Empat belas
“Aku dengar kau naik pangkat, selamat ya.” Dari balik jeruji besi, Pangeran berkata pada Tongtong.
“Aku juga tak tahu ucapanmu itu pujian atau sindiran, jadi kuanggap saja pujian.” jawab Tongtong. “Kalau begitu, kau cukup up to date ya, di dalam sel pun bisa dengar berita dari luar.”
Pangeran tertawa pahit sambil menggeleng. “Petugas Tongtong, jangan salah paham. Di sini aku tak punya informan seperti kalian di luar sana. Aku cuma kadang mendengar para sipir membicarakanmu, katanya kau masuk ke tim kriminal. Sepertinya kau memang terkenal di kepolisian.”
“Jangan begitu,” kata Tongtong, “kalau bicara soal terkenal, kau lah yang benar-benar terkenal. Terus terang, kemampuan menarimu memang pantas diacungi jempol. Aku sungguh berharap, setelah keluar nanti, kau bisa jadi bintang besar di jalan yang benar.”
“Terima kasih atas doanya.” Pangeran menghela napas panjang, “Aku juga berharap begitu, semua tergantung nasibku nanti.”
“Aku tahu, orang-orang seperti kalian selalu percaya pada nasib. Tapi aku berharap setelah keluar nanti, kau menjauh dari dunia ‘itu’.” ujar Tongtong, “Kasusmu tidak berat, untung saja kau belum terlibat kejahatan yang lebih besar. Penampilanmu baik, menarimu juga hebat, aku benar-benar berharap kau bisa berubah dan memulai hidup baru.”
“Aku akan berusaha, terima kasih.” Pangeran memandang petugas polisi muda di depannya yang sebaya dengannya. “Kalau aku tak salah tebak, kau pasti datang ke sini bukan tanpa alasan. Tak usah basa-basi, langsung saja.”
“Baik, aku memang suka bicara to the point.” kata Tongtong, “Jadi, Pangeran, masih ada yang belum kau katakan?”
“Aku bersumpah pada Dewa Keadilan... ah, tidak, tak seharusnya aku bersumpah begitu,” Pangeran tertawa getir, “Dewa Keadilan pun tak bisa menolongku di sini. Aku bersumpah pada Raja Langit, semua yang perlu kukatakan sudah aku katakan. Pikirkan saja, aku cuma punya kasus perkelahian, apalagi yang bisa kuberitahukan?”
“Jangan salah paham.” ujar Tongtong, “Aku tahu kau sudah mengaku semuanya, tapi aku masih butuh beberapa detail.”
“Detail?” tanya Pangeran bingung, “Kau harus bicara jelas. Kami ini orangnya blak-blakan, tak suka main teka-teki.”
“Baik, aku akan bicara terus terang.” Tongtong mendekat, “Si penjual organ, si Tua Tang, sekarang buron. Apa dia punya tempat persembunyian? Lalu, apakah dia punya kelemahan? Misalnya, hobi yang sangat disukai, seperti kau yang suka menari. Oh, maaf, hobimu itu positif.”
“Oh, aku mengerti.” Pangeran mengangguk. “Biar kupikirkan sebentar.”
“Butuh rokok?” tawar Tongtong sambil tersenyum.
“Tak perlu, simpan saja.” jawab Pangeran sambil tersenyum.
Mereka pun terdiam. Pangeran menatap langit-langit, memejamkan mata, dan merenung.
Beberapa menit kemudian, Pangeran mengangguk dan berkata pada Tongtong, “Dulu aku pernah dengar Tua Tang bilang, dia punya tempat persembunyian di Shanxi. Sepertinya di sebuah desa di salah satu kabupaten, di sebuah gua. Katanya, tempat itu jauh dari jangkauan siapa pun, kalau benar-benar ada masalah, di sanalah tempat terbaik untuk bersembunyi.”
Tongtong buru-buru mengeluarkan buku catatan dari saku dan menuliskan informasi yang diberikan Pangeran.
