Bab Tiga Puluh Dua: Membantumu Menggosok Punggung
Jarak lima meter tampak begitu jauh, namun kini Zhao Xiaoning bukan lagi orang yang dulu. Dengan sekali loncat di tempat, ia sudah bisa mencapai lebih dari tiga meter, apalagi jika melompat dari dahan pohon. Lima meter pun dapat ia lampaui dalam sekejap, sementara kapak di tangannya diarahkan tepat ke kepala serigala abu-abu itu.
Namun, saat ia baru saja melompat dari atas dahan, serigala itu tiba-tiba menoleh, sorot matanya menyala marah dan penuh niat membunuh. Serigala itu rupanya sangat cerdas, tidak seperti yang Zhao Xiaoning perkirakan. Ia tidak langsung memakan daging kelinci yang dipasang di perangkap, melainkan hanya menyentuhnya dengan kaki depan kanan. Akibatnya, kaki depan kanan serigala itu terjepit dan patah. Cedera itu serius, namun jelas lebih ringan dibandingkan jika ia memakan daging itu dengan mulut.
Dengan geraman rendah, serigala abu-abu itu langsung melompat ke arah Zhao Xiaoning. Serigala memang memiliki empat kaki; meskipun satu kakinya patah, ia tetap bisa berlari, hanya saja kecepatannya berkurang.
"Enyah kau!"
Zhao Xiaoning berteriak rendah, lalu melontarkan tendangan cambuk keras ke arah leher serigala itu, membuatnya terpental jauh.
Auman pilu terdengar saat tubuh serigala itu membentur pohon besar, matanya semakin dipenuhi amarah.
"Selagi kau lemah, aku akan menghabisimu," gumam Zhao Xiaoning, tak mau melewatkan kesempatan emas ini. Tubuhnya melesat lagi, melancarkan serangan berikutnya.
Serigala abu-abu itu bergerak menghindar dengan cepat. Begitu Zhao Xiaoning mendarat, serigala itu justru menerkam dari samping, membuka mulut lebarnya dan mengincar paha Zhao Xiaoning.
Zhao Xiaoning terkejut. Ia bahkan bisa mencium bau amis busuk dari mulut serigala itu. Ia tahu, begitu tergigit, kekuatan gigitan serigala bisa menyeretnya hingga mati.
"Pergi!"
Dengan teriakan keras, Zhao Xiaoning mundur dua langkah, menyalurkan energi dalam tubuhnya ke kapak, lalu menebaskannya sekuat tenaga.
Tebasan itu mengerahkan seluruh kekuatannya. Terdengar suara berat, semburan darah mendadak meledak ke udara. Tubuh serigala itu terhempas ke belakang, dan kini kepala serigala itu sudah berubah bentuk, mati seketika.
"Hampir saja..."
Melihat serigala abu-abu itu tewas, Zhao Xiaoning menghela napas lega, duduk di tanah sambil terengah-engah. Di saat yang sama, perasaan bangga memenuhi hatinya. Membunuh serigala memang pernah terjadi, tapi biasanya dilakukan oleh belasan pria dewasa bersama-sama.
Membunuh seekor serigala seorang diri, peristiwa semacam ini dalam sejarah Desa Zhao benar-benar hal yang langka.
"Seharusnya sekarang Bibi Wu dan Jing tidak perlu khawatir lagi," Zhao Xiaoning tersenyum tipis. Melihat langit mulai cerah, ia memanggul bangkai serigala di pundaknya dan meninggalkan Gunung Fenghuang.
Daging serigala adalah barang bagus, dapat menyembuhkan organ dalam, memperkuat pencernaan, mengobati lelah, dan mengusir dingin. Ia tentu tidak akan menyia-nyiakan rejeki semacam ini. Apa pun yang terjadi, harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Begitu sampai di ujung desa, Zhao Xiaoning melihat Wu Cuilan datang dari arah berlawanan.
"Zhao Xiaoning, pagi-pagi begini kau mau ke mana?" Wu Cuilan tadinya ingin memanfaatkan udara pagi yang sejuk untuk memetik bunga melati di ladang, namun tak disangka bertemu Zhao Xiaoning.
Sebelum Zhao Xiaoning sempat menjawab, Wu Cuilan sudah melihat bangkai serigala berdarah di pundaknya. Ia nyaris jatuh terduduk ketakutan, matanya membelalak, "Itu apa?!"
Zhao Xiaoning tersenyum, "Bibi Wu, tidak apa-apa. Kalian kan bilang takut dengan serigala ini? Aku sudah naik ke gunung dan membunuhnya. Jadi sekarang Bibi dan Kak Jing bisa memetik goji di gunung tanpa takut lagi."
Wu Cuilan tertegun, wajahnya langsung berubah muram, "Jadi, setelah makan malam kemarin, kau langsung masuk ke gunung dan baru pulang sekarang?"
