Bab Tujuh Puluh Enam: Burung Penggoda Besar
Melihat burung kecil yang terbang masuk dan mendarat di atas meja makan, Deng Yanru tertegun, wajahnya dipenuhi keterkejutan, “Xiao Ning, tadi yang bicara itu dia?”
“Cantik, kau boleh memanggilku Kakak Tujuh,” ujar burung kecil itu dengan dada membusung.
“Astaga, apa ini burung dewa?” Deng Yanru menarik napas dalam-dalam. Burung beo bisa menirukan suara manusia, bahkan bisa belajar bernyanyi, itu sudah hal biasa. Tapi burung yang mampu mengungkapkan pikirannya sendiri dan bercakap-cakap dengan manusia, itu baru sesuatu yang belum pernah ia dengar.
Saat itu, perasaan tak terungkap membuncah di hati Deng Yanru. Terlebih lagi, burung kecil itu mengenakan bulu tujuh warna indah, membuatnya langsung jatuh hati pada makhluk menggemaskan tersebut.
Burung kecil itu terbang ke bahu Zhao Xiaoning, lalu berkata dengan nada rendah hati, “Cantik, Kakak Tujuh ini bukan burung dewa. Burung dewa yang sesungguhnya bisa membesar dan mengecil, seperti tongkat ajaib. Misalnya bosku, dia punya burung dewa.” Ucapannya disertai pandangan ke arah kaki Zhao Xiaoning.
Mengikuti arah pandang burung kecil itu, wajah Deng Yanru langsung memerah. Teringat ucapan si burung tadi, ia jadi malu dan marah, “Burung genit, burung cabul! Mau kutarik bulu-bulumu satu-satu nanti!”
“Jelas saja, dengan kecepatanmu, kau takkan pernah bisa menangkap Kakak Tujuh,” balas burung kecil itu sambil tergelak.
Zhao Xiaoning berkata dengan geram, “Kakak Tujuh, diam bisa? Kalau kau diam pun tak ada yang mengira kau bisu!”
Burung kecil itu menjawab dengan sok bijak, “Ini demi kebaikanmu juga. Kau sudah sebesar ini, masa urusan pribadi masih mengandalkan tangan kanan? Carilah wanita, biar tangan kananmu bebas dan burung dewamu hangat, bukankah itu menguntungkan? Aku terbang, aku terbang, aku terbang...”
“Sialan! Syukurlah kau cepat kabur, kalau tidak sudah lama kubuat sup dari dagingmu! Sejak kapan aku pakai tangan kiri?” Zhao Xiaoning benar-benar marah.
Burung kecil itu berhenti di pintu, mengepakkan sayapnya dan bertanya, “Berani sumpah tidak pernah pakai tangan? Kalau bohong, nanti lemas seumur hidup, lho.”
“Aku... aku pernah pakai tangan kiri,” Zhao Xiaoning langsung melemah. Sebagai anak muda remaja, siapa yang tak pernah begitu? Sepertinya itu bukan hal yang memalukan.
Deng Yanru melongo. Apakah dua orang ini memang aneh semua? Satunya lebih parah dari yang lain... Terutama Zhao Xiaoning, dia benar-benar seperti serigala berbulu domba.
“Cantik, jangan lihat usianya baru enam belas, tapi miliknya sudah seperti milik yang umur enam puluh satu, besar lho. Tongkatnya besar, kerjanya bagus, tak lengket, jangan sampai menyesal,” goda burung kecil itu sambil tersenyum nakal.
“Pergi sana, makin jauh makin baik!” Zhao Xiaoning melepas sepatunya dan melempar ke arah burung kecil itu. Sayangnya, si burung dengan lincah menghindar dan tertawa aneh, lalu entah terbang ke mana.
“Kakak Ru, memang begitu sifat si burung. Jangan diambil hati, ya. Kalau kau tak suka, besok kupastikan dia jadi sup,” ujar Zhao Xiaoning buru-buru melihat wajah Deng Yanru yang muram.
“Kalau aku tak suka padamu, apa kau juga akan memasak dirimu sendiri?” Deng Yanru memelototinya dengan kesal.
“Aku...” Zhao Xiaoning kehabisan kata.
Deng Yanru berdiri, berkata, “Aku agak lelah, mau tidur dulu.” Ia pun melangkah menuju kamar.
Zhao Xiaoning jadi murung. Awalnya ia pikir tinggal seatap dengan guru cantik akan jadi hal yang menyenangkan, siapa sangka gara-gara burung kecil itu suasana jadi rusak.
Sudah pukul sembilan malam, Zhao Xiaoning baru teringat kalau hari itu ia belum merebus ramuan penyejuk tubuh. Ia pun keluar, mengambil air, menyalakan api, dan mulai merebus ramuan.
