Bab 78 Kuil Pengendali Roh
Lapangan persegi panjang ini lebar ke kiri dan kanan, namun sempit ke depan dan belakang. Di atas lapangan, puing-puing dari reruntuhan bangunan berserakan di mana-mana. Di dekat koridor, masih ada dua pohon pendek yang sudah mengering, sementara di ujung seberangnya, menjulang sebuah bangunan beratap runcing setinggi hampir dua puluh meter.
Di belakang bangunan runcing raksasa itu, terlihat bayangan gelap yang bertumpuk-tumpuk, tampaknya bangunan itu terhubung dengan kompleks bangunan lain yang sangat besar. Aku dan Pak Hu bersembunyi di antara dedaunan, sehingga kami dapat mengamati situasi di bawah dengan jelas.
Tak jauh di bawah kami, tampak dua dinding batu yang telah runtuh, membentuk koridor istana yang memanjang ke kiri dan kanan, lenyap ke dalam kegelapan tanpa batas. Di sisi yang agak jauh dari kami, koridor itu runtuh membentuk lubang besar, terhubung ke sebuah lapangan persegi panjang sebesar setengah lapangan sepak bola.
Lapangan persegi panjang itu lebar di kiri dan kanan, sempit di depan dan belakang, penuh dengan tumpukan puing bekas reruntuhan rumah. Di sisi dekat koridor, dua pohon pendek yang telah mati berdiri kaku. Sedangkan di ujung yang berseberangan, berdiri gagah bangunan beratap runcing setinggi hampir dua puluh meter.
Di belakang bangunan menjulang itu, terlihat bayangan gelap bertumpuk-tumpuk, menandakan adanya kompleks bangunan besar yang terhubung dengannya.
Rombongan kakek, kira-kira tiga puluhan orang, kini sedang sibuk di depan sebuah pintu kuno. Sebagian besar dari mereka membawa cangkul, sekop, dan alat-alat lain, menggali tanah di bawah pintu perunggu itu. Sementara kakek dan Dewa Xiong berdiri agak jauh, tampak tengah berdiskusi secara pribadi.
Pak Hu menepuk pundakku, menunjuk ke satu arah sambil berbisik, "Coba kau lihat ke sana, kurasa kakekmu dan yang lain sudah beberapa hari bekerja di sini."
Mengikuti arah yang ditunjuk Pak Hu, aku melihat di sebelah pintu perunggu itu telah menumpuk dua gundukan besar tanah dan puing, jelas hasil galian orang-orang kakek selama beberapa hari ini.
Pak Hu melanjutkan, "Lihat lagi di pojok kanan bawah pintu batu itu, ada ceruk yang menurutku bekas ledakan. Kelihatannya ceruk itu setidaknya setengah meter dalamnya, sementara bagian lain pintu batu itu tak sedikit pun retak. Kutaksir pintu itu tebalnya dua atau tiga meter. Jadi, setelah tahu pintu itu tak bisa dirobohkan dengan bahan peledak, mereka mencoba menggali dari bawah."
Aku mengangguk. Dalam hati aku berpikir, meskipun kakek dan yang lain punya cukup banyak bahan peledak, kalau digunakan berlebihan, bangunan beratap runcing itu bisa ambruk, dan semua yang ada di dalam bakal hancur.
Saat aku memikirkan itu, tiba-tiba cahaya senter dari sisi lain koridor semakin mendekat, kini jaraknya hanya belasan meter dari pohon tempat kami bersembunyi.
Lalu, cahaya-cahaya senter yang tadinya berantakan itu serempak padam. Jelas mereka juga telah melihat cahaya dari rombongan kakek, dan tahu ada orang di sini.
Aku menajamkan pandangan ke arah hilangnya cahaya senter itu, memperkirakan kecepatan mereka bergerak. Benar saja, tak sampai semenit, sekitar lima belas hingga enam belas bayangan hitam muncul di bawah pohon kami.
Mereka bergerak sangat hati-hati, merunduk di bawah pohon. Sebagian besar langsung mencari perlindungan setelah melihat cahaya dari dinding batu, hanya satu orang yang mengintip ke dalam lewat lubang runtuhan.
Orang itu mengintip sekitar belasan detik, lalu berbalik, memberi isyarat tangan pada rekan-rekannya yang bersembunyi.
Kulihat ia menekan telapak tangannya ke bawah, sepertinya memberi aba-aba agar semua orang menunggu. Dari sini terlihat mereka adalah kelompok yang cukup terorganisir.
Semua orang menurut perintah itu dan merunduk, sementara si pemberi aba-aba menoleh ke kiri dan kanan, akhirnya memandang ke pohon tempat kami bersembunyi.
Aku terkejut, lalu berbisik pada Pak Hu, "Celaka, sepertinya dia juga tertarik dengan tempat persembunyian kita!"
Pak Hu pelan-pelan mengokang senjata, lalu membisik, "Tenang saja, kalau dia naik dan macam-macam, langsung kuberi peluru."
Aku buru-buru menahan, "Jangan gegabah, kalau-kalau itu orang yang kita kenal bagaimana?"
