Jilid Satu: Kupu-Kupu yang Tak Mampu Terbang Melintasi Samudra Bab Dua Puluh Lima: Kota yang Ditelan Ombak

Menelan Samudra Dia pernah menjadi seorang remaja. 3877kata 2026-02-08 21:22:45

Di langit, kepala raksasa itu menyipitkan matanya.

Ia menatap kupu-kupu yang menembus kabut air dan terbang melarikan diri, lalu dengan keyakinan penuh menyimpulkan, “Hanya sisa-sisa perlawanan sebelum ajal.”

Kabut perlahan menghilang, dan di bawah kilatan petir ungu yang sesekali menyambar di langit, orang-orang yang mengamati dari kejauhan akhirnya bisa melihat dengan jelas keadaan di lapangan eksekusi yang porak-poranda itu.

Bupati mereka tampak sangat mengenaskan; jubah hitam panjang yang biasanya rapi kini compang-camping, tubuhnya penuh luka besar dan kecil, beberapa mengucurkan darah, sebagian lagi bahkan memperlihatkan tulang putih di balik daging yang tercabik.

“Tampaknya kau mengenal makhluk itu, memang wajar, manusia punya pepatah: ‘manusia berkumpul dengan yang sejenisnya, benda terkumpul dengan yang serupa’. Kau dan dia sama-sama tak tahu diri, tentu saja kalian saling mengenal.”

“Lihatlah, betapa menyedihkan. Kau ingin membalas dendam untuknya, tapi selain menambah nyawa yang hilang, apa lagi yang bisa kau lakukan? Sarjana peringkat empat ingin menangkap dewa, apakah semua cendekiawan di dunia ini sudah sebodoh dirimu?”

Lü Guanshan yang rambutnya acak-acakan tidak menanggapi ejekan makhluk langit itu. Ia menengadah, menatap kosong ke langit. Seekor kupu-kupu mengepakkan sayapnya, melesat ke langit. Seperti perahu kecil yang hendak menyeberangi lautan derita, seperti semut yang ingin menaklukkan samudra.

Dalam sekejap, kupu-kupu itu sudah tiba di langit. Kedua sayapnya mengepak, menggerakkan sebuah kekuatan yang mengalir masuk ke tubuh Lü Guanshan. Itulah keberuntungan Kota Wupan, dan sebagai bupati, Lü Guanshan masih mampu memanfaatkan keberuntungan wilayah yang dikuasainya.

Senyum tipis muncul di sudut bibir sarjana itu, rona suram di wajahnya lenyap seketika, seperti musim semi yang menghapus dingin musim dingin.

“Kau benar, seorang sarjana peringkat empat mana mungkin bisa melawan Dewa Bulan Agung.”

Ucapannya terdengar sangat tenang, namun senyum tulus di wajah berambut awut-awutan itu justru membuat makhluk besar di langit merasa tidak nyaman. Mata naga hitam itu memancarkan kebingungan, tapi suara Lü Guanshan kembali menggema.

“Tapi aku adalah bupati Kota Wupan yang sah ditunjuk kerajaan. Di wilayah ini, aku bukanlah domba yang menunggu disembelih!”

“Aku memang tak mampu menebas wujud sejati roh naga jahat ini, tapi masa aku tak bisa menebas satu jiwa naga yang menggerogoti keberuntungan Wupan?”

Di akhir kalimat itu, suara Lü Guanshan melonjak tajam. Rambut hitamnya terangkat, jubah hitam compang-campingnya berkibar, dan ia berteriak, “Aku, Lü Guanshan, bupati Kota Wupan, berdasarkan hukum Kekaisaran Yan, memutuskan untuk menghukum jiwa naga di kuil Kota Wupan!”

“Seret kemari!”

Pada saat itu, lembaran buku hukum Kekaisaran Yan yang menguning di meja pengawas eksekusi tiba-tiba bergetar dan lembarannya berbalik dengan sangat cepat. Setelah beberapa saat, gerakannya berhenti pada satu halaman.

Di antara deretan tulisan padat di halaman itu, sebuah baris mulai bersinar dengan cahaya keemasan:

“Kolam, tanpa air tiada ikan; tanah, tanpa rumput tiada ternak; keluarga, tanpa aturan tiada kejayaan; negara, tanpa hukum tiada berdiri. Maka kitab ini ditempa, untuk mencerminkan jalan langit. Semoga hukum Kekaisaran Yan abadi, tak lekang sepanjang masa.”

Tulisan emas itu berputar, melesat keluar, satu per satu muncul di depan Lü Guanshan, lalu berubah menjadi cahaya keemasan yang masuk ke dalam tubuhnya. Seketika, aura di sekitar sarjana itu menjadi semakin menggetarkan.

Naga hitam di langit tampak menyadari sesuatu, matanya penuh murka dan ketakutan, ia meraung, “Berani sekali kau!”

Hujan dan angin yang sempat reda kembali mengamuk, petir menggema tiada henti. Kota Wupan gelap gulita, suasana kiamat menyelimuti segalanya.

