Bab Tujuh: Mengobati dan Menyelamatkan Nyawa

Penduduk Perkasa Tak Terkalahkan Bergelut dan berjuang keras 2289kata 2026-03-06 06:32:35

Tiba-tiba, seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh atau delapan tahun berlari masuk dengan tergesa-gesa. Tingginya kira-kira satu meter tiga puluh, bertelanjang dada, hanya mengenakan celana dalam, dan saat ini ia terengah-engah dengan napas berat.

“Gendut, kenapa kamu datang?” tanya Zainudin tak tahan.

Meski banyak orang di Dusun Keluarga Zainudin yang kurang suka padanya, anak-anak tetaplah polos, mereka tak pernah menaruh dendam mendalam pada Zainudin.

Gendut berbicara dengan napas tersengal, “Paman Zainudin, Kak Tujuh sakit. Kakak Min bilang harus dibawa ke rumah sakit di kota kecil, minta tolong Paman ambilkan gerobak tangan.”

Dusun Keluarga Zainudin memang tak pernah makmur, dulunya ada satu traktor, tapi sejak seluruh pria dewasa di desa tertimpa musibah, tak ada lagi yang bisa mengoperasikannya. Kini, Kak Tujuh sakit dan harus ke rumah sakit, jadi mereka butuh gerobak tangan. Sebagai satu-satunya pria yang masih sehat di desa, meski Zainudin kurang disukai, nyawa dipertaruhkan, mau tak mau dia juga yang harus menarik gerobak.

Tanpa berpikir panjang, Zainudin segera mengikuti Gendut menuju rumah Kak Tujuh.

Saat itu, di rumah Kak Tujuh sudah berkumpul lebih dari dua puluh orang, selain beberapa anak kecil, kebanyakan perempuan berusia sekitar tiga puluh hingga empat puluh tahun.

Walaupun mereka meminta Zainudin mengantar Kak Tujuh ke kota kecil, tiap orang yang melihatnya memancarkan tatapan penuh dendam, tak satu pun yang menyapanya dengan ramah.

Di atas ranjang, seorang gadis remaja berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun tampak pucat, memegangi perutnya sambil merintih, keringat sebesar biji jagung mengalir di wajahnya.

Ketika melihat Zainudin datang, seorang gadis berusia delapan belas atau sembilan belas tahun, mengenakan kaos putih dengan celana jins biru muda, rambut diikat sanggul, yakni Kak Min, berkata, “Zainudin, Kak Tujuh kena radang usus buntu akut, harus segera dioperasi. Tolong kau tarik gerobak, antar dia ke kota kecil.”

“Kak Min, menurutku Kak Tujuh bukan kena usus buntu,” kata Zainudin.

Kak Min mengerutkan kening, memandangnya dengan tidak senang, “Zainudin, yang dokter itu aku atau kamu?”

“Zainudin, kalau kau memang tak mau mengantar anakku ke rumah sakit, bilang saja!” tegur seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan dengan wajah suram. Dia adalah Jaleha, ibu Kak Tujuh.

Zainudin buru-buru berkata, “Bibi, jangan marah. Bukan aku tak mau mengantar, hanya saja Kak Tujuh tidak perlu ke rumah sakit. Dia cuma kena radang lambung dan usus akut.”

Mendengar kata-kata Zainudin, Kak Min tersenyum sinis, “Katanya, tiga hari saja orang bisa berubah, Zainudin, ternyata kau juga paham ilmu kedokteran ya?”

Sebelumnya, Zainudin memang tak paham soal pengobatan, tapi sejak mewarisi ilmu dari Dewa Tani, penyakit ringan seperti ini bisa langsung dikenali olehnya.

Perlu diketahui, Dewa Tani selain dikenal sebagai pelopor pertanian, juga sangat mahir dalam pengobatan, terutama kisahnya mencicipi ratusan tanaman obat sudah sangat terkenal.

“Maksudmu, kau bisa menyembuhkan anakku?” tanya Jaleha.

Zainudin mengangguk, “Aku bisa menyembuhkan Kak Tujuh.”

“Zainudin, kau tahu tidak, menyelamatkan nyawa itu seperti memadamkan api. Kondisi Kak Tujuh tidak baik. Kalau memang tak mau mengantarnya ke kota kecil, bilang saja, jangan bicara besar di sini,” ujar Kak Min dengan nada kesal. Keluarganya memang turun-temurun berprofesi sebagai tabib, walaupun ia baru saja mengambil alih tugas ayahnya, tapi sejak kecil ia sudah belajar ilmu pengobatan dan cukup mahir. Jika ada warga desa yang sakit kepala atau demam, biasanya ia yang meracikkan obat. Kini Zainudin malah menuduhnya salah diagnosis dan bilang bisa menyembuhkan Kak Tujuh, jelas saja ia merasa harga dirinya diinjak-injak.

