Bab Delapan Puluh Tiga: Pertemuan Tak Terduga
Zhao Xiaoning merasa sedikit tak habis pikir, apa di kepala Meng Tao selain wanita tidak ada hal lain? Apakah dia pria yang setiap melihat wanita langsung tergoda? Dasar, apakah dia tidak tahu bahwa hubungan tanpa cinta rasanya seperti bercinta tanpa pelumas?
“Kalian pergilah, aku mau istirahat.” kata Zhao Xiaoning datar, lalu langsung menutup pintu kamar. Tujuannya ke Tengchong sangat sederhana, membeli giok berkualitas tinggi untuk dipakai menyusun formasi pengumpulan energi di kampung halaman, jadi ia tidak akan membiarkan sepasang kakak beradik kembar itu memengaruhi fokusnya. Bagaimanapun, menyusun formasi itu adalah hal terpenting.
Setelah menggantungkan tanda ‘Jangan Ganggu’, Zhao Xiaoning mengirim pesan pada Lin Feifei, memberitahunya agar tidak menunggu untuk makan malam. Lalu ia duduk bersila dan mulai berlatih, karena suasana di Tengchong memang cukup baik, bahkan di siang hari pun masih bisa merasakan tipisnya aura spiritual di udara.
Aura itu mengalir ke dalam tubuh, membilas lelah yang dirasa Zhao Xiaoning, menempanya dari darah, daging hingga tulang.
Waktu berlalu tanpa terasa. Keesokan paginya, rombongan mereka kembali ke arena lelang. Dibanding kemarin, hari ini jumlah orang tampak jauh lebih banyak.
Kali ini, Meng Tao memusatkan perhatian pada batu-batu yang akan dilelang. Seperti yang diketahui banyak orang, di Myanmar terdapat banyak tambang giok, dan bahan-bahan itu kebanyakan berasal dari lubang tua yang terkenal. Meski membeli batu giok itu berisiko, jika berhasil menemukan hijau di dalamnya, pasti akan mendapat giok dengan kualitas terbaik.
Zhao Xiaoning tak lagi bersama Meng Tao, ia memilih berjalan sendiri dengan Lin Feifei. Kemarin ia sudah membantu Meng Tao sekali, hari ini giliran mengurus urusannya sendiri.
Di area C, Zhao Xiaoning dan Lin Feifei berjalan sambil melihat-lihat. Meski batu giok mentah bertebaran, namun yang benar-benar berisi giok sangatlah sedikit.
Zhao Xiaoning menghitung-hitung, dari seratus batu barangkali hanya satu yang benar-benar mengandung giok, hanya satu persen. Dan meskipun ada, kualitasnya belum tentu sesuai dengan kebutuhan.
“Kak, kamu suka giok gak?” tanya Zhao Xiaoning iseng sambil menoleh ke Lin Feifei di sampingnya.
“Kamu mau kasih aku giok?” Lin Feifei menghela napas, “Adik bodoh, pertanyaanmu ini sulit dijawab. Kalau aku bilang suka, berarti aku menginginkan hadiah darimu, kalau bilang tidak suka, artinya menolakmu. Ingat, nanti kalau kamu punya pacar, jangan tanya begitu. Kalau mau memberi, berikan saja. Walau dia tidak suka, dia tidak akan menolak.”
Zhao Xiaoning sempat bengong, lalu terkekeh, “Aku tidak berpikir sejauh itu.”
“Berbicara itu ada seninya, apalagi kalau bicara dengan lawan jenis. Jadi, kamu harus belajar lebih banyak.” kata Lin Feifei serius.
Zhao Xiaoning mengangguk, lalu mengambil sebuah batu berkulit kuning berbentuk persegi panjang dengan ketebalan sekitar dua puluh sentimeter, “Bos, batu ini berapa harganya?”
“Harga pas, tiga puluh lima ribu.”
Zhao Xiaoning berkata, “Dalam bisnis, wajar kalau menawar. Anda langsung bilang harga pas tiga puluh lima ribu, saya jadi sungkan. Tiga puluh lima ribu boleh saja, tapi boleh tidak saya minta dua batu kecil sebagai bonus? Anggap saja sebagai keberuntungan.”
Mata sang pedagang langsung berbinar, merasa telah bertemu pelanggan yang royal, bahkan tidak menawar. Ia segera berkata, “Baik, silakan pilih sendiri dua batu kecil, asal ukurannya tidak lebih besar dari kepalan tangan.”
“Terima kasih.” Zhao Xiaoning girang, langsung memilih dua batu seukuran kepalan tangan, lalu membayar tiga puluh lima ribu.
“Xiaoning, yakin batu itu benar-benar berisi sesuatu?” Setelah meninggalkan lapak, Lin Feifei tak tahan untuk bertanya. Ia memang kagum pada keberuntungan Zhao Xiaoning, tapi harga tiga puluh lima ribu terasa terlalu mahal, apalagi melihat batu itu sekilas saja tidak tampak seperti mengandung giok.