Dengan wajah serius, Lü Guanshan mengulurkan tangan, lima jarinya terbuka menembus tirai hujan, mengarah ke kejauhan. Cahaya emas yang meresap ke tubuhnya berkumpul di telapak tangan, seperti anak panah yang siap melesat, dan arah bidikannya tak lain adalah kuil Raja Naga di Kota Wupan.

“Aku, Lü Guanshan, berdiri dengan keadilan, apa yang perlu kutakutkan?” serunya, lalu mengepalkan telapak tangan itu dengan kuat.

Raungan pilu terdengar dari kejauhan. Cahaya emas menyembur keluar, membentuk tangan raksasa yang menggenggam kuil Raja Naga. Di saat yang sama, bayangan naga hitam yang ukurannya jauh lebih kecil namun mirip dengan naga besar di langit, dicekik lehernya oleh tangan emas itu dan diseret ke depan panggung eksekusi.

Cahaya emas berputar, membentuk lima rantai keemasan yang mengikat keempat kaki dan leher naga hitam, sementara ujung lainnya menancap ke tanah. Bayangan naga itu meronta sekuat tenaga, namun tak mampu melepaskan diri dari belenggu rantai emas. Pedang besar yang tertancap di depan panggung pun kini berkilauan, memancarkan cahaya dingin yang mengerikan.

“Mencari mati!” naga raksasa di langit meraung marah. “Hari ini aku ingin lihat, bagaimana kau akan menebasku?”

Petir ungu berhamburan di langit, mengguyur seluruh lapangan eksekusi. Hanya dalam sekejap, suasana menjadi neraka petir yang tak berkesudahan.

Lü Guanshan diam tanpa kata, menatap lautan petir di hadapannya, cahaya dingin di matanya semakin tajam. Ia melangkah maju, menuju panggung eksekusi menantang kilatan petir yang tak terhitung jumlahnya.

Jarak antara panggung pengawas dan panggung eksekusi hanya sekitar sepuluh depa, namun bagi pria itu rasanya seperti menyeberangi jurang maut.

Namun ia melangkah dengan teguh, meski tubuhnya semakin hancur dihantam petir, walaupun setiap langkah yang diambil terasa seratus kali lebih berat dari sebelumnya.

Hujan semakin deras, seakan hendak menenggelamkan seluruh Kota Wupan. Namun Lü Guanshan tetap melangkah ke depan panggung eksekusi. Pakaiannya telah hancur lebur, kupu-kupu yang membantunya menggerakkan keberuntungan kota pun hampir tumbang. Namun nyala api di matanya justru semakin berkobar.

“Lü Guanshan! Berani-beraninya kau menebas jiwa nagaku? Tak takutkah kau jika aku menenggelamkan Kota Wupan ini?” naga hitam di langit meraung, sementara jiwa naga yang terkurung dalam cahaya emas merintih tak henti-henti.

Lü Guanshan tak melirik sedikit pun pada naga hitam itu, ia hanya diam, mengulurkan tangan hendak menggenggam pedang berkarat yang tertancap di tanah.

Naga hitam melihat itu, tahu bahwa kata-kata tak lagi bisa mengubah tekad sarjana gila ini. Mata besarnya memancarkan kilatan dingin, lalu kepala besar itu bergerak, tubuhnya yang raksasa berputar di antara awan gelap. Baru saat itu warga kota menyadari wujud naga hitam itu—sisik-sisik hitam pekat sekeras baja, cakar tajam mengerikan, ke mana pun ia bergerak, angin dan awan bergulung, hembusannya menjadi hujan, nafasnya menjadi petir.

Hanya dengan satu pandangan, makhluk itu sudah cukup membuat siapa pun bergidik ngeri.

Tubuh orang-orang mulai gemetar, bukan hanya karena ketakutan, tetapi juga karena setiap gerakan naga hitam di antara awan menyebabkan tanah Kota Wupan ikut bergetar.

Getaran yang awalnya ringan, semakin lama semakin hebat. Rumah-rumah di kedua sisi mulai berguncang, genting-genting berjatuhan, hingga akhirnya orang-orang pun sulit berdiri tegak, terhuyung-huyung di tengah teriakan panik.

“Lihat! Itu apa?” Tiba-tiba, seseorang berteriak, menunjuk ke arah Sungai Wupan di luar kota. Semua mendongak, dan bayangan besar yang mengerikan tampak menutupi dahi mereka.

Mereka melihat gelombang raksasa setinggi langit muncul dari Sungai Wupan, menggulung menuju kota kecil yang dihempas angin dan hujan itu.

Mereka pun sadar, ternyata ancaman yang diucapkan Dewa Sungai Wupan sebelumnya, bukan sekadar omong kosong...

Gelombang dahsyat itu, hanya dalam sekejap, telah sampai di luar Kota Wupan.

Tanah bergetar semakin hebat diterjang gelombang, jerit ketakutan warga berubah menjadi ratapan memilukan, kepanikan semakin menjadi-jadi. Petir dan hujan yang tadi hanyalah gejala langit, kini gelombang raksasa itu adalah bencana nyata yang dapat menghancurkan Kota Wupan dalam sekejap.

Di hadapan teror yang menentukan hidup dan mati, tak ada lagi topeng kepura-puraan. Tak seorang pun mempedulikan lagi apa yang terjadi di lapangan eksekusi, semua berebut lari menuju pintu gerbang kota yang lain.

“Dengan keberuntungan Kekaisaran Yan melindungimu, aku tak bisa membunuhmu sekarang.”

“Tapi silakan saja genggam pedang itu, aku jamin tak seorang pun warga Kota Wupan akan keluar dari kota ini dalam keadaan hidup!”

“Ayo, aku ingin lihat, apakah kau, sarjana yang suka bicara tentang kebenaran, benar-benar berani membuat seluruh kota ini menemanimu dalam kematian demi cita-citamu!”

Naga hitam berbicara dengan suara berat, gelombang raksasa semakin dekat, seolah dalam hitungan detik akan menelan seluruh kota.

Tangan Lü Guanshan yang hampir menggenggam gagang pedang itu sedikit bergetar. Ia menatap gelombang di kejauhan dengan wajah tegang. Ia terdiam, seakan sedang mempertimbangkan dilema yang dilemparkan Raja Naga padanya.

Sementara sang Raja Naga tidak terburu-buru, amarah di matanya lenyap, matanya kembali menyipit. Ia tahu kelemahan para sarjana itu—mencari nama baik, menjaga reputasi, sama seperti bupati sarjana puluhan tahun lalu. Pilihan yang akan mereka buat, sudah terpatri dalam buku-buku klasik yang mereka baca.

Seperti yang diduga, setelah jeda panjang, tangan Lü Guanshan yang sempat terulur perlahan-lahan diturunkan.

Naga hitam pun tersenyum di balik matanya yang menyipit. Ia membuka mulut besarnya dan berkata, “Kalau begitu, jika kau sudah berubah pikiran, maka belajarlah…”

Baru setengah kalimat, ucapannya terhenti.

Sarjana yang semula menunduk seolah menyerah itu, di tengah kata-kata naga, kembali mengulurkan tangan dan menggenggam gagang pedang berkarat itu. Sinar keemasan keberuntungan Kekaisaran Yan mengalir dari lengannya ke pedang panjang itu. Dalam sekejap, pedang berkarat itu berubah menjadi sebilah pedang salju yang berkilauan dengan tajam.

Dengan tubuh penuh darah, tampak rapuh, sarjana itu mengayunkan pedangnya.

Suara lirih terdengar.

Sebuah kepala besar menggelinding jatuh dari panggung eksekusi.

Raungan dahsyat membelah langit.

Naga hitam di langit memerah matanya, mengerang ke langit seolah menanggung derita tak terkira, tubuh besarnya berputar di udara, geram, “Kalian semua harus mati!”

Gelombang raksasa yang mendekati kota itu pun naik beberapa depa lebih tinggi, menutup langit, membayangi seluruh Kota Wupan.

Sarjana yang baru saja menebas kepala jiwa naga itu terengah-engah, ia menjatuhkan pedang panjang di tangannya. Kupu-kupu yang hampir menemui ajal itu perlahan mendarat di pundaknya. Sarjana itu mengulurkan tangan membelai sayap kupu-kupu, dan kupu-kupu itu menyentuh lembut leher Lü Guanshan dengan antenanya.

Lalu, guratan-guratan seperti jaring laba-laba mulai muncul di sayapnya, cahaya keemasan bersinar dari celah-celah itu, dan kegelapan di sekelilingnya seperti kerak darah yang terkelupas cepat. Dalam sekejap, kupu-kupu itu kembali bersinar keemasan seperti sediakala.

Ia mendekat lembut ke leher Lü Guanshan, gerakannya penuh kasih, seolah membisikkan sesuatu.

Namun, cahaya keemasan di sekelilingnya perlahan meredup, antenanya merunduk lemah, tubuhnya pun jatuh dari bahu Lü Guanshan, melayang-layang seperti daun maple di akhir musim gugur.

Lü Guanshan mengulurkan tangan, menangkap tubuh kupu-kupu yang jatuh itu. Si kupu-kupu berusaha keras menengadah menatap pria itu, namun kepalanya baru terangkat sebentar, langsung lunglai kembali. Menyadari segalanya sudah berakhir, ia menggulung tubuhnya di tangan pria itu, seperti anak kecil yang tidur nyenyak dalam pelukan selimut. Sayapnya perlahan mengepak, lalu berhenti sama sekali, seolah berpamitan; beberapa detik kemudian, cahaya di sekujur tubuhnya pun padam.

Kupu-kupu itu, pada akhirnya, tak pernah berhasil menyeberangi lautan miliknya.

“Terima kasih,” Lü Guanshan perlahan meletakkan kupu-kupu yang telah padam itu di tanah. Lalu, ia berdiri, menatap gelombang raksasa yang semakin dekat.

Ia membuka bibirnya, mengucapkan beberapa kata yang nyaris tak terdengar oleh siapa pun.

Ia berkata, “Tombak Penjaga Gunung.”