Bab 10 Saudara Dongfang Shuo
PS: Hari pertama tahun 2017, semoga semuanya mendapat kebahagiaan di tahun baru. Tahun 2017, harus bangkit! Hidup harus semakin bergairah, keluarga semakin makmur, segalanya semakin baik! ^_^
Musim semi baru saja tiba, belum memasuki masa sibuk bertani. Persaingan menulis di halaman keluarga Yan secara perlahan mulai menarik perhatian seluruh penduduk Dusun Maoling. Anak-anak kecil penuh rasa ingin tahu berlarian di antara kerumunan, tertawa dan bermain nakal. Beberapa anak yang sudah lama belajar pada Guru Huang tampak khawatir mendengarkan penilaian orang banyak, seolah-olah semua memuji tulisan Yan Ming yang indah.
Menghormati guru dan menjunjung moral adalah kebajikan turun-temurun bangsa kita. Anak-anak murid Guru Huang ini jelas mewarisi kebajikan tersebut. Mereka tidak ingin guru mereka kalah dalam perlombaan ini.
"Apa hebatnya menulis bagus?" seorang anak yang agak lebih dewasa cemberut. "Benar, guru pernah bilang, dulu ada seorang bernama Zhao Kuo, pinter segala hal, tapi waktu di medan perang, tetap saja kalah telak." Dua anak lain ikut membela guru mereka dengan berbagai alasan.
Kisah "Jamuan Hongmen" karya Sima Qian memiliki lebih dari seribu delapan ratus karakter. Menulisnya dengan kaligrafi gaya Shoujin menggunakan kuas membutuhkan waktu hampir satu jam baru selesai. Sementara di sisi lain, Guru Huang masih menulis dengan penuh semangat, tampak belum puas.
Yan Ming menatap Guru Huang yang sudah bermandi peluh, lalu berdiri dari tikar tempat duduk, sambil memijat kakinya yang kesemutan. "Meja ini benar-benar tidak manusiawi, duduk berlutut lama-lama, kaki jadi mati rasa, pinggang pegal, benar-benar menyiksa," ia membatin, namun tangannya tetap sibuk.
Hari ini, tulisan Yan Ming seolah mendapat ilham. Seluruh naskah "Jamuan Hongmen" yang ia tulis tidak ada satu pun kesalahan. Kaligrafi gaya Shoujin membuat tulisan itu tampak semakin tegas dan bertenaga.
Sementara Guru Huang masih sibuk menulis, di sisi lain, Dongfang Shuo tak kuasa menahan diri untuk mengamati tulisan Yan Ming. "Pasukan Peigong di Bashang... hanya tiga titik air pada karakter ‘Pei’ saja sudah luar biasa, satu goresan mendatar dan satu tegak, seperti paku perak dan besi, kuat penuh tenaga. Kekuatan goresan seperti ini, bukan hasil latihan sehari dua hari. Sungguh indah, sungguh indah!" Dongfang Shuo mengangguk-angguk sambil memuji.
Tak lama kemudian, ia pun terbawa oleh isi lengkap "Jamuan Hongmen" tulisan Yan Ming, dan tanpa sadar mulai membacanya dengan lantang.
Perlahan, semua orang mulai menyimak, dan seluruh halaman menjadi hening. Suara Dongfang Shuo yang naik turun, penuh emosi dan penjiwaan, membuat kisah "Jamuan Hongmen" terasa semakin dramatis dan memikat.
Bahkan Guru Huang yang belum selesai menulis, berangsur-angsur berhenti, mata tuanya mulai berbinar, seperti tengah mencicipi hidangan lezat, mengangguk-angguk menikmati.
Melihat ekspresi Guru Huang dan beberapa petani yang bisa membaca di sekitarnya, hati Yan Ming justru tidak dipenuhi kegembiraan karena menang, melainkan penuh rasa hormat yang dalam. Inilah orang yang benar-benar menekuni ilmu, tidak mudah terganggu oleh hal-hal luar. Dibandingkan, dirinya justru terasa sedikit rendah. Tapi tak ada cara lain, toh ia harus bertahan hidup di zaman ini, bahkan hidup dengan baik dan bermartabat. Tanpa membangun sedikit wibawa, langkah berikutnya akan semakin sulit.
Akhirnya, Dongfang Shuo sampai pada kalimat terakhir: "Peigong tiba di barisan, langsung menghukum mati Cao Wushang."
Semua orang, tua muda, pria wanita, bahkan Guru Huang, begitu mendengar kalimat itu, langsung bersorak meriah. Bahkan Yan Shan lupa bahwa itu adalah tulisan anaknya sendiri, Yan Ming, dan ikut bersorak bersama yang lain.
Para gadis sebayanya, yang sebelumnya memandang rendah Yan Ming, kini memandangnya dengan sorot mata penuh kekaguman. Di mata mereka, Yan Ming yang dulu sembrono dan nakal, kini tampak gagah, menawan, dan penuh pesona...