“Batu itu?” Zhao Xiaoning tersenyum, lalu melempar batu persegi panjang itu ke tempat sampah, “Isinya kosong, tapi dua batu bonus ini justru yang berharga.”
“Apa?” Mata indah Lin Feifei membelalak tak percaya.
Zhao Xiaoning tertawa, “Batu itu cuma umpan saja, tujuan utamaku memang dua batu kecil ini. Percaya, nanti setelah dibelah pasti nilainya meningkat tajam. Saat itu, kamu suka model apa, kita cari pengrajin untuk mengolahnya.”
Tiba-tiba, tatapan Zhao Xiaoning terpaku pada seseorang di tengah keramaian. Sosok anggun yang sangat dikenalnya, siapa lagi kalau bukan Li Xue’er?
Hanya saja, di sisi Li Xue’er berdiri empat pria kekar berbaju hitam, memakai kacamata hitam bak pengawal, memberi kesan jangan coba-coba mendekat.
Saat itu, Li Xue’er tengah berdiri memperhatikan sebuah bahan batu besar. Meski telah memperhatikannya berkali-kali, ia tetap saja belum berani membelinya. Maklum, semakin besar batunya, semakin mahal pula harganya. Banyak orang bahkan harus menimbang berbulan-bulan sebelum memutuskan membeli.
“Dia juga datang untuk berjudi giok?” Mata Zhao Xiaoning berbinar, ia melirik ke arah Lin Feifei, “Kak Lin, kamu duluan saja ke tempat pemotongan batu, aku mau ke toilet sebentar, perutku mules.”
Alasan itu cukup bagus, Lin Feifei pun tidak curiga dan langsung berjalan ke arah tempat pemotongan. Sementara Zhao Xiaoning mendekati Li Xue’er.
“Kebetulan sekali.” Senyum penuh makna terbit di sudut bibir Zhao Xiaoning.
Melihat Zhao Xiaoning, Li Xue’er sempat tertegun, jelas tidak menyangka akan bertemu pria ini di sini. Mengingat kegilaan malam itu dan sifat liar pria ini, perasaan aneh pun muncul dalam hatinya.
“Kita saling kenal?” tanya Li Xue’er datar.
Zhao Xiaoning langsung kesal, ia tidak suka sikap orang yang setelah memakai lalu lupa begitu saja, alisnya terangkat, “Astaga, jadi benar-benar cuma masuk ke tubuh, tidak masuk ke kehidupan? Aku heran, bagaimana bisa setelah keluar langsung pura-pura tidak kenal ya?”
“Tutup mulut!” Li Xue’er mendelik marah, “Kalau kamu berani bicara lagi...”
Zhao Xiaoning langsung memotong, “Bicara lagi kamu mau apakan, cekik aku? Keahlianmu rasanya masih kalah dari aku, iya kan, kamu sudah pernah merasakannya.”
“Kamu maunya apa sebenarnya?” Wajah Li Xue’er makin kelam, jika bukan karena banyak orang, ia tidak akan segan memberi pelajaran pada Zhao Xiaoning.
Zhao Xiaoning berkata tanpa malu, “Aku tidak hanya ingin masuk ke tubuhmu, tapi juga ke dalam hidupmu, sesederhana itu.”
Padahal, Zhao Xiaoning sebenarnya cukup polos. Semua orang yang mengenalnya pasti tahu itu. Ia bisa menjadi seperti ini tergantung pada dengan siapa ia berhadapan.
Prinsip Zhao Xiaoning sederhana, 'kalau orang menghormatiku sejengkal, aku balas sehasta.' Semakin Li Xue’er berpura-pura tidak kenal, ia semakin tidak suka. Itulah sebabnya ia bicara seterusnya seperti tadi.
“Baiklah, apa yang ingin kamu katakan?” Li Xue’er menarik napas panjang, memaksakan senyum.
“Sekarang sudah kenal aku?” Senyum Zhao Xiaoning makin mengembang.
“Iya.” Li Xue’er tersenyum manis, walau di dalam hatinya amarah mulai berkobar.
Zhao Xiaoning berkata, “Nah, begitu dong. Meski sesuatu itu sudah dicabut, tidak bisa dipungkiri aku pernah masuk. Itu fakta yang tak bisa dihapus waktu.”
Sambil berdeham, Zhao Xiaoning berkata serius, “Kalau kamu percaya padaku, jangan beli batu itu.”
Batu yang diincar Li Xue’er sudah pernah diperiksa Zhao Xiaoning, memang ada giok di dalamnya dan kualitasnya juga baik, tapi jumlahnya sangat sedikit. Sedangkan harga awalnya sangat tinggi, mulai dari tiga puluh juta. Kalau benar-benar ingin membelinya, minimal harus menyiapkan lima puluh juta.
Walau Li Xue’er bersikap seolah hanya tubuhnya saja yang boleh disentuh, tidak untuk kehidupannya, Zhao Xiaoning tetap tidak tega membiarkan perempuan itu rugi begitu besar. Bagaimanapun, mereka pernah melewati malam yang gila bersama.
Li Xue’er menjawab, “Maaf, aku rasa tidak ada alasan bagiku untuk mempercayaimu.”