Hampir tiga puluh tahun lalu, sebuah perampokan besar terhadap mobil pengangkut uang mengejutkan seluruh kota. Kasus luar biasa ini membuat seorang polisi muda bernama Tongtong, yang baru saja bergabu
Kata Pengantar
Buku ini kupersembahkan kepada seluruh teman sekelas SMA Seni dan Kerajinan Pusat angkatan 1996, kelas satu lima. Terima kasih telah menjadi pembaca pertama buku ini. Persembahan juga untuk diriku di usia lima belas tahun—yang dengan ajaibnya menyelesaikan novel pertama di buku tugas—naskah awal buku ini.
Catatan
Sampai akhir cerita, kita harus tetap bertahan, setia pada perjuangan sendiri; cinta jika butuh bersama, kebencian jauh lebih membutuhkan kebebasan, cinta dan benci terus saling membelit. —Jackie Chan, “Penyelamatan”
Angin bertiup, aku tak bisa mundur lagi, kau dulu satu-satunya cintaku, setelah kehilangan baru kurasakan pedihnya. Ku buka jendela, bagaimana besok? Detak jantungku tetap seperti dulu, mendambakan semangat yang membara. —Band Overload, “Saat Mimpi Membelit”
Hati hancur, di jalanan yang ramai, lukaku tak kau sadari; hati hancur, di malam hujan, seluruh dunia menangis, hujan tak takut angin, mimpi terindah saat tak terbangun, kau terbang ringan dalam hatiku, biarkan cinta menjadi mabuk yang tak pernah kusesali. Biarkan aku tak pernah belajar mengucapkan selamat tinggal. —Fan Xiaoxuan, “Tarikan Napas Dalam”
1
Saat cuaca mulai hangat namun masih terasa dingin, itulah waktu yang paling sulit untuk beristirahat.
Begitu pula bagi Pak Zheng, seorang petugas kebersihan, saat seperti ini ia tidak bisa bersantai.
Pukul lima dini hari.
Saat itu, baik jalan raya yang luas maupun gang-gang sempit masih sunyi dan sepi, kota kecil di utara ini belum terbangun dari tidurnya.
Langit mas