Bab Lima Puluh Lima: Dewa Kegelapan
“Menamai?” Dengan tatapan kosong, Chang Fengyu menatap segel giok hitam di lautan kesadarannya. Seketika jiwanya terguncang, sebab ia dapat merasakan bahwa hawa dingin, aura dendam yang meluap, dan kekuatan jahat dalam segel itu sama sekali tak berdampak padanya. Sebaliknya, ketika ia merasakannya lebih dalam, sebuah kehangatan misterius mengalir masuk ke dalam jiwanya.
Rasanya seperti saat dirinya menembus batas dalam latihan jiwa.
“Jangan-jangan... inikah yang disebut kekuatan harapan dari dupa? Pengadilan Akhirat berbasis segel giok ini sudah terbentuk, bahkan telah kutempa menjadi pusaka?” Hatinya bergetar. Chang Fengyu segera menelusup masuk ke dalam segel giok itu. Di dalamnya, tak terhitung roh halus sedang berdoa dan memuja sang kaisar. Sementara itu, sebuah pelangi emas perlahan terkumpul di atas kepala sang kaisar—itulah kekuatan harapan.
“Ha ha ha ha, segala sesuatu di Dunia Bawah tetap milikku. Buku Kehidupan dan Kematian masih di tanganku. Anak muda, selama aku mendapat dukungan kekuatan harapan, tak lama lagi Pengadilan Akhirat akan sepenuhnya berdiri. Saat itu, tubuhmu akan kududuki, dan aku akan menguasai dunia terang dan gelap sekaligus!” Melihat sang kaisar di tengah altar yang tunduk penuh hormat, entah kenapa, di lubuk hati Chang Fengyu bergema suara liar dan kejam yang sangat jelas. Maksudnya terang: sang kaisar hanya sedang menunda waktu, menipu dan menantinya lengah untuk merebut tubuhnya.
“Apa yang terjadi? Segel giok ini jelas sudah kutempa, tapi masih memintaku menamai, namun ia tetap dikendalikan oleh sang kaisar. Dari kekuatan harapan yang terkumpul, sembilan puluh sembilan persen diserap olehnya. Namun semua suara hati mereka bisa kudengar dengan jelas. Mungkinkah karena aku belum melatih jiwa sejati, sehingga belum mampu mengendalikan seluruh Pengadilan Akhirat?”
Tadi Xiaobai bilang, di Pengadilan Akhirat ada jabatan dewa yang wajib dipuja, dan dia mengajarkanku cara menerima kekuatan harapan. Namun akhirnya kaisar itu yang memanfaatkannya, berpura-pura patuh di depanku, menunggu waktu yang tepat untuk merebut tubuhku. Untunglah segel giok ini sudah kutempa, sehingga aku mengerti niatnya... Dalam kondisi begini, aku harus segera mempelajari cara melatih jiwa sejati!
Berpikir demikian, Chang Fengyu langsung mengambil metode latihan jiwa sejati peninggalan biksuni dari Sekte Langit Dewa, lalu mulai mempelajarinya.
“Eh? Ada apa ini? Cara melatih jiwa sejati ini berbeda dengan yang pernah kulihat sebelumnya. Tak ada pembagian tingkat, sepenuhnya hanya metode menempah kesadaran agar jiwa kuat. Ini...” Baru mempelajari sebentar, Chang Fengyu sudah mengernyit. Walau ia belum pernah sungguh-sungguh melatih jiwa sejati, tapi ia tahu bahwa metode ini jauh di bawah kitab ‘Jalan Dewa’ yang ia miliki—perbedaannya bagaikan langit dan bumi.
“Bao Jiu, kau juga melatih cara jiwa sejati dari Sekte Gunung Bao. Bisa kau ceritakan padaku?” Matanya berkilat, melihat Bao Jiu yang baru saja berhasil menaklukkan arwah kerangka. Ia tampak asyik mengamati makhluk itu, sama sekali tak peduli walau si zombie wanita cantik itu terus digoda.
“Kau tak punya metode latihan jiwa sejati? Berarti catatan Sekte Gunung Bao yang kau dapat hanyalah fragmen, tanpa inti latihan ini. Cara jiwa sejati Sekte Gunung Bao disebut ‘Mantra Penempaan Dewa Bao’. Begini caranya...” Setelah Bao Jiu selesai menjelaskan dan mengajarkan prinsip dasarnya, Chang Fengyu kembali kecewa. Ternyata, metode ini pun tak jauh beda dengan yang dari biksuni tadi—sama sekali bukan teknik tingkat tinggi.
