Bab Sembilan Puluh Satu: Jamuan Agung
Dengan langkah cepat ia keluar dari kamar. Melihat pintu kamar kediaman yang tertutup rapat, Juju segera berlari menghampirinya.
Tok, tok, tok!
Juju mengetuk pintu istana dengan keras. “Yang Mulia Abadi, aku ada urusan ingin menemuimu.”
Berdiri di depan pintu, ia tidak mendengar suara apa pun dari dalam. Baru saja hendak mengangkat tangan untuk mengetuk lagi, tiba-tiba terdengar bunyi berat berderit, dan pintu istana itu terbuka sendiri.
“Masuklah.”
Suara Cizhong menetes setitik demi setitik ke dalam telinga Juju, seketika menimbulkan rasa jengkel dalam hatinya.
Sungguh tak tahu malu!
Setelah memakinya dalam hati, Juju tetap mendorong pintu dan masuk.
“Yang Mulia Abadi, di luar…” Ia mengangkat kepala, tetapi saat melihat pemandangan di hadapannya, kata-kata yang semula hendak meluncur dari mulut justru tersangkut di tenggorokan dan tak bisa diucapkan.
Zhuling sedang berlutut dengan anggun di sisi Cizhong, dengan patuh menggiling tinta untuknya. Rambut hitamnya terurai seperti air terjun, sementara sudut matanya dipenuhi senyum. Setiap kerutan alis dan gerak-geriknya memancarkan kebahagiaan seorang perempuan yang sedang jatuh cinta.
Mereka benar-benar… berpacaran!?
Semula Juju hendak mengingatkan Cizhong bahwa gosip di luar telah memengaruhi reputasi Istana Penjara dan Pengadilan. Namun melihat keadaan mereka berdua, kata-kata itu mendadak tersumbat di mulutnya, tak mampu ia keluarkan.
Jika Cizhong benar-benar telah jatuh cinta kepada Zhuling, bukankah dirinya akan tampak konyol jika mengucapkan semua itu?
Untung saja ia baru memulai kalimatnya.
“Ada urusan apa?” tanya Cizhong dengan tenang.
Saat beradu pandang dengan tatapan penuh tanya Cizhong, Juju merasa sedikit gugup.
Kali ini, ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
“Karena Yang Mulia Abadi masih memiliki urusan pemerintahan, aku akan pamit terlebih dahulu.”
Di tengah suasana canggung itu, Zhuling meletakkan tinta di tangannya dengan sangat tepat, lalu berdiri anggun dan berkata kepada Cizhong.
Juju menatap Zhuling yang tampak begitu berbeda dari biasanya. Melihat sikapnya yang anggun dan tenang saat ini, seolah-olah Zhuling yang dahulu tak mampu menahan emosi dan selalu membuat orang jengkel itu tidak pernah ada.
Zhuling melewati bahu Juju dan melangkah perlahan menuju luar istana.
Setelah hanya tersisa Juju dan Cizhong di dalam kamar kediaman, dan suasana di sekeliling menjadi sunyi, barulah Cizhong bertanya dengan suara rendah, “Apa telah terjadi sesuatu?”
Meskipun mereka saling berhadapan dan jaraknya begitu dekat, Juju tetap merasakan adanya jarak di antara mereka.
“Ada apa?” Cizhong bertanya ketika melihat Juju menatapnya dengan pandangan kosong.
Juju tersentak sadar. Ia buru-buru menggeleng dan menjawab terbata-bata, “Ti-tidak ada apa-apa.”
Begitu kata-kata itu terucap, ia merasa jawabannya agak tidak pantas, sehingga kembali membuka mulut untuk menjelaskan, “Tadi…”
Ia bergumam cukup lama, tetapi tetap tidak menemukan alasan yang tepat. Sambil mengernyitkan alis diam-diam, wajahnya seketika memerah.
“Itu, tadi…”
“Apa sebenarnya yang hendak kaukatakan?” tanya Cizhong dengan tidak sabar, menahan tawa.
Alis Juju semakin berkerut. Rasanya ia ingin mencari celah di tanah lalu bersembunyi di dalamnya!
Ya, sebenarnya apa yang hendak ia katakan?
“Itu… aku hanya ingin bertanya kepada Yang Mulia Abadi. Kudengar dari Cugu bahwa besok akan ada jamuan. Aku ingin tahu pukul berapa Yang Mulia Abadi akan berangkat besok, supaya aku bisa bersiap lebih awal.” Tiba-tiba sebuah gagasan muncul di benaknya yang mendadak kosong, bagaikan menemukan sebatang jerami penyelamat. Ia mengangkat kepala dan menatap Cizhong. “Benar, itu yang ingin kutanyakan.”
Cizhong menggeleng tanpa daya. “Bukankah sudah kukatakan sejak awal? Istana Penjara dan Pengadilan kita tidak akan menghadiri jamuan-jamuan membosankan seperti itu.”
Melihat kekecewaan yang melintas di mata Cizhong, hati Juju ikut tenggelam.
Ia menggigit bibir, merenung sejenak, lalu mengangguk kaku. “Baik, Yang Mulia Abadi benar. Hamba mengakui kesalahan.”
“Kalau kau ingin pergi, bangunlah lebih awal besok dan ikutlah bersamaku menghadiri jamuan.”
Tiba-tiba suara Cizhong terdengar hangat, mengalir lembut dan menenteramkan hati Juju.
Juju menatapnya dengan heran. Lama sekali ia tidak mampu bereaksi.
