Ini adalah zaman yang telah hancur. Kabut kelabu menyelimuti, ketaknormalan pun muncul. Makhluk daging yang cacat dan menjijikkan berusaha mati-matian melepaskan diri dari tubuh mekanisnya, mengaum di
Dingin.
Remang-remang.
Sakit kepala...
Cahaya samar bergetar di tengah kegelapan, seperti mercusuar yang mengapung jauh di ujung lautan.
Jiang Cheng merasa seluruh tubuhnya lemas, tangan dan kaki hampir tak terasa. Ia memaksa kelopak matanya terangkat, membuka celah kecil untuk melihat.
Semuanya buram, tampaknya ia berada di dalam sebuah ruangan sempit.
Di hadapannya ada seseorang, dalam gelap menyorotkan senter ke arahnya.
Seseorang yang sangat ia kenal.
Orang itu tersenyum kepadanya, senyuman yang sedingin es.
"Jiang kecil, pergilah dengan tenang. Besok pagi aku akan mengurus jenazahmu, pasti kuberi krematorium termahal di kota dan makam dengan fengshui terbaik..."
Di kamar mandi yang suram, orang itu mengambil kepala shower, melemparkannya ke dalam bak mandi, lalu sedikit memutar keran.
Tetes demi tetes.
Tetesan air jatuh perlahan, membawa hawa dingin bulan Desember, menetes di tubuh Jiang Cheng.
Jiang Cheng yang seluruh tubuhnya membeku terbaring di dalam bak mandi, kesadarannya semakin kabur.
Ia berusaha membuka mulut, ingin mengucapkan makian untuk leluhur lawannya, tapi suara tak lagi keluar.
Menjelang ajal bahkan jari tengah pun tak sanggup ia angkat―barangkali inilah hal paling menyedihkan di dunia.
Orang itu menatap Jiang Cheng sekali lagi, masih dengan senyuman dingin, lalu berbalik dan pergi.
"Kriek..."
Pintu kamar mandi perlahan tertutup.
Cahaya terakhir menghilang.
Jiang Cheng tenggelam dalam tidur yang dalam.
Per