“Lagi pula,” tambah Pangeran, “kau tadi tanya soal kelemahan atau hobi, aku kasih tahu, orang tua itu sangat suka main biliar. Bahkan dia jago, dan sangat kecanduan. Kalau kalian cari dia dan tak menemukan di mana pun, carilah tempat biliar terdekat. Aku hanya bisa katakan sampai di sini. Sebenarnya aku sudah melanggar aturan dunia kami.”
“Itu sudah cukup.” Tongtong menutup buku catatannya, “Tapi aku ingin meluruskan, dunia kalian itu sebenarnya tak punya aturan. Justru karena kau melanggar aturan, kau jadi orang yang benar. Aku senang mendengarnya.”
Keesokan sore.
Dengan kerja sama penuh dari kepolisian setempat, para polisi bersenjata lengkap mengikuti petunjuk yang diberikan Tongtong—tepatnya, petunjuk dari Pangeran—dan menemukan gua tempat persembunyian Tua Tang. Benar-benar berada di daerah terpencil, tempat persembunyian yang ideal.
Wang Xin, mengenakan rompi anti peluru, menendang pintu gua itu. Namun saat mereka menerobos masuk, ternyata di dalamnya tidak ada siapa pun. Tentu saja, di luar pun tak ada mobil “Burung Biru” milik Tua Tang.
“Ini...” Wang Xin menoleh, menatap Tongtong dan Deng Ran di belakangnya.
Dua pemuda itu juga mengenakan rompi anti peluru, tangan menggenggam pistol.
Itu adalah kali pertama mereka berdua ikut operasi seperti ini, tentu saja sangat bersemangat.
Awalnya, mereka ingin berada di barisan depan, tapi Wang Xin melarang. Katanya, mereka masih kurang pengalaman di lapangan, apalagi untuk operasi bersenjata seperti ini. Ini bukan lagi menghadapi preman kecil di bawah jembatan, melainkan berhadapan dengan buronan berbahaya.
Namun setelah berulang kali bertempur bersama, Wang Xin baru sadar, ia telah meremehkan dua pemuda itu, terutama Tongtong.
“Alamatnya benar, kan?” tanya Wang Xin.
“Pasti benar.” ujar Tongtong sambil memasukkan pistol ke sarung di pinggang, “Jangan khawatir, kita masih punya langkah berikutnya—sekarang kita harus cari kepala desa atau aparat desa.”
Wang Xin segera memerintahkan, “Cepat cari aparat desa.”
Sepuluh menit kemudian, beberapa orang tinggal di gua, sementara sebagian besar bergegas naik mobil menuju kota kabupaten.
Karena mereka mendapat informasi, tempat biliar terdekat berada di kota kabupaten.
Begitu para penyidik menerobos masuk dan membekuk si penjual organ Tua Tang yang beberapa detik sebelumnya masih asyik bermain biliar, Tua Tang benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya, hanya bertanya, “Bagaimana kalian bisa menemukanku?”
“Bawa pergi, bawa pergi.” perintah Wang Xin.
Tongtong dan Deng Ran, satu di kiri satu di kanan, menggiring Tua Tang ke luar.
Tongtong berbisik dengan senyum dingin di telinga Tua Tang, “Tua Tang, waktu kau berkelahi di bawah jembatan dulu, kita hampir saja bertemu. Sungguh, pertemuan kita ini terasa terlambat.”
Tua Tang tak menanggapi ucapan Tongtong, tapi mulutnya komat-kamit entah apa.
Wang Xin berkata, “Tunggu.”
Tongtong dan Deng Ran memutar tubuh Tua Tang.
Wang Xin menatap mata Tua Tang dan bertanya, “Kau ngomong apa tadi? Kerasan sedikit.”
Tua Tang diam saja.
Deng Ran melirik Tua Tang dengan jengkel, lalu berkata pada Wang Xin, “Dia bilang, permainannya belum selesai, minta diberi waktu menyelesaikan dulu sebelum dibawa.”
Tongtong mengangguk, “Tua Tang, kau benar, memang permainan ini belum selesai. Pertandingan baru saja dimulai, menangkapmu baru langkah awal.”
Tua Tang tak lagi menggerutu.