Makhluk agung bangkit, badai dahsyat menyapu ribuan mil, mayat-mayat berserakan tanpa satu pun yang pulang. Anak bodoh dan gadis nelangsa, mengeluh akan dunia fana yang terus bergulir, menuntun kuda d
Hujan deras mengguyur, seperti butir-butir mutiara yang jatuh di atas piring giok, menghantam atap Kelenteng Raja Naga di Kota Wupan.
“Raja Naga, mohon lindungannya, Raja Naga, mohon lindungannya.”
“Semoga setiap tahun tenteram, segala urusan tanpa kecemasan.”
Seorang anak laki-laki yang berlutut di atas tikar jerami itu menampakkan wajah penuh pengabdian. Ia merapatkan kedua tangan dan membungkuk, setiap gerakannya dilakukan dengan sungguh-sungguh hingga ke ujung.
Di hadapannya berdiri patung Raja Naga berlapis emas yang diletakkan di tengah-tengah altar setinggi setengah badan orang dewasa. Patung itu mengenakan jubah emas, berdiri di atas awan petir, rambut dan jenggotnya mengembang dengan ekspresi garang, matanya membelalak, tampak berwibawa meski tanpa amarah.
“Itu anak itu lagi, beberapa hari lalu aku juga melihatnya kemari. Kenapa tiap hari datang terus?”
“Itu, dia memang sudah terkenal di Kota Wupan sebagai anak polos. Setiap hari datang ke kelenteng Raja Naga ini, kau tidak tahu?”
“Aduh! Ayah anak ini dulu adalah kepala daerah kita, orangnya baik, tapi keras kepala sekali. Padahal pemerintah sudah mengakui kedudukan Raja Naga Sungai Wupan sebagai dewa, bahkan ada perintah untuk memperbaiki kelenteng ini, tapi dia malah menolak dan malah bersikeras membongkar kelenteng ini. Hari itu juga, saat pekerjaan pembongkaran dimulai, banjir besar melanda Kota Wupan. Anehnya, banjir itu tak membawa siapa pun, hanya ayah dan ibu anak itu yang terseret arus. Anak ini mungkin trauma, sejak itu setiap hari datang berdoa di depan kelent