Baru saja aku selesai bicara, sesuatu yang tak terduga terjadi. Orang itu menatap pohon kami dua kali, lalu mendadak melompat setinggi lima atau enam meter, melesat naik ke atas kepala kami. Puncak pohon pun bergoyang ringan, ia benar-benar mendarat di atas kami.
Agar suara kami tak terdengar, aku dan Pak Hu saling membekap mulut masing-masing. Bulu kuduk langsung meremang, keringat dingin mengalir di pipi.
Dalam hati aku mengumpat, "Ini pasti makhluk gaib, atau orang yang pakai kawat baja? Lompat setinggi itu, benar-benar di luar nalar!"
Beberapa saat kemudian, keadaan di atas kepala kami tenang kembali. Barulah aku dan Pak Hu berani melepas tangan dari mulut masing-masing.
Aku tahu Pak Hu punya penglihatan tajam di malam hari. Dalam situasi gelap seperti ini, ia pasti melihat lebih jelas dariku. Maka aku mendekat ke telinganya dan bertanya pelan, "Kau lihat jelas nggak, itu apa?"
Keringat Pak Hu sudah membasahi pelipisnya, ia bernapas agak terengah, "Sial, kayaknya bukan manusia, kaki belakangnya panjang sekali!"
Bukan manusia tapi bisa pakai senter? Ini sungguh tak masuk akal. Dalam hati aku terguncang, lalu berbisik, "Apa sebaiknya kita pergi dulu? Kalau nanti dia lihat kita di bawah, bisa celaka."
Pak Hu tak berani bergerak, menatap ke depan sambil membisik, "Nggak bisa kabur, di bawah penuh dengan mereka…"
Aku melirik ke bawah dengan sudut mata, langsung tambah panik. Jika mereka memang makhluk aneh, jumlahnya mungkin belasan, dan kalau berniat jahat, tamatlah kami.
Pak Hu menepuk lenganku pelan, berkata, "Jangan bergerak, lihat dulu apa yang terjadi."
Aku sadar memang tak ada pilihan lain, jadi aku mengatur napas perlahan, lalu menatap ke seberang.
Kebetulan, saat itu dari dalam lubang di bawah pintu batu besar, terdengar suara salah satu anak buah kakek, "Tuan, sudah tembus, dalamnya luas sekali!"
Kalimat itu langsung menarik perhatian aku dan Pak Hu. Dalam hati aku merasa, memang inilah saat yang tepat untuk datang, setidaknya aku bisa melihat dengan mata kepala sendiri untuk apa kakek datang jauh-jauh ke sini.
Saat itu, semua orang, termasuk kakek, menyalakan senter dan berkerumun di sekitar lubang. Puluhan cahaya senter menyinari ke dalam, banyak yang sudah tak sabar ingin turun, namun kakek menahan mereka semua. Ia mengamati dengan seksama cukup lama, lalu berkata, "Apa pintunya bisa dibuka dari dalam?"
Tak lama kemudian, terdengar jawaban dari dalam, "Tunggu sebentar, Tuan, sepertinya ada yang aneh..."
Orang itu bicara panjang lebar, suaranya awalnya cukup keras sehingga bisa kudengar, namun makin lama makin pelan, apalagi jarak kami sekitar lima puluh meter, jadi aku tak bisa menangkap dengan jelas.
Tiba-tiba, terdengar jeritan memilukan dari dalam pintu, begitu nyaring seakan tepat di telingaku. Aku langsung tersentak ketakutan.
Orang-orang yang berkerumun di lubang panik dan saling kebingungan. Beberapa kepala muncul di pinggir lubang, suasana semakin gaduh. Lalu, seseorang yang berlumuran darah ditarik keluar dari lubang.
Baru saja orang itu merangkak ke tepi, tiba-tiba debu beterbangan dari dalam lubang, sesuatu mengikuti dari belakangnya.
Orang yang berlumuran darah itu seolah ditarik sesuatu, tubuh yang baru saja naik malah terjerembab lagi ke bawah.
Terdengar suara ringkikan pilu yang serak, lalu suara tulang patah yang keras. Angin dari dalam lubang menghembus bersama debu, sesuatu masuk kembali ke dalam.
Beberapa kali suara tembakan menggema, semuanya diarahkan ke dalam lubang.
Orang-orang kakek memaki-maki dengan kata-kata kasar.
Tapi lubang itu sudah kembali sunyi. Beberapa saat kemudian, yang tertinggal hanyalah suara napas terengah dan orang-orang yang muntah, sebab tubuh korban yang setengahnya sudah tercabik, menyebarkan bau amis darah yang pekat ke udara.
Semua orang mundur ketakutan, takut makhluk itu muncul lagi. Hanya kakek yang berdiri kaku di tempat, cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Sialan, para anjing penjaga dari Kuil Lingyu, berani-beraninya memelihara makhluk sesat seperti ini untuk menjaga tempat ini!"
Mendengar ucapan kakek, aku dan Pak Hu saling berpandangan. Jelas kami berdua pernah mendengar tentang organisasi Kuil Lingyu.
Awalnya aku pikir Kuil Lingyu hanyalah departemen misterius dari Dinasti Tang. Namun semakin banyak petunjuk yang mengarah ke Kuil Lingyu, aku mulai menyadari, organisasi ini ternyata jauh lebih rumit. Hubungannya dengan Kerajaan Wei ternyata sangat erat.