Bab Empat Puluh Dua: Pemimpin Besar yang Misterius

Pahlawan Rakyat Menuruni Lautan Biru yang Dalam 3603kata 2026-03-04 13:01:43

Tugas yang diberikan Su Qian kepada Fang Jingzhi dikerjakan dengan sangat baik. Begitu menemukan para wanita yang telah dirusak secara brutal oleh para perampok, Fang Jingzhi segera mengutus orang ke bawah gunung untuk mencari nenek-nenek yang disebut oleh Su Qian. Ia juga melepas jubahnya dan menyelimutkan ke tubuh para wanita yang pakaian mereka telah compang-camping. Para prajurit itu, serempak memalingkan wajah, berdiri seperti perisai hidup, melindungi mereka di belakang.

Mereka dengan sabar menunggu para nenek datang ke atas gunung. Hampir setengah jam berlalu, belasan nenek-nenek itu pun muncul dan menenangkan para wanita yang hancur hati itu, lalu membawanya turun gunung. Satu regu prajurit mengawal hingga para wanita itu selamat tiba di Kota Kabupaten Lingbei.

Di Liang, wanita yang mengalami nasib malang seperti itu memang mengundang simpati, tetapi bagaimanapun masih merupