Satu

Logam Inti Keras Tuan Tertawa dari Kota Kekaisaran 1390kata 2026-02-08 23:19:45

Kata Pengantar

Buku ini kupersembahkan kepada seluruh teman sekelas SMA Seni dan Kerajinan Pusat angkatan 1996, kelas satu lima. Terima kasih telah menjadi pembaca pertama buku ini. Persembahan juga untuk diriku di usia lima belas tahun—yang dengan ajaibnya menyelesaikan novel pertama di buku tugas—naskah awal buku ini.

Catatan

Sampai akhir cerita, kita harus tetap bertahan, setia pada perjuangan sendiri; cinta jika butuh bersama, kebencian jauh lebih membutuhkan kebebasan, cinta dan benci terus saling membelit. —Jackie Chan, “Penyelamatan”

Angin bertiup, aku tak bisa mundur lagi, kau dulu satu-satunya cintaku, setelah kehilangan baru kurasakan pedihnya. Ku buka jendela, bagaimana besok? Detak jantungku tetap seperti dulu, mendambakan semangat yang membara. —Band Overload, “Saat Mimpi Membelit”

Hati hancur, di jalanan yang ramai, lukaku tak kau sadari; hati hancur, di malam hujan, seluruh dunia menangis, hujan tak takut angin, mimpi terindah saat tak terbangun, kau terbang ringan dalam hatiku, biarkan cinta menjadi mabuk yang tak pernah kusesali. Biarkan aku tak pernah belajar mengucapkan selamat tinggal. —Fan Xiaoxuan, “Tarikan Napas Dalam”

1

Saat cuaca mulai hangat namun masih terasa dingin, itulah waktu yang paling sulit untuk beristirahat.

Begitu pula bagi Pak Zheng, seorang petugas kebersihan, saat seperti ini ia tidak bisa bersantai.

Pukul lima dini hari.

Saat itu, baik jalan raya yang luas maupun gang-gang sempit masih sunyi dan sepi, kota kecil di utara ini belum terbangun dari tidurnya.

Langit masih gelap, Pak Zheng sudah menyelesaikan tiga jalan.

“Tak! Tak tak tak!”

Serangkaian suara nyaring mengejutkan Pak Zheng.

“Siapa anak yang tidak tahu aturan ini?” pikir Pak Zheng, “Tahun baru sudah lewat, musim semi sudah datang, kenapa masih menyalakan petasan? Apalagi pagi-pagi begini.”

Sumber suara itu adalah jalan keempat yang akan dibersihkan Pak Zheng.

Sambil membawa sapu, ia menyapu dan berbelok ke jalan tempat suara itu berasal. Suara seperti letusan terus berlanjut tanpa henti.

Pak Zheng, yang sudah berumur lebih dari lima puluh tahun dan penglihatannya agak buruk, tetap bisa membedakan benda-benda besar. Ia tahu, beberapa ratus meter di depan, lampu merah yang berkedip itu adalah mobil pengangkut uang yang hampir setiap pagi ia temui.

Ia juga tahu, mobil itu setiap pagi mengangkut kotak uang dari cabang bank di Jalan Anding menuju kantor pusat. Pak Zheng sangat akrab dengan beberapa pegawai bank dan para pengangkut uang—karena mereka semua adalah orang-orang yang rajin dan bangun pagi.

Saat itu belum ada tim pengamanan profesional seperti nanti, mobil pengangkut uang hanya sebuah mobil tua bermerek “Maple”.

Namun hari ini, ada sesuatu yang berbeda.

Pak Zheng tidak tahu apa yang berbeda. Ia berhenti menyapu, menyeret sapunya, berjalan perlahan menuju mobil pengangkut uang yang lampu merahnya menyala.

Saat berjalan, Pak Zheng mulai paham. Ia tahu apa yang berbeda: hari ini terlalu sepi, bahkan suara orang berbicara pun tidak ada.

Ketika jarak Pak Zheng tinggal belasan meter dari mobil itu, ia tiba-tiba terperanjat oleh apa yang ia lihat.

Yang membuatnya terkejut bukan pecahan kaca yang berserakan di tanah, bukan mobil pengangkut uang yang pintu belakangnya terbuka, bukan kotak besi tempat uang yang kosong melompong...

Tapi—orang-orang yang tergeletak tak beraturan di tanah!

Dan darah.

Genangan darah di mana-mana.

Pak Zheng mendadak mengerti, suara yang barusan mirip petasan itu berasal dari apa.

Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga. Ia hanya menyesal usianya sudah tua dan kakinya tidak cukup cepat.

Di tempat kejadian yang kacau, kini ada satu sapu dan satu pengki besi berbentuk keranjang.

Selain Pak Zheng, tidak ada saksi lain.

Dan Pak Zheng pun bukan saksi sebenarnya.

Tak diragukan lagi, ini adalah TKP perampokan mobil pengangkut uang bank, kejahatan kekerasan yang keji.

Tak ada kamera pengawas yang merekam apa yang terjadi sebelum kedatangan Pak Zheng.

Karena saat itu, gedung dan jalan di kota ini belum dilengkapi perangkat canggih.

Karena saat itu, tahun 1996.

Saat cuaca mulai hangat namun masih terasa dingin, itulah waktu yang paling sulit untuk beristirahat.