Zhao Xiaoning mengangguk sambil tersenyum, "Malam hari lebih mudah."
Wu Cuilan naik pitam, nyaris saja menamparnya, dan membentak, "Gila kau! Kau sudah bosan hidup, ya? Sudah kubilang, tak usah cari goji juga tidak apa-apa, asal jangan masuk ke gunung! Apa kau anggap ucapanku angin lalu? Zhao Xiaoning, tolong, bisakah kau jangan egois? Tolong pikirkan orang lain juga!"
"Kalau kau memang sudah bosan hidup, gantung diri saja, atau minum racun seperti ayahmu! Jangan karena kami ibu-anak jadi kau nekat seperti itu!" Ucapan Wu Cuilan bergetar, matanya memerah dan penuh ketakutan. Ia sangat bersyukur Zhao Xiaoning tidak apa-apa, kalau tidak ia akan menyesal seumur hidup.
Bagaimanapun Zhao Xiaoning masih anak-anak, pikirannya belum matang. Ia menunduk dan berkata lirih, "Aku hanya ingin Bibi Wu bisa mendapat uang lebih."
Wu Cuilan menghela napas. Semuanya sudah terjadi, tak ada gunanya memperpanjang. Ia menatap Zhao Xiaoning dari atas ke bawah, lalu bertanya, "Ada luka?"
"Tidak," jawab Zhao Xiaoning cepat.
Wu Cuilan pun sedikit tenang, meski masih kesal, "Baguslah. Cepat pulang dan istirahat. Oh ya, malam ini makan di rumahku, ada yang ingin kubicarakan."
"Bibi Wu, Bibi mau ke mana? Goji di gunung sudah ada yang matang. Kalau Bibi mau, petik saja sekarang. Kebetulan sore ini aku mau ke kota, bisa sekalian kujualkan."
Wu Cuilan melambaikan tangan, "Sudah, kau pulang saja dulu, tidur yang cukup."
Zhao Xiaoning berkata, "Bibi, kalau ada apa-apa, bilang saja sekarang. Tak perlu menunggu malam."
"Ngomong apa kau ini, cerewet!" Wu Cuilan melotot, membuat Zhao Xiaoning tak berani bicara lagi.
Setelah berbincang singkat, Zhao Xiaoning memanggul bangkai serigala dan pulang ke rumah. Wu Cuilan mengernyit, bertanya-tanya dalam hati, "Kenapa Zhao Xiaoning bisa sehebat itu? Bisa-bisanya membunuh serigala sebesar itu, paling tidak beratnya tujuh atau delapan puluh jin. Dari mana ia dapat tenaga membopong serigala turun gunung?"
Setelah teringat goji sudah matang, Wu Cuilan tak membuang waktu, segera pulang, mengambil keranjang bambu, dan naik ke gunung bersama Wang Jing.
Zhao Xiaoning sampai di rumah, langsung mengambil baju bersih, menimba dua ember air sumur, dan mandi di halaman. Ia sama sekali tak menyadari ada sepasang mata yang mengintip penuh cahaya dari kejauhan.
Sejak tahu Zhao Xiaoning menaruh hati padanya, Li Cuihua memang ingin berbincang tentang masa depan mereka. Ia kira kemarin saat jualan semangka Zhao Xiaoning akan datang membantu, tapi nyatanya ia tak menampakkan batang hidung. Li Cuihua tahu, Zhao Xiaoning sedang menghindarinya.
Karena itulah, pagi-pagi sekali ia datang mencarinya, namun tak menyangka akan melihat pemandangan yang membuat wajahnya memerah.
"Ternyata bulunya sudah tumbuh sempurna," gumam Li Cuihua dengan wajah merah dan sorot mata penuh hasrat. Tanpa melihat langsung, ia tak menyangka betapa mengejutkannya.
Meski Zhao Xiaoning baru enam belas tahun dan belum dewasa, tubuhnya berkembang luar biasa. Hal itu membuat Li Cuihua semakin menginginkannya.
"Bahkan lebih panjang dari mentimun yang kupakai kemarin," pikir Li Cuihua. Tubuhnya terasa panas, seolah gunung berapi siap meletus, membakar nafsunya, membakar sisa-sisa akal sehatnya.
Dengan langkah perlahan, ia mendorong pintu dan masuk diam-diam.
Saat itu, Zhao Xiaoning sedang mandi. Di rumah memang tak ada orang, ia pun merasa santai dan tidak waspada sedikit pun.
Ketika ia hampir selesai mandi, tiba-tiba sepasang lengan lembut memeluknya dari belakang. Tubuhnya langsung merinding dan spontan ingin melepaskan diri.
Namun saat itu, terdengar suara malu-malu dan gugup, "Xiao Ning, biar Bibi bantu menggosok punggungmu."