Kalau begitu...
Kening Chang Fengyu perlahan mengendur. Matanya memancarkan tekad tanpa batas. Ia mengangkat tangannya, menyimpan kembali gulungan giok itu, lalu dengan hati-hati mulai merenungi kitab ‘Jalan Dewa’ miliknya sendiri.
Mantra dalam kitab ini memang sulit dimengerti, namun bukan berarti tak bisa dipelajari. Kini ia menyadari, kitab ini adalah harta yang luar biasa. Barangkali Hu Xiangxiang pun tak mampu melatihnya, hanya menjadikannya kelinci percobaan...
Dengan tekad bulat, Chang Fengyu pun perlahan mengalirkan kesadarannya, mulai melatih diri dengan metode dalam kitab itu, meski terasa kikuk.
“Wummm—” Namun di saat ia memusatkan perhatian melatih metode itu, tiba-tiba sang kaisar menjerit. Kekuatan harapan yang menyelubungi tubuhnya seketika tercerai-berai, melesat ke langit hitam di atas kepalanya, lalu langsung masuk ke lautan kesadaran Chang Fengyu.
Chang Fengyu tak menyadari betapa berbahayanya latihan ini. Jalan Dewa bukan sekedar melatih jiwa sejati. Tanpa sesajen dupa dan perlindungan kekuatan harapan, sangat mudah diganggu kekuatan luar dan jiwa bisa hancur berantakan! Untunglah ada kekuatan harapan yang menopang, jika tidak, bahkan dewa agung pun tak dapat melindungi jiwa kecilnya dari kehancuran.
Kekuatan harapan terkumpul sedikit demi sedikit, perlahan menyelimuti jiwa Chang Fengyu. Dalam penglihatannya, bentuk-bentuk aneh mulai bermunculan: burung bangau abadi, harimau putih, burung phoenix, burung keberuntungan, naga sakti... hingga akhirnya istana megah, peri-peri cantik, anak-anak dewa...
“Terdengar ledakan—” Tiba-tiba Chang Fengyu merasakan ada sesuatu menghantam keras jiwanya, tapi alih-alih sakit, ia merasa seakan menelan pil keabadian—jiwanya terasa ringan, lapang, dan sangat segar.
“Dewa Akhirat!” Mendadak, dalam benaknya muncul sosok raksasa berwarna hitam, tinggi berjuta-juta depa, mengenakan mahkota datar, bersandal penakluk awan, diselubungi kabut hitam yang tak mampu menyembunyikan wibawanya yang luar biasa. Kekuatan harapan berkumpul pada kabut hitam itu, dan begitu kabut sirna, tampaklah jubah naga kuning gelap.
Chang Fengyu merasa heran, mengapa tiba-tiba sosok dewa yang tak pernah ia lihat itu hadir dalam pikirannya. Seketika ia merasakan jiwanya tertarik kuat oleh patung raksasa tersebut, dan ia benar-benar masuk ke dalam segel giok Pengadilan Akhirat.
“Ah—” Saat sosok raksasa itu turun, Chang Fengyu mendengar jeritan pilu sang kaisar yang sebelumnya menipunya. Ia menoleh, hanya untuk melihat kaisar itu diliputi bayangan raksasa, tubuhnya perlahan-lahan terurai, tercerai, dan akhirnya terserap ke dalam tubuh raksasa itu.
Bersamaan dengan itu, Chang Fengyu merasa tubuhnya seolah menjauh, dan seluruh jiwanya semakin tersedot ke dalam sosok raksasa tersebut, seakan dirinya telah berubah menjadi patung dewa itu sendiri.
Namun sesaat kemudian, jiwanya bergetar hebat. Dalam sekejap, segudang informasi membanjiri kesadarannya. Ia merasa lelah, pikirannya limbung.
Namun di ambang kesadaran, ia akhirnya melihat jelas wajah yang tersembunyi di balik kabut hitam itu. Di saat yang sama, dua kata bergema berat di lubuk hatinya—Dewa Akhirat!
“Mohon beri nama!” Suara yang sama kembali terdengar. Namun detik berikutnya, suara serak penuh kepiluan menggelegar lagi, melantunkan dua kata—Sembilan Lembah...