“Kau sudah berada di Sembilan Langit selama ini, tetapi tampaknya belum pernah menghadiri jamuan resmi apa pun. Sudah waktunya kubawa kau melihat-lihat.”
Sudut bibir Cizhong terangkat tipis. Raut wajahnya yang rupawan memancarkan cahaya yang menyilaukan.
Ia… benar-benar bersedia membawanya ke jamuan?
Namun… tadi ia hanya mengatakannya secara sembarangan. Ia sama sekali tidak sungguh-sungguh ingin pergi!
Tadi… bukankah ia baru saja mengangkat batu untuk menjatuhkannya ke kaki sendiri?
Juju mengeluh getir dalam hati, tetapi tetap harus memasang senyum cerah di wajahnya. “Terima kasih, Yang Mulia Abadi.”
Karena itu adalah niat baik Cizhong, menolaknya tentu tidak sopan. Mau tak mau, ia hanya bisa menerimanya dengan hati tegar.
Ia memberi hormat dengan kedua tangan terkatup, lalu segera berbalik dan melarikan diri.
Cizhong memandangi punggung Juju yang semakin menjauh. Baru setelah gadis itu berlari cukup jauh, ia akhirnya tak mampu menahan tawa kecil.
“Kakak seperguruan, oh, Kakak seperguruan. Kau telah membawanya ke sisiku. Sepertinya aku benar-benar harus berterima kasih kepadamu,” gumam Cizhong sambil tertawa dan menggelengkan kepala.
Juju yang tidak ingin bangun pagi meringkuk di atas ranjang. Meskipun di luar terdengar nyanyian dan tarian yang meriah, ia sama sekali tidak berminat keluar untuk melihatnya.
Seandainya ia tidak sembarangan mengarang soal jamuan itu, hari ini ia tidak perlu bangun sepagi ini untuk menghadiri jamuan entah apa bersama Cizhong.
Meskipun dirinya bukan orang yang menyukai ketenangan, ia sama sekali tidak tertarik pada jamuan di istana langit.
“Dewi, hari ini adalah jamuan ulang tahun Penguasa Chengbi. Yang Mulia Abadi telah berangkat lebih dahulu ke Balairung Kabut Sisa. Beliau memintaku menyampaikan bahwa jika Dewi tidak ingin pergi, Dewi tidak perlu memaksakan diri.”
Suara Cugu terdengar jelas, kata demi kata, menggema di seluruh perpustakaan.
Duar!
Juju langsung duduk dari atas ranjang secara refleks.
Keningnya berkerut rapat, wajahnya dipenuhi kebingungan.
Apakah tadi ia salah dengar? Apa maksud perkataan Cugu?
“Dewi?” Karena tidak mendengar suara apa pun, Cugu mengulangi perkataannya, “Yang Mulia Abadi berkata, jika Dewi tidak ingin pergi, Dewi tidak perlu memaksakan diri.”
Tidak perlu memaksakan diri?
Wajah Juju seketika menggelap.
Apa sebenarnya maksud Cizhong?
Ia tahu betul bahwa jamuan besar ini adalah jamuan ulang tahun Penguasa Chengbi, dan dirinya pasti akan hadir. Namun kemarin, dengan begitu terus terang, ia berkata bahwa Istana Penjara dan Pengadilan tidak pernah menghadiri jamuan-jamuan membosankan seperti itu. Bukankah jelas-jelas ia sedang mempermainkannya?
Hari ini ia bahkan menyuruh Cugu menyampaikan bahwa dirinya tidak perlu pergi jika tidak mau. Sungguh seperti kucing yang menangisi tikus—pura-pura berbelas kasih!
Bagaimana mungkin sebelumnya ia tidak menyadari bahwa Cizhong begitu licik dan tak tahu malu?
“Tidak, aku akan pergi!”
Setelah mengenakan sepatu, Juju mengganti pakaiannya dengan gaun narsis biru danau. Ia menyanggul rambutnya secara sederhana, menyelipkan tusuk konde bunga magnolia, lalu keluar dengan penampilan segar.
Sepanjang perjalanan, bibir kecil Juju mengerucut tinggi, seolah-olah sedang merajuk.
Tak lama kemudian, ia tiba di Balairung Kabut Sisa.
Sebelumnya ia hanya melewati tempat ini, tetapi hari ini ia harus masuk ke dalam.
Berdiri di depan pintu balairung, setelah mempersiapkan mental, Juju menegakkan kepala dan membusungkan dada, lalu mulai menaiki tangga Balairung Kabut Sisa.
Ini akan menjadi sebuah pertempuran. Ia tidak boleh kalah dalam hal keberanian sebelum semuanya dimulai.
Dengan dagu terangkat, Juju menyelusup di antara banyak dewa dan masuk ke Balairung Kabut Sisa.
Penguasa Chengbi menguasai ilmu sihir air, sehingga keseluruhan tata ruang Balairung Kabut Sisa juga didominasi warna hijau kebiruan yang lembut.
Begitu memasuki taman, tampak hamparan hutan bambu yang luas. Angin sejuk berembus di antara pepohonan itu, terasa sungguh menyegarkan.
Juju menahan napas dan melangkah maju perlahan. Di sampingnya, seorang pria gendut berjalan terhuyung-huyung. Setelah melirik ke sekeliling, ia berdecak kagum dan berkata, “Lihatlah, Penguasa Chengbi benar-benar orang yang berkelas. Bahkan tempat tinggalnya pun memancarkan pesona yang begitu elegan!”