Bab 76: Kakek
Bangunan di depan kami ini, dulunya pasti memiliki atap, namun karena sudah sangat tua, kubahnya telah runtuh sejak lama. Dinding-dindingnya yang tersusun dari balok batu tampak tua dan penuh kisah, dari bagian yang patah di depan kami bisa diperkirakan bahwa dulunya dinding ini setidaknya setinggi tujuh atau delapan meter—sebuah bangunan yang sangat megah.
Dalam kekaguman, aku tak kuasa menahan diri untuk merentangkan telapak tangan dan menyentuh dinding batu di depan. Sensasi dingin dan kokohnya seketika membangkitkan lamunan tak bertepi.
Aku dan Pak Hu mulai mengitari tembok raksasa yang telah terputus itu, berharap menemukan jalan masuk ke bagian dalam. Sambil berjalan, aku menggunakan ponsel untuk memotret pemandangan yang kami lihat, yakin bahwa foto-foto ini, jika tersebar, akan menjadi penemuan besar dalam sejarah arkeologi dunia.
Setelah mengitari dinding selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya kami menemukan bagian dinding yang benar-benar ambruk. Namun, meski begitu, di depan kami masih terhalang tumpukan batu runtuh setinggi lebih dari dua meter.
Dengan susah payah kami memanjat tumpukan batu, lalu menyalakan senter untuk mengintip ke dunia di balik tembok. Yang terlihat hanyalah reruntuhan tembok dan puing-puing yang bertumpuk-tumpuk, membentang hingga ke tempat yang tak bisa kami lihat ujungnya.
Di antara puing dan batu yang berserakan, telah tumbuh pepohonan lebat. Bangunan kuno ini kini telah menjadi surga bagi pepohonan.
Kendati demikian, dari dinding yang tersisa, kami masih dapat menebak bahwa tempat kami masuk ini dulunya adalah sebuah aula yang cukup besar.
Aula itu kira-kira seluas dua ratus meter persegi, bentuknya persegi panjang memanjang yang dibingkai oleh dinding-dinding yang runtuh. Berdasarkan gambaran tentang arsitektur daerah Barat yang kusimpan di benak, aula semacam ini kemungkinan besar dulu adalah ruang makan bersama, atau mungkin aula samping dari sebuah kuil.
Pak Hu, yang sudah belasan tahun jadi ahli pencari makam, sangat paham soal bangunan kuno bawah tanah. Melihat kompleks bangunan sebesar ini, rasa penasarannya pun bangkit. Ia memanjat dinding yang lebih tinggi di pinggir reruntuhan, hingga mencapai ketinggian lima atau enam meter, lalu menunduk mengamati struktur reruntuhan bawah tanah itu.
Aku berdiri di bawah, mendongak menatap Pak Hu yang tubuh serta senternya bergetar samar. Aku tak bisa melihat jelas ekspresinya, hingga tak tahan bertanya, "Bagaimana?"
Pak Hu tak segera menjawab. Ia merogoh tas punggung, tak lama mengeluarkan teropong, lalu menatap ke arah kegelapan yang membentang di depan.
Beberapa saat kemudian, ia melakukan sesuatu yang aneh. Tiba-tiba tampak seperti melihat sesuatu, ia menurunkan teropong, menunduk, lalu mematikan obor di tangannya dengan diinjak.
Begitu obor padam, aku tak lagi bisa melihat sosok Pak Hu. Namun aku mendengar suaranya, "Cepat! Cari tempat bersembunyi!"
Lalu terdengar suara gedebuk, Pak Hu ternyata melompat turun dari atas tembok. Padahal itu setinggi lima atau enam meter, sama saja melompat dari lantai dua atau tiga sebuah gedung. Bahkan tentara terlatih pun bisa saja celaka dalam gelap seperti ini.
Aku pun buru-buru menyalakan senter dan melangkah ke arahnya.
Saat itu Pak Hu berseru, "Jangan! Jangan nyalakan senter!"
Aku tertegun sejenak, dan ketika kulihat ia baik-baik saja, aku pun mematikan senter sesuai permintaannya.
Lalu kudengar suara langkah Pak Hu tergesa-gesa mendekat. Aku bertanya, "Sebenarnya ada apa?"
Pak Hu menelan ludah dengan susah payah, lalu berkata, "Itu kakekmu, Nie Haiyun!"
"Kakek?" Aku nyaris tak percaya telingaku. Meski waktu keluar dari Hutan Bambu Hitam, Pak Hu bilang kakekku belum meninggal, aku masih ragu. Kini, benarkah kakek masih akan muncul?
Meski hatiku sangat bahagia, aku juga sadar kehadiran kakek berarti ada sesuatu yang memang benar. Aku jelas ingat melihat batu besar menindih kakek, namun kini ia tidak mati. Sulit bagiku untuk menepis ucapan Liang Qian bahwa kakekku sudah bukan manusia lagi, sebab dalam situasi itu, tak mungkin ada yang selamat.
Kalaupun kakek cukup beruntung melompat ke sumur dan lolos dari maut, tapi gunung di Hutan Bambu Hitam itu sudah runtuh total. Mustahil ia bisa keluar lagi.