Deng Yanru memang sedikit lelah, namun baru pindah ke lingkungan asing membuatnya sulit tidur. Terlebih lagi, sebagai wanita yang kodratnya kurang rasa aman. Melihat cahaya api dari luar jendela, ia pun mengernyit. Malam-malam begini kok ada cahaya api?
Digerakkan rasa penasaran, Deng Yanru mengintip melalui celah tirai.
Di depan tungku, Zhao Xiaoning tampak duduk serius, wajahnya penuh perhatian. Sesekali ia memasukkan ramuan ke dalam panci, sesekali menambah kayu ke tungku.
Cahaya api menyorotkan siluet wajah bocah remaja yang polos namun menawan. Terutama kesungguhan di wajah itu, membuat hati Deng Yanru berdebar tak menentu. Ia memang paling suka pria yang serius dalam melakukan sesuatu. Meski Zhao Xiaoning pernah jadi muridnya, tapi ada perasaan yang tak bisa dipungkiri.
Ketika kantuk mulai menyerang, barulah Deng Yanru kembali ke ranjang. Meski rasa aman masih kurang, tapi dengan Zhao Xiaoning di luar, ia jadi lebih tenang. Tak lama kemudian, ia pun terlelap.
Setelah ramuan selesai, Zhao Xiaoning melirik jam. Sudah pukul setengah empat dini hari. Bahkan ia sendiri tak tahan menahan kantuk, lalu menguap lebar.
Usai membasuh muka, Zhao Xiaoning kembali ke kamar, melepas pakaian, hanya mengenakan celana dalam, lalu duduk bersila di atas tempat tidur.
Ia sudah terbiasa berlatih, sampai lupa rasanya tidur. Meski disebut latihan, perasaan tenggelam dalam latihan itu jauh lebih menyegarkan daripada tidur.
Saat Zhao Xiaoning tengah berlatih, burung kecil itu menggigit seekor ulat bulu dan terbang dalam gelap menuju kamar Deng Yanru. Walau jendela tertutup, rumah di desa biasanya memiliki cerobong asap, sebab musim dingin tanpa AC atau pemanas, orang-orang biasa membakar arang untuk menghangatkan ruangan.
Melihat Deng Yanru yang tengah tertidur, burung kecil itu membatin, “Bos, aku hanya bisa membantumu sampai di sini. Sisanya tergantung kemampuanmu sendiri.”
Dengan pikiran begitu, burung kecil itu membuka paruhnya. Ulat bulu sepanjang belasan sentimeter, sebesar rokok, langsung jatuh di leher Deng Yanru.
Melihat itu, mata burung kecil itu berkilat, lalu terbang keluar diam-diam, menyembunyikan jasa besarnya...
“Aaaah~~~”
Zhao Xiaoning sedang berlatih ketika tiba-tiba terdengar jeritan nyaring yang membuatnya nyaris jatuh dari tempat tidur. Suara itu sarat ketakutan dan kecemasan.
Tanpa pikir panjang, Zhao Xiaoning bahkan tak sempat mengenakan sepatu, langsung berlari ke depan pintu kamar Deng Yanru, bertanya cemas, “Kak Ru, ada apa?”
Kriiit!
Pintu kamar terbuka, Zhao Xiaoning langsung disambut aroma wangi, lalu sosok lembut dan elastis itu menubruk ke pelukannya.
“Uuuhuuu...” Deng Yanru terisak.
Zhao Xiaoning berkata khawatir, “Kak Ru, jangan menangis dulu. Ceritakan padaku apa yang terjadi. Apa kau mimpi buruk?”
Sambil terisak, Deng Yanru berkata, “Tadi waktu tidur, aku merasa ada sesuatu merayap di tubuhku, berbulu dan sangat menakutkan.”
Mendengar itu, Zhao Xiaoning nyaris tertawa. Ulat bulu saja, kenapa harus setakut itu? Waktu kecil, aku pernah menindih ular saat tidur pun tidak sampai begitu.
Tentu saja, itu hanya dalam hati Zhao Xiaoning. Bagaimanapun, wanita memang lebih penakut dibanding pria.
“Beginilah di desa, tenang saja, aku akan menangkap dan membunuhnya. Besok cerobong asap akan kututup, lalu kupasang kelambu di tempat tidurmu, pasti takkan terjadi lagi,” ujar Zhao Xiaoning pelan menenangkan.
Deng Yanru mengangguk, lalu melepaskan pelukan pada Zhao Xiaoning. Napasnya terburu-buru, tanda ia benar-benar ketakutan.
Saat itu, Zhao Xiaoning pun meraba saklar lampu di pintu, menekannya pelan, dan seketika kamar yang semula gelap menjadi terang.
Begitu ruangan terang, Zhao Xiaoning langsung menahan napas, sebab Deng Yanru berdiri di hadapannya tanpa sehelai benang pun.
Melihat itu, Zhao Xiaoning seperti disambar petir, tubuhnya langsung membeku.
(Bersambung)