Pemurnian Kesepuluh
Di langit malam yang biru cerah, beberapa bintang tampak menggantung rendah, mungkin karena pagi tadi juga turun hujan, sehingga terasa agak berat dan basah.
Setelah membeli air di warung kecil, Zhang Ning berjalan ke bawah pohon ginkgo besar dan duduk di bangku batu. Ia mendengarkan para lansia di sekitarnya yang sambil minum teh, bercakap-cakap dengan suara keras menggunakan dialek daerah, sesekali diselingi tawa riang.
“Semua, ayo makan malam!” teriak seorang wanita. Para lansia yang sedang mengobrol pun berdiri satu per satu, bersiap menuju tempat makan. Melihat Zhang Ning duduk sendirian, seorang wanita bertubuh gemuk dan bermata kecil berjalan cepat menghampirinya.
“Kenapa tidak bersama ibu dan yang lainnya? Kenapa duduk sendiri di sini?” Wanita itu mengulurkan tangan yang montok, menatap Zhang Ning dengan penuh kasih sayang, mengelus rambutnya yang lembut sambil bertanya.
“Aku hanya ingin berjalan sendiri sebentar, nanti aku akan pulang.” Zhang Ning menengadah, menatapnya di bawah cahaya lampu putih, kini bisa melihat jelas wajahnya; masih mengenakan celemek yang dipakai sore tadi saat sibuk di dapur, tubuhnya pun masih menguarkan aroma khas masakan.
“Harus istirahat lebih awal, besok harus bangun pagi. Ayo pulang bersama, setelah makan malam ringan, nanti langsung tidur. Makanannya tidak berat, besok setelah upacara penghormatan leluhur baru akan ada hidangan utama, kau sudah tahu itu.” Zhang Erniang mengomel di samping Zhang Ning, lalu tiba-tiba berhenti dan bertanya dengan dialek apakah Zhang Ning sudah mandi.
Zhang Ning melangkahi ambang pintu yang tinggi, mengangguk dan berkata, “Sudah.”
“Baguslah. Kau cari kakekmu sendiri, aku harus bantu menyiapkan makanan.” Setelah berkata begitu, Zhang Erniang berlari kecil menuju dapur.
Di sebelah timur ada gedung tempat tinggal, di barat ada balai persembahan, keduanya dihubungkan oleh koridor panjang. Koridor itu ramai dengan orang yang lalu-lalang, anak-anak saling berkejaran dan bercanda. Melihat Zhang Ning, mereka memanggil dengan panggilan yang bermacam-macam dan kadang tidak sesuai usia, seperti “bibi”, “kakak ipar”, “saudari sepupu”, dan sebagainya. Zhang Ning hanya bisa membalas dengan anggukan kaku, lalu berjalan cepat menuju gedung tempat tinggal.
“Adik, sudah pulang!” Zhang Wanwan berseru begitu melihat Zhang Ning datang.
“Ning Ning, aku memang ingin mencarimu. Ku telepon, tapi tak kau angkat,” kata Zhang Yanyuan yang hendak keluar ke ruang makan bersama Zhang Wanwan saat melihat Zhang Ning masuk.
“Hape-ku sedang di-charge di kamar.”
Setelah duduk, Zhang Ning menatap sekeliling, melihat kakeknya di meja lain, dan tidak menemukan ibunya. Ia bertanya pada Zhang Yanyuan, “Kenapa ibu belum datang?”
“Dia makan di lantai dua bersama kakak sepupumu. Ini panas, tiup dulu sebelum makan,” kata Zhang Yanyuan sambil meletakkan semangkuk bubur sayur di depan kedua adik perempuan itu.
“Aku tak mau bubur, kau saja yang minum. Aku mau makan mi kulit dingin,” ujar Zhang Wanwan sambil menatap bubur panas itu lalu melihat Zhang Yanyuan.
“Aduh, kenapa tak bilang dari tadi.” Zhang Yanyuan meletakkan mangkuk kosong yang hendak diisi bubur, memberikannya pada Zhang Wanwan, lalu mengambil bubur itu untuk dirinya sendiri.
Zhang Wanwan mengambil mi kulit dingin, menambahkan saus, lalu mengaduknya. Ia melihat ke arah acar di kejauhan, mengambilnya untuk Zhang Ning, “Ini, kesukaanmu.” Setelah itu ia makan mie-nya dengan senang hati.
Zhang Ning yang sedang minum bubur, memandang Zhang Wanwan makan mie, lalu menatap buburnya sendiri dan meminumnya.
“Kamu juga mau makan? Kalau mau, bubur sisa ini kasih aku saja. Dulu waktu kecil, sisa makanan kalian pasti aku yang habiskan,” kata Zhang Yanyuan, mengakhiri kalimatnya dengan sebuah desahan.
Zhang Wanwan menambah mie ke dalam mangkuknya, menambahkan saus dan mengaduknya, lalu meletakkan mangkuk di depan Zhang Ning. Ia mengambil bubur yang telah diminum Zhang Ning dari tangannya, tersenyum dan berkata, “Makanlah, kakak juga makan punyamu.”
Tiba-tiba Zhang Ning merasa lega, menatap senyum manis Zhang Wanwan, hidungnya terasa agak perih, lalu menunduk dan mulai makan mie itu.