Memikirkan itu, aku menahan keinginan kuat bertemu kakek, lalu bersama Pak Hu bersembunyi di balik sebuah pohon besar di sudut tembok, mengamati diam-diam apa yang terjadi.
Benar saja, tak lama kemudian, segerombolan orang membawa obor datang dengan suara gaduh. Sebagian besar pria, tinggi pendek beragam, kira-kira dua belas atau tiga belas orang.
Awalnya aku tak bisa melihat jelas wajah mereka.
Namun saat kakek memimpin mereka makin dekat, jantungku serasa mau meloncat keluar dari kerongkongan, hingga napasku pun susah dikendalikan.
Karena aku melihat di antara mereka ada Daxiong dan Mu Yun!
Keduanya mengikuti kakek, berhenti di tanah lapang di tengah reruntuhan tempat kami bersembunyi.
Kakek memegang obor di satu tangan dan senter di tangan lain. Walau keriput di wajahnya lebih banyak dari sebelumnya, sorot matanya tetap tajam dan penuh semangat. Orang-orang di sekelilingnya diam saja, kakek jelas pemimpin mereka.
Kakek menyorotkan senter ke sekeliling, lalu mendorong kacamata di hidungnya, dan bertanya pada Daxiong, "Hei, tadi katanya di sini ada cahaya, bagaimana sekarang penjelasannya?"
Wajah Daxiong tak lagi ceria seperti biasa, malah tampak gugup dan gelisah. Ia menggosok-gosok tangan, lalu berkata, "Itu… Kakek, saya tidak tahu, mungkin saya salah lihat."
Kakek melirik sekitar dengan curiga, lalu menoleh ke Daxiong tanpa ekspresi, "Kalau kali ini Xiao Chuan lagi-lagi jatuh ke tangan orang-orang Bos Wu, saya tidak akan memaafkanmu, dasar anak bodoh!"
Wajah Daxiong terlihat kikuk, ia menggaruk kepala sambil tertawa kaku, "Soal Jie Yuting waktu itu, saya memang kurang paham tentang dia, makanya sampai terjadi masalah, saya…"
Kakek mengangkat tangan, memotong ucapannya, lalu memerintah orang di sampingnya, "Cari jejak orang di sekitar sini, lalu berjaga, kalau ketemu Xiao Chuan, jangan banyak omong, langsung pingsankan dan ikat!"
Ucapan kakek tegas dan tanpa ragu, sama sekali tak ada rasa kekeluargaan, membuat dadaku terasa berat.
Apakah ini benar kakekku? Perasaanku benar-benar campur aduk...
Empat pria kekar di sekitarnya mengangguk, lalu menyebar ke berbagai arah, mulai menggeledah di antara batu runtuh dan pepohonan.
Saat itu, salah satu pria mendekat ke arah kami. Melihatku tegang, Pak Hu menarikku, memberi isyarat agar aku tetap diam.
Aku menatap pria itu melangkah dua langkah mendekat, lalu tiba-tiba seseorang menariknya dari belakang.
Ternyata Daxiong. Ia berkata pada pria itu, "Biar saya yang periksa sebelah sana."
Pria itu hanya mengangguk, lalu berbalik menuju reruntuhan.
Daxiong pun mengerutkan kening, perlahan melangkah ke arah kami.
Melihat wajah tembem Daxiong, perasaanku semakin kacau. Ternyata sejak awal ia sudah tahu soal kakek, bahkan satu kelompok dengannya. Artinya, sahabat terbaikku ini sejak awal di Hutan Bambu Hitam sudah menipuku.
Hal yang paling tak bisa kuterima adalah dikhianati teman sendiri. Maka saat itu, aku menggertakkan gigi, berniat jika Daxiong benar-benar mendekat, akan kutendang dia sampai tak berketurunan.
Di sela-sela ketegangan itu, Mu Yun berbicara lirih pada kakek, "Kakek, apakah Xiao Chuan tidak apa-apa? Tadi di tebing gua, kami lihat mereka hampir mati diserang makhluk berkulit hijau itu."
Kakek mendengus, "Anak itu memilih membela si Wu, layak mendapat pelajaran. Kalau mati pun, itu salahnya sendiri!"
Mendengar ucapan kakek, hatiku hampir beku. Meski aku tidak mengerti maksudnya, sikap seperti itu sudah tak lagi memperlihatkan sedikit pun kasih sayang atau perhatian.
Saat itu, Daxiong sudah melangkah lebar hingga tepat di depan pohon tempat kami bersembunyi. Pak Hu dengan gugup menarikku agar tetap bersembunyi.
Aku pun buru-buru menarik kepala, menempelkan wajah ke batang pohon, tak bergerak sedikit pun. Tapi dengan begitu, aku juga tak bisa melihat apa yang terjadi di luar.
Aku dan Pak Hu berdiri kaku di balik pohon, sangat tegang. Tiba-tiba terdengar suara gesekan di atas pohon, pasti Daxiong sedang memeriksa bagian atas pohon itu.
Aku melirik ke arah Pak Hu, kulihat ia menatap ke atas dengan tatapan rumit.