Zainudin menatap Jaleha, “Bibi, aku tahu kalian semua tak percaya padaku, tapi aku jamin bisa menyembuhkan Kak Tujuh.”

Entah mengapa, Jaleha merasa Zainudin yang sekarang berbeda dari sebelumnya. Ia tak lagi terlihat penakut saat berhadapan dengannya, malah kini tampak lebih percaya diri.

“Kalau begitu, coba saja,” ujar Jaleha, melihat gerobak tangan belum juga diambil dari ujung timur desa.

Zainudin langsung berjalan ke sisi ranjang, “Kak Tujuh, rebahkan badanmu, jangan banyak bergerak. Aku akan memijatmu, sebentar lagi juga sembuh.”

Wajah Kak Tujuh pucat, namun ia mengangguk pelan dan menggigit bibirnya. Tak lama kemudian, ia merasakan kedua tangan hangat menempel di perutnya, memijat dengan lembut. Rasa nyeri yang tadinya menusuk perlahan menghilang.

Melihat pemandangan ini, semua orang di sekeliling memperlihatkan ekspresi tak percaya. Hanya dengan pijatan ringan, Kak Tujuh langsung tak lagi mengeluh kesakitan, sungguh luar biasa!

Yang paling terkejut tentu Kak Min, ia tak menyangka Zainudin benar-benar meringankan derita Kak Tujuh. Bagi dirinya, ini sulit untuk diterima. Meski semua orang diam, tatapan ke arah Zainudin berubah, jelas-jelas mengakui kemampuan pengobatannya. Wajah Kak Min langsung memanas, ingin rasanya ia menghilang dari sana.

Sekitar tiga menit kemudian, Zainudin menarik kembali tangannya, wajahnya tampak agak letih. Untuk mengobati Kak Tujuh, ia menghabiskan seluruh tenaga dalamnya.

“Anakku, bagaimana kondisimu?” tanya Jaleha penuh perhatian.

Kak Tujuh bangkit dari ranjang, wajahnya sudah merah merona, “Bu, aku sudah sembuh.” Ia juga melirik ke arah Zainudin, “Kak Zainudin, terima kasih sudah menyelamatkanku.”

Mendengar panggilan “Kak Zainudin”, seketika rasa lelah Zainudin lenyap. Sebelumnya, Kak Tujuh selalu memanggil namanya begitu saja, sekarang ia merasa usahanya benar-benar berarti.

Jaleha berkata datar, “Zainudin, meski kau sudah menyelamatkan anakku hari ini, jangan harap aku akan berterima kasih padamu. Pergilah, mulai sekarang kita tak saling berhutang apa pun.”

Zainudin berseri-seri, setelah berpamitan dengan sopan, ia melangkah pergi dengan tubuh lemah. Sesampainya di luar rumah Kak Tujuh, ia duduk terkulai di bawah pohon trembesi di pinggir jalan.

Meski lemah dan kepalanya pening, kegembiraan karena akhirnya diterima oleh orang-orang membuat Zainudin hampir menangis.

“Zainudin, dari mana kau bisa ilmu pengobatan?” Kak Min menghampirinya, memandang Zainudin dengan tatapan rumit, benaknya dipenuhi tanda tanya besar.

Zainudin tertegun sejenak lalu berkata, “Beberapa hari lalu aku masuk ke gunung dan menemukan sebuah kitab pengobatan, aku belajar dari situ.”

“Kitab pengobatan itu mana? Biar aku lihat,” perintah Kak Min dengan nada tak bisa dibantah.

Zainudin menjawab canggung, “Kitab itu tak sengaja terbakar olehku.”

Tentang warisan Dewa Tani, Zainudin memang tak mau menceritakannya pada siapa pun. Perkara itu terlalu aneh dan tak masuk akal, sekalipun ia bilang, orang pasti menganggapnya gila. Mau tak mau, ia harus berbohong.

Tentu saja Kak Min tak percaya, ia hanya mendengus, “Pelit banget.” Lalu ia pergi dengan kesal.

Melihat punggung Kak Min yang menjauh, Zainudin menghela napas lega. Akhirnya, ia berhasil mengelabui masalah ini.

Setelah beristirahat sebentar, Zainudin kembali ke rumah, duduk bersila, mengucapkan mantra Dewa Tani, memulai latihan.

Peristiwa menyembuhkan Kak Tujuh hari ini membuat Zainudin mendapat banyak pelajaran. Ia sadar, jika ingin menghapus rasa benci dan jarak dari seluruh warga desa terhadap dirinya, mungkin ia harus berjuang lebih keras di bidang menyembuhkan dan menolong mereka.