Guru Huang yang ikut bersorak, mendadak sadar akan posisinya sendiri. Ia pun terduduk lesu di tikar, sorot mata yang semula berbinar karena mendengar "Jamuan Hongmen" perlahan memudar, digantikan oleh kesedihan mendalam.
"Cao Wushang memang layak mati, berkhianat pada kawan sendiri."
"Zhang Liang memang pantas menjadi pahlawan pendiri Han, cerdas tiada banding."
"Menurutku, keberanian Fan Kuai yang paling patut dikagumi."
"Fan Zeng juga luar biasa, hanya saja sayang..."
"..."
Sebuah karya "Jamuan Hongmen" yang baru lahir di desa kecil ini, mengundang banyak pendapat dan pujian. Bagi Guru Huang, setiap komentar yang masuk ke telinganya bagai petir yang menyambar, membuatnya semakin malu.
Ia menunduk melihat karyanya sendiri. Meskipun cukup baik, dibandingkan dengan "Jamuan Hongmen" itu, ibarat kunang-kunang melawan cahaya matahari dan bulan.
Dengan helaan napas panjang, Guru Huang meletakkan kuasnya, meraih kertas kasar di meja, meremas dan menyobeknya hingga menjadi serpihan yang berjatuhan di lantai.
Baru saja hendak mengaku kalah, tiba-tiba matanya berbinar, seolah mendapat harapan terakhir, lalu berkata, "Yan Ming, tulisanmu memang luar biasa. Baik dari segi isi maupun tulisan, aku tak bisa menandingi. Tapi ada satu kekeliruan besar, yaitu menyebut Kaisar Gaozu dengan sebutan Peigong. Itu adalah penghinaan berat."
Orang-orang yang sedang menilai tulisan Yan Ming pun terdiam. Seluruh halaman keluarga Yan langsung sunyi senyap. Bahkan Dongfang Shuo yang terkenal cerdik pun sempat tertegun sebelum kembali menatap Yan Ming dengan tenang.
Namun Yan Ming dari awal hingga akhir tetap tenang, tampak sudah mengantisipasi langkah Guru Huang.
"Sejarah ditulis untuk dibaca generasi penerus. Sebutan pun harus selaras dengan waktu dan peristiwa. Saat itu, Kaisar Gaozu masih menempatkan pasukan di Bashang, di bawah komando Raja Chu, menyebutnya Peigong adalah bentuk penghormatan pada fakta sejarah. Inilah sedikit prinsipku, yaitu menulis apa adanya," Yan Ming menjawab dengan lugas.
"Sungguh prinsip menulis yang jujur! Baik dalam menuntut ilmu maupun bertindak, tak lepas dari ketenangan dan keteguhan hati seperti itu. Tulisanmu ini, serahkanlah padaku untuk kukoleksi, bagaimana?" seru Dongfang Shuo sembari merangkul pundak Yan Ming.
Yan Ming melirik ke arah ayahnya, Yan Shan, wajahnya sedikit memerah lalu berkata, "Tuan Dongfang adalah sahabat ayahku. Aku tak pantas menyebutmu sebagai saudara."
Dongfang Shuo sempat tertegun, Yan Shan justru tertawa lepas dari hati. Putranya, bukan hanya tulisannya luar biasa, isi tulisannya pun memikat, bahkan sikapnya kini semakin bijak dan tenang. Apakah keluarga Yan akan segera bangkit?
"Itu urusan gampang!" Dongfang Shuo memang selalu santai, ia berbalik dan langsung berlutut di depan Yan Shan, berseru, "Keponakan Dongfang Shuo, memberi hormat pada Paman Yan Shan!"
Setelah itu, ia mengedipkan mata pada Yan Ming sambil tersenyum, "Sekarang kita bisa jadi saudara, bukan?"
Yan Ming tercengang. Kabar bahwa Dongfang Shuo terkenal jenaka dan lincah ternyata benar adanya.
Guru Huang sudah tidak tahan menahan malu dan segera berdiri untuk pergi. Para tetangga yang gemar menonton keributan malah ramai-ramai menggoda Guru Huang agar berguru pada Yan Ming saja, membuat semua orang tertawa.
Untungnya Yan Shan dengan susah payah membujuk mereka, sehingga Guru Huang bisa pergi dengan selamat walau agak malu.
"Wahai semua, aku Yan Ming, mumpung hari ini semua berkumpul, ada beberapa hal yang ingin kusampaikan," seru Yan Ming saat melihat orang-orang mulai hendak bubar. Ia melangkah naik ke atas meja, berdiri di tempat tinggi dan berteriak.
Langkah kaki orang-orang pun terhenti. Setelah pertarungan hari ini, posisi Yan Ming di hati mereka telah berubah total.
"Tulisan dan karya yang kumiliki ini, semuanya dapat dipelajari. Keluarga Yan berniat mendirikan sekolah, dan guru pengajarnya adalah aku sendiri. Soal biaya, semuanya gratis. Asalkan saat musim tanam nanti, para tetangga membantu keluarga Yan menggarap sawah, itu sudah cukup sebagai pengganti biaya sekolah anak-anak," Yan Ming berseru lantang.