Bab 1: Menengok Jalan yang Telah Ditempuh

Kembali ke Dinasti Han Menjadi Guru Hao Zhao 2497kata 2026-03-04 12:40:17

Menembus kabut tebal yang menyelubungi jalan, Yan Ming tiba-tiba merasa kebingungan. Jalan pulang ke kampung halaman yang telah dilaluinya berkali-kali itu, kini setelah melewati kabut tebal, justru lenyap di depan matanya. Sebagai gantinya, hamparan padang rumput tak berujung yang liar dan asing membentang luas.

Yan Ming melompat turun dari minibus butut yang bunyinya nyaris berasal dari segala sudut kecuali klaksonnya, lalu memandang sekeliling dengan cemas. Kabut tebal yang tadi datang mendadak itu kini telah sirna, dan Yan Ming terkejut mendapati dirinya telah kehilangan jejak jalan yang ia lalui. Jalan aspal yang seharusnya ada di belakang mobil, berubah menjadi padang rumput tak bertepi. Kini, ia dan minibus itu terdampar di tengah hamparan luas tersebut.

Saat itu awal musim semi, langit luas membiru, awan tipis berarak, rerumputan liar mengering, tunas-tunas muda menunggu waktu untuk tumbuh. Pada saat segala sesuatu tengah bangkit kembali, kehidupan baru bermunculan, Yan Ming menoleh ke belakang, mencari jejak jalan pulang, namun ia justru tersesat di tanah luas tak berujung ini.

Ia menghirup udara segar dalam-dalam, lalu kembali duduk di kursi pengemudi. Sekilas ke cermin spion, ia melihat benih yang sudah ia siapkan untuk rumah bibinya di desa masih utuh di dalam mobil. Benih itu harus sampai ke rumah bibi sebelum siang, dan malamnya ia masih harus kembali ke kota untuk mengajar di bimbingan belajarnya.

Namun sesaat kemudian, Yan Ming semakin kebingungan. Di cermin spion, ia melihat wajah yang sangat ia kenal namun tampak jauh lebih muda, menatap balik kepadanya dengan ekspresi sama bingungnya.

"Aa!" Yan Ming menjerit, lalu mencubit-cubit wajahnya dengan keras. Sosok di cermin juga melakukan hal yang sama.

"Inilah wajahku saat SMP!" Wajah Yan Ming berubah-ubah, ia teringat masa mudanya yang hampir dua puluh tahun telah berlalu. Melihat wajah di cermin yang hanya berumur sekitar empat belas atau lima belas tahun, Yan Ming merasa seperti sedang bermimpi. Ia memandangi tangannya, kulit yang biasa pecah-pecah karena kapur selama bertahun-tahun telah hilang, yang terlihat kini hanyalah sepasang tangan bersih dan putih.

"Benar-benar aku kembali ke usia empat belas-lima belas tahun," Yan Ming merasa agak bersemangat.

Namun ia segera sadar dan waspada—sekarang ini tahun berapa? Duduk di dalam mobil, ia memandang ke sekeliling. Padang rumput yang luas menghampar tanpa batas, tidak ada tiang listrik, tidak ada satu pun jejak teknologi modern.

Ia kembali menghirup napas dalam-dalam, namun kini ia tertegun.

"Brap brap brap—" Saat ia memutar kunci, minibusnya bergetar hebat, mengeluarkan suara aneh yang jelas bukan dari zaman ini.

"Aku harus menemukan jalan pulang!" Meski tubuhnya kembali muda, Yan Ming kini lebih dikuasai oleh rasa takut dan cemas daripada kegembiraan. Bisnis bimbingan belajar yang ia jalankan baru saja mulai berkembang, hidupnya mulai membaik, bahkan dengan kekasihnya baru saja merencanakan pernikahan. Segalanya seolah mulai membaik.

"Hanya mengantar benih saja, kan? Jalan ini sudah kulalui ribuan kali, kenapa bisa begini?"

"Tuhan, jangan bercanda denganku. Aku cuma guru bimbel."

"Sialan, ke mana jalanku?"

Di tengah padang luas itu, Yan Ming melajukan minibus tuanya dengan gila-gilaan, mencari jalan pulang. Ia melihat kawanan kuda liar berlari ketakutan, juga serigala yang berjalan menyendiri di padang, serta banyak binatang lain yang hanya pernah ia lihat di acara dunia satwa...

"Tidak..." Di lubuk hatinya, Yan Ming mulai merasakan keputusasaan, ia menekan pedal gas sekuat tenaga.

Minibus itu meraung, lalu melompat melewati sebuah gundukan tanah di padang. Saat mendarat, suara benturan keras terdengar. Tanah di bawahnya berlubang besar akibat hantaman minibus.

Yan Ming terjebak di lubang besar itu dengan sangat kacau.

"Tuhan ingin mengerjaiku!" Dengan kepala pening, Yan Ming merangkak keluar dari dalam mobil dengan susah payah. Untungnya, lubang itu tidak terlalu dalam, cukup untuk menenggelamkan minibus.

"Sialan!" Yan Ming mengumpat, lalu menepuk keningnya dengan keras. Ia mulai meraba tubuhnya, mengeluarkan telepon genggam.

Ia berniat mencari lokasi, meminta bantuan keluarga, atau menelepon polisi.

Saat layar ponsel menyala, yang muncul bukan lagi tanggal di tahun 2020, melainkan tahun 140 sebelum Masehi.

"Sial!" Yan Ming menggoyang-goyang ponsel dengan kesal. Mungkin ponselnya rusak akibat benturan saat mobil masuk lubang. Ia mencoba membuka layar, namun tak ada sinyal sama sekali. Saking kesalnya, ia hampir melemparkan ponsel itu.

"Masih saja tahun 140 SM. Sial, mau-mau saja aku dikirim jalan-jalan ke Dinasti Han." Yan Ming, yang memang penggemar sejarah, mengumpat lagi, tapi tetap memasukkan ponsel ke sakunya.

Teringat perubahan usia dan wajahnya, tubuh Yan Ming tiba-tiba bergetar. Jangan-jangan benar-benar melintasi waktu?

Meski pikiran itu muncul, ia buru-buru menepisnya sendiri.

"Mana mungkin ada hal seperti perjalanan lintas waktu," pikir Yan Ming sambil menggeleng. Namun wajah mudanya tetap terasa terlalu aneh untuk diterima.

"Tampaknya aku harus berjalan kaki keluar dari tempat terkutuk ini." Yan Ming menatap minibus yang terperangkap di lubang, berpikir sejenak, lalu membuka pintu dan mengambil ransel, selembar plastik, serta sekop lipat yang ia beli dari internet.

Plastik itu tadinya akan digunakan untuk menutupi lahan di rumah bibinya, kini dipakai untuk membungkus minibus agar terlindung. Kalau tidak, tanah di bawah lembap, dalam waktu singkat minibus butut itu akan berkarat dan rusak. Setelah mengerahkan semua tenaga hingga hari hampir gelap, akhirnya minibus itu tertutup rapat oleh plastik. Yan Ming menepuk-nepuk tubuh minibus itu dan berbisik, "Tunggulah aku, kawan lama."

Minibus itu telah membantunya mengangkut barang dan murid-murid bimbel, bisa dibilang tumbuh bersama Yan Ming, seperti sahabat lama. Kini malam benar-benar tiba. Langit malam bertabur bintang yang sangat jelas.

Yan Ming mendongak, menatap ratusan bintang yang memenuhi langit, lalu menghirup udara yang begitu segar dan murni, kemudian menghela napas panjang.

Langit malam begitu jernih, bintang-bintang tampak jelas, udara pun begitu bersih seperti tak pernah terbayangkan. Semua keindahan ini justru menimbulkan kegelisahan di hati Yan Ming.

Dalam masyarakat yang sangat maju secara industri dan teknologi, langit dan udara seperti ini sudah puluhan tahun tak pernah ada.

Yan Ming merasa firasat buruknya sebentar lagi akan terbukti.

Mengangkat sekop lipatnya, ia melompat keluar dari lubang tempat minibusnya terperosok. Baru berjalan beberapa langkah, tanah tiba-tiba bergetar pelan.

"Brukkk!" Sekeliling lubang bekas jatuhnya minibus kembali ambles, debu tanah kuning mengepul.

Yan Ming bergegas mendekat sambil membawa sekop, dan menemukan minibusnya kini benar-benar terkubur oleh tanah yang longsor dari sekelilingnya.

"Kawan lama!" Yan Ming meratap, memandang sekeliling, lalu melihat sebuah pohon kecil berdiri sendiri tak jauh dari sana.

Ia mengayunkan sekop, membuka lipatan hingga menjadi tajam, lalu mengukir di batang pohon: "Makam Minibus". Setelah itu ia menepuk debu di tubuhnya, mendongak menatap langit.

Dilihatnya, pegangan Biduk Utara menunjuk ke timur, menandakan musim semi baru tiba. Tak jauh dari sana, Bintang Utara tampak redup terang silih berganti.

Yan Ming diam-diam mengingat letak pohon dan lubang itu, menentukan arah, lalu mulai berjalan menuju kota yang ia ingat.

Awal musim semi, suhu masih dingin menusuk. Tubuh Yan Ming menggigil ditiup angin malam.

Di kejauhan, di padang luas, satu demi satu cahaya hijau seperti bola api mulai bermunculan.

"Auuuu—" suara lolongan serigala yang pilu pun terdengar.