Diam dalam Keheningan Bab Empat
Akhirnya, hari kerja yang melelahkan pun usai. Anak-anak dengan wajah penuh debu saling bersandar di bawah sebuah gerobak, menengadah ke langit malam yang dipenuhi bintang.
Seorang anak laki-laki berusia tujuh atau delapan tahun dengan pakaian compang-camping, menghirup aroma daging yang terbawa angin, sambil mengisap jari-jarinya yang mungil. Ia mendekat ke seorang anak yang sedikit lebih besar, lalu berbisik dengan suara sangat pelan, “Kak Yu, aku lapar sekali.”
Anak yang dipanggil Kak Yu itu mengelus rambutnya, tersenyum lembut dan bertanya dengan hangat, “Shu Shu, perutmu lapar lagi?”
“Iya!” Ia mengangguk kuat-kuat menjawab.
Anak-anak lain yang seusia dengannya juga mulai merasakan perut mereka berbunyi. Mereka pun menundukkan kepala dengan malu, menahan perut berusaha agar tidak mengeluarkan suara.
Kak Yu melirik ke arah gubuk kecil di kejauhan, di mana beberapa pria bertelanjang dada sedang ramai-ramai makan daging dan minum arak. Ia bangkit berdiri, berjalan mendekat. Tak lama kemudian, ia sudah keluar dengan membawa sepiring besar nasi.
“Nih, dagingnya masing-masing dapat satu potong.” Katanya sambil duduk di tanah, mengambil potongan-potongan daging dari nasi dan membaginya kepada anak-anak di sekeliling. Ia lupa bahwa dirinya juga masih anak-anak, sampai-sampai tak menyisakan sepotong pun untuk dirinya sendiri.
Melihat daging di tangan, mata mereka langsung berbinar-binar, begitu mendapatkannya langsung disuapkan ke mulut. Shu Shu membagi satu potong menjadi dua, satu ia masukkan ke mulut dan satu lagi ia sodorkan kepada Kak Yu.
Kak Yu menggeleng pelan, menunjuk tubuhnya yang kurus kering sambil berkata, “Aku tidak lapar, kamu makan saja.”
“Kak Yu... maaf, aku lupa kamu belum makan, aku terlalu lapar tadi.” Seorang gadis kecil berambut kekuningan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak apa-apa, ayo semua makan, kalau sudah kenyang nanti tidak akan lapar lagi.” seru Kak Yu menyemangati mereka.
Dua puluhan anak itu lahap menyantap nasi yang bercampur remah-remah daging, mata mereka yang semula redup kini penuh cahaya, seolah melupakan segala penderitaan yang dialami di siang hari.
Usai makan, Shu Shu kecil menjilat bersih jari-jarinya, menangkupkan tangan di depan dada, bulu matanya yang panjang menutupi mata sebening air yang murni, ia diam-diam berdoa.
Cahaya bulan yang dingin dan tenang menyinari tumpukan batu besar, menerpa perbukitan batu yang jauh dari hiruk pikuk dunia. Harapan kecil yang ia bisikkan dalam hati, menemaninya terlelap bersama sisa-sisa harapan yang lemah.
Dalam mimpinya, tak ada kegelapan, tak ada pekerjaan tak berujung, tak ada cambukan, tak ada matahari yang membakar tanpa ampun. Tangan kecilnya yang penuh luka diletakkan di dada yang bergerak naik turun oleh nafasnya yang tenang.
Sementara itu, Zhang Ning mengambil sebuah brosur promosi universitas dari rak buku, lalu membukanya—Universitas Pertanian tertentu. Semakin lama ia membaca, semakin menarik baginya. Ia pun beranjak ke meja belajar dan duduk untuk membaca lebih seksama.
Hanya beberapa lembar tipis, tak butuh waktu lama baginya untuk menuntaskan. Selesai, ia kembali membacanya sekali lagi.
Di waktu yang sama, Yuan Youwei yang juga sedang membaca brosur universitas, melirik ke arah Zhang Ning yang memegang brosur. Senyum di wajahnya membeku. Tidak yakin, ia membandingkan brosur di tangannya dengan yang dipegang Zhang Ning.
Dengan membawa buku kecil bertuliskan Universitas Xianghe, ia duduk di kursi depan Zhang Ning. “Kenapa? Kamu tertarik dengan Universitas Pertanian?”
Zhang Ning menutup brosur, lalu menatap buku yang dipegang Yuan Youwei. Pandangannya terhenti selama beberapa detik sebelum ia mengangguk pelan.
“Boleh aku tanya kenapa?” Yuan Youwei meletakkan brosur di pangkuannya, menatap Zhang Ning dengan penuh minat.
“Aku suka makan. Kalau sudah kenyang, apapun yang terjadi rasanya punya tenaga untuk menghadapinya,” jawab Zhang Ning.
“Benar juga, makan adalah hal terpenting bagi rakyat. Semoga pilihanmu didukung semua orang. Sekarang aku sudah tahu, kurasa aku jadi orang pertama yang mendukungmu, kan?”
Zhang Ning berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Bukan, yang pertama adalah ibuku.”
“Oh, yang pertama ibumu, itu permulaan yang bagus.” Yuan Youwei menatap Zhang Ning dengan ekspresi lumayan terkejut, lalu tersenyum kembali.