Bab 79 Orang-Orangan Sawah
Awalnya aku mengira kakek melakukan banyak hal yang sulit dipahami karena ia punya hubungan mendalam dengan Kuil Pengendali Arwah, namun sekarang tampaknya kakek justru berada di pihak yang berseberangan dengan kuil itu.
Tapi bangunan beratap runcing yang ada di depan kami ini, apa hubungannya dengan Kuil Pengendali Arwah? Aku jadi teringat pada catatan di naskah Raja Wuwei tentang peristiwa Raja Wuwei menaklukkan ular raksasa di Lop Nur. Apakah mungkin peristiwa itu terkait dengan peninggalan di kedalaman gua ini?
Saat aku sedang diselimuti pikiran-pikiran liar, kakek tampak mulai marah. Ia berkata pada Dewa Kuat di sebelahnya, "Ledakkan pintu ini! Hancurkan juga semua yang ada di dalamnya jadi serpihan!"
Dewa Kuat sempat tertegun, lalu tertawa canggung dan dengan hati-hati berkata pada kakek, "Tuan, sebaiknya jangan begitu, nanti benda di dalam juga ikut hancur. Bagaimana kalau biar aku masuk dulu melihat-lihat?"
Emosi kakek jelas sedang memuncak. Ia mengambil sebotol air mineral dari ransel, meneguknya setengah habis, lalu berkata, "Tidak bisa. Benda di dalam bukan sekadar mayat hidup biasa, kau tak akan sanggup menghadapinya."
Tapi Dewa Kuat sudah lebih dulu menyandang senapan dua laras di punggungnya, lalu mengambil palu baja besar dan memanggulnya di bahu. Ia berjalan ke tepi lubang, menoleh ke kakek dan berkata, "Dengan dua benda ini, Tuan tak perlu khawatir!"
Melihat palu besar di tangan Dewa Kuat, aku langsung teringat pada pemandangan yang sangat akrab. Benar, ini memang perlengkapannya yang khas. Dengan perlengkapan seperti ini, Dewa Kuat memang tak terkalahkan. Di Hutan Bambu Hitam waktu itu, sebelum masuk gua, ia juga tak sedikit pun menunjukkan rasa takut.
Dewa Kuat memang punya watak yang impulsif dan lugas. Tapi kenapa orang seperti itu bisa membohongiku? Aku benar-benar tak mengerti.
Kakek tak bisa mencegah Dewa Kuat, jadi ia pun hanya memberi isyarat dengan matanya pada dua pria kekar di sampingnya untuk mengikuti Dewa Kuat.
Dari kejauhan, aku melihat Dewa Kuat menunduk masuk ke dalam lubang. Entah kenapa, aku tetap merasa khawatir padanya.
Namun kali ini berbeda dengan saat di peninggalan Raja Wuwei di Hutan Bambu Hitam. Kudengar suara dua tembakan dari dalam pintu batu, lalu tiba-tiba terdengar suara mekanisme berderak dan pintu batu itu perlahan-lahan terbuka ke dalam, jelas Dewa Kuat berhasil membuka kuncinya.
Ketika pintu sudah cukup terbuka untuk dilewati satu orang, terdengar lagi suara rantai berderak, lalu pintu itu berhenti bergerak.
Dewa Kuat keluar dari celah pintu batu dengan seluruh tubuh penuh debu putih, tampak seperti versi gemuk dari Hantu Penjemput Arwah.
Setelah kuperhatikan, rupanya ia hanya terkena debu tebal yang jatuh saat pintu batu yang sudah lama tak terbuka itu digeser. Dewa Kuat tak menyadari, sehingga seluruh tubuhnya tertutup debu.
Begitu keluar, ia meludah dua kali, mengusap kepalanya yang dipotong cepak, menepuk-nepuk pakaian dan celananya, lalu dengan suara parau berkata, "Sialan, aku belum sempat lihat itu benda apa, baru nembak dua kali sudah kabur!"
Melihat Dewa Kuat yang berantakan, beberapa orang buru-buru memberinya dua botol air untuk membersihkan diri, tapi ia menolak dengan kaku dan berkata, "Hei, jangan dekati aku. Kalian tahu apa ini? Ini debu kuno. Barusan sengaja aku lumuri ke badan, tahu gunanya? Dengan debu ini, mayat hidup seribu tahun pun tak akan bisa mencium bau manusia dariku."
Aku hampir tak bisa menahan tawa. Rupanya di mana pun ia tetap saja seperti itu. Jelas-jelas tak sengaja kena debu tapi tetap ngotot menyalahkan keadaan. Dari mana pula ia dapat logika aneh seperti itu?
Melihat aku hampir tertawa, Hu tua jadi cemas dan menarik lengan bajuku, lalu menunjuk ke atas.
Aku melirik sekilas ke atas dan langsung menahan diri untuk tidak bersuara.
Karena lubang yang digali kakek dan rombongannya di bawah pintu tidak tepat di tengah, setelah pintu terbuka mereka bisa langsung masuk. Beberapa orang menyalakan senter dan obor, lalu mengeluarkan senjata panjang dan pendek, mengokangnya, lalu masuk satu per satu.
Kulihat semua orang itu tampaknya tak takut mati. Padahal separuh tubuh rekan mereka masih tersangkut di tepi lubang, tapi mereka tetap tanpa mengeluh masuk ke sarang harimau.
Meskipun sebagian besar telah masuk ke dalam pintu batu raksasa, kakek tetap menyisakan beberapa orang berjaga di luar. Ada lima orang yang bertugas di luar.
Kelima orang itu mengambil sejeriken bensin dari tenda, lalu membakar separuh tubuh yang tersisa di lubang tanah dan menguburnya di tempat. Setelah itu, mereka mematikan lampu sorot besar dan sebagian besar lampu tenda, hanya menyisakan satu lampu redup di tenda. Mereka berlima berkumpul di sekitar tenda, berjaga dengan sangat waspada.
Kupikir mereka memang ditugaskan kakek untuk berjaga dan membantu dari luar.
Setelah kakek dan yang lain masuk ke dalam pintu batu, kekhawatiran kami justru beralih ke atas kepala.
Kini seluruh cahaya di sekitar telah sirna, gua kembali gelap total. Suasana semakin mencekam. Kami sama sekali tidak tahu apa yang sedang dilakukan makhluk di atas kami. Pikiran jadi penuh dengan bayangan menakutkan.
Misalnya, makhluk itu bisa melompat ke atas pohon dalam sekali lompatan. Kalau ia turun perlahan, kami pasti celaka. Aku pun perlahan menggeser tubuh ke arah luar cabang pohon, supaya kalau makhluk itu turun lewat batang, aku bisa sedikit menjauh darinya.
Belum sempat aku bergerak, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari atas, lalu suara "puk", sebuah benda meluncur keluar dari rimbunan dahan, melompati dua pagar dan mendarat di depan tenda di tengah lapangan. Anehnya, lompatan sejauh itu sama sekali tidak menimbulkan suara.
Bayangan hitam itu jatuh di tempat yang gelap, tak terjangkau cahaya. Sekitar sepuluh detik kemudian, tubuhnya baru bergerak.
Lalu suara lonceng aneh bergema di gua yang sunyi itu.
Suara seruling itu terdengar sangat familiar. Setelah beberapa saat aku sadar, dulu di tebing gua ini, kami pernah dikepung makhluk yang dirasuki lumut panas pohon. Setelah Hu tua meledakkan granat, suara lonceng ini pun muncul.
Aku tak tahu apakah lenyapnya makhluk-makhluk itu ada hubungannya dengan suara lonceng ini.
Aku dan Hu tua mendengar suara itu, merasa lebih heran daripada takut. Namun, lima penjaga di sekitar tenda begitu mendengar suara seruling itu langsung roboh tanpa suara, jatuh satu per satu ke tanah.
Melihat kelima orang itu roboh, bayangan hitam itu tanpa ragu berjalan santai menuju pintu batu dan akhirnya menghilang di dalam.
Aku dan Hu tua menyaksikan semua itu dengan perasaan tidak percaya.
Namun, bila kami tidak segera mengejar, bisa-bisa kami kehilangan jejak penting. Maka aku pun berbalik menuju batang pohon, berniat turun.
Hu tua menahan aku dari belakang dan berbisik, "Tunggu, di bawah masih ada anak buahnya!"
Saat itu baru kuingat, makhluk aneh tadi datang bersama belasan anak buah. Sekarang mereka pasti masih bersembunyi di antara bebatuan di bawah pohon.
Aku bertanya cemas, "Lalu bagaimana? Masa kita harus selamanya di atas pohon?"
Hu tua menepukku dan berkata, "Jangan khawatir, biar aku turun dulu melihat-lihat."
Aku mengangguk, tahu kemampuannya luar biasa. "Hati-hati, ya."
Hu tua tidak membalas, ia mengeluarkan seutas tali dari ransel, mengikat salah satu ujung di cabang dan satu ujung di pinggang, lalu melompat turun.
Panjang tali itu diukur dengan sangat tepat. Ia turun tanpa suara dan berhenti setengah meter dari tanah, hanya menimbulkan sedikit suara dedaunan yang tergeser.
Hu tua dengan hati-hati mengubah posisi agar kedua kakinya bisa menjejak tanah, lalu perlahan melepaskan tali dari pinggang dan menunduk berjalan beberapa langkah ke depan.
Cahaya dari tenda di kejauhan sangat redup, aku hanya bisa melihat penanda glow-in-the-dark di senter di pinggang Hu tua yang bergerak perlahan.
Ia terus bergerak hingga ke tumpukan batu, lalu tiba-tiba melompat tanpa suara ke balik sebuah batu besar.
Kupikir ia pasti sudah berhasil membekuk satu musuh tanpa diketahui, namun tiba-tiba dari arahnya terdengar suara keheranan, "Eh?"
Karena ia masih bisa bicara, aku pun tak lagi diam dan bertanya pelan, "Apa yang terjadi?"
Dari tempatnya, Hu tua menggerutu, "Setiap masuk gua terkutuk ini, pasti ada saja kejadian aneh. Cepat sini, lihat ini apa!"
Rasa penasaranku terpancing, aku perlahan turun dari pohon, menyalakan senter, dan dengan cepat mendekati Hu tua.
Saat itu Hu tua juga menyorotkan senter ke benda yang tergeletak di tanah.
Aku mendekat dan melihat dengan jelas, langsung terperangah.
Karena yang tergeletak di tanah itu ternyata adalah boneka jerami yang diikat dari ranting pohon!