Delapan
Enam bulan yang lalu.
Di dalam bus umum nomor 10 pada pagi hari saat jam sibuk.
"Aduh, aduh, aduh, pelan-pelan dong!" teriak seorang pemuda berwajah culas dan tampang nakal. "Kamu mau apa? Lepaskan! Lepaskan!"
"Aku tidak akan semudah itu melepaskanmu," balas Tongtong dengan seringai dingin. "Aku justru ingin tahu, apa yang baru saja dilakukan tanganmu itu?"
"Aku ngapain? Aku nggak ngapa-ngapain kok!" teriak si berandal itu. "Kamu dari mana sih? Kenapa seenaknya memelintir pergelangan tanganku?"
Dengan satu tangan, Tongtong memelintir tangan si pemuda ke belakang punggungnya dan menekannya hingga membungkuk. Tangan satunya lagi mengeluarkan sebuah dompet dari saku celana pemuda itu dan mengacungkannya di depan wajahnya. "Ini milik siapa? Jawab!"
"Itu... itu... bukankah itu dompetku sendiri?"
Seorang gadis cantik di sebelahnya berseru kaget, "Pantas saja aku merasa tas selempangku bergerak aneh, habis itu ada saja orang yang nempel-nempel ke badanku, ternyata... ternyata..."
"Tenang dulu, Nona. Untuk sementara dompetmu aku pegang dulu. Aku polisi," kata Tongtong. Ia lalu menoleh dan menatap si pemuda dengan senyum mengejek. "Nah, kali ini kamu dobel kesalahan. Bukan cuma mencuri dompet gadis ini, tapi juga berbuat cabul."
"Siapa yang cabul? Siapa?" si berandal masih berusaha membela diri.
"Jangan banyak bicara. Semua yang kamu lakukan aku lihat dengan jelas. Kamu ambil dompet dari tas gadis ini, masukkan ke sakumu, lalu memanfaatkan suasana padat di dalam bus untuk menyentuh-nyentuh tubuhnya dengan tangan kotormu. Kamu kira aku nggak memperhatikan?" Tongtong menambah tekanan pada tangan yang dipelintir sambil membentak dengan suara tegas.
"Baiklah! Anak muda! Sok jadi pahlawan ya?" teriak si berandal. "Kamu belum tahu siapa aku sebenarnya!"
"Aku tidak peduli siapa kamu," Tongtong tetap mengejek. "Sekarang, kamu yang harus tahu siapa aku."
Sambil berkata demikian, Tongtong mengambil borgol dari pinggangnya.
Namun, tanpa diduga, dalam sepersekian detik ketika Tongtong sedikit lengah, tangan si pemuda yang satunya lagi merogoh ke pinggang. Sekejap, sebilah pisau tajam sudah berada di tangannya.
"Ah!" seluruh penumpang serempak berteriak kaget.
Gadis yang dompetnya baru saja dicuri menjerit, "Awas! Dia bawa pisau!"
Belum sempat kata-katanya selesai, kilatan cahaya menyambar di depan mata Tongtong, dan pisau itu melesat ke arahnya.
Namun, bagi Tongtong yang sudah menjadi juara beladiri sejak di akademi kepolisian, situasi seperti ini bukanlah hal sulit.
Dengan sigap, Tongtong menunduk ke belakang, menghindari serangan pisau yang nyaris mengenai wajahnya. Di saat yang sama, ia melihat bagian tengah dan belakang bus cukup lengang. Ia segera menarik tangan si berandal ke samping tubuhnya, sementara tangan satunya mencengkeram pergelangan tangan yang memegang pisau, lalu memuntirnya ke atas dan membantingkan tangan itu ke meja logam tempat karcis.
Berkat benturan keras, pisau itu terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara nyaring. Tanpa memberi kesempatan si pemuda bereaksi, Tongtong segera melepaskan genggamannya dan menendang pinggang si pemuda dengan kaki kanannya.
Si berandal itu hampir terangkat dari lantai dan melayang ke bagian belakang bus, jatuh telentang menabrak lantai dengan suara keras.
Tongtong melangkah cepat mendekatinya dan menginjak dada si pemuda yang masih tergeletak. Jelas si berandal itu terpukul dan terpana oleh gerakan cepat yang belum pernah ia alami selama menjadi penjahat.
Dalam keadaan terbaring, ia menahan sakit sambil menatap Tongtong dengan mata terbelalak penuh kaget.
Tongtong kemudian menarik kembali kakinya, berjongkok, membalik tubuh si berandal hingga telungkup, lalu memborgol kedua tangannya di belakang punggung.
Pada saat itu, bus sudah berhenti.
Tongtong menekan punggung si pemuda dengan lutut, tidak memberinya kesempatan bangkit, lalu menoleh kepada sopir dan kondektur sambil berkata, "Saya polisi, dari Kantor Polisi Jalan Anding. Lokasinya tidak jauh dari sini, Pak sopir tolong bawa bus ini ke depan kantor polisi."
Kemudian ia kembali menunduk, berkata pada si pemuda yang tertelungkup, "Sekarang kamu tahu siapa aku, kan? Namaku Tongtong. Semoga kamu betah di rumah tahanan."
Terdengar tepuk tangan meriah dari seluruh penumpang.
Sementara gadis yang dompetnya dicuri itu, entah karena masih terkejut dengan kejadian barusan atau karena alasan lain, hanya berdiri terpaku dengan mulut sedikit terbuka.
Di sampingnya, seorang gadis lain yang seumuran berbisik kagum, "Wah, keren sekali! Keren banget! Ini seperti adegan di film saja! Seperti Keanu Reeves di 'Kejaran Maut'!"
Barulah gadis yang dompetnya dicuri itu tersadar. Perlahan ia melangkah maju, berdiri di belakang polisi muda berpakaian sipil yang baru saja menaklukkan si penjahat.
Meski tidak menoleh, Tongtong seolah sudah tahu gadis itu berdiri di belakangnya. Ia berkata, "Nona, nanti kamu harus ikut saya ke kantor sebentar untuk membuat laporan. Tidak lama kok. Dompetmu juga pasti akan kembali setelah laporan selesai. Kamu juga tidak perlu khawatir, tidak ada satu pun barang di dompetmu yang hilang, karena aku terus mengawasi dia. Dia tidak sempat dan tidak punya kesempatan memindahkan apa pun. Soal pelecehan yang kamu alami, nanti ada polisi wanita yang akan menanganinya. Jangan khawatir, terhadap penjahat seperti ini, kami tidak akan memberi ampun. Penjahat cabul seperti dia pasti akan mendapat hukuman setimpal."
Suara tepuk tangan kembali menggema di dalam bus.
Kali ini, gadis itu pun ikut bertepuk tangan.
"Terima kasih, Pak Polisi," ucap gadis itu.
Tongtong pun tertawa geli, "Ternyata panggilan ‘Pak Polisi’ sudah begitu membekas ya. Tapi aku ini, paling-paling juga pantasnya dipanggil kakak, bukan?"
Barulah Tongtong berbalik sambil tersenyum, menatap gadis itu dengan seksama, dan ternyata betapa cantik dan manis wajahnya, serta betapa anggunnya gadis bertubuh mungil itu.
"Pak Tongtong, atau... Kakak Tongtong," gadis itu juga menatap wajah tampan di depannya, seolah menyapa, seolah berbicara pada diri sendiri.
Satu jam kemudian, polisi muda bernama Tongtong itu pun tahu nama gadis di hadapannya.
Nama yang indah, yang akan terukir di hatinya seumur hidup.
Gadis itu bernama Sasa.