak Zhou Jianlin, sekaligus memperlihatkan padanya apa arti ‘terlalu senang justru membawa petaka’.
“Baik, baik, aku segera ke sana, sekarang juga!” Zhou Jianlin terdengar sangat gembira, lalu menutup telepon. Tanpa ia sadari, yang menantinya adalah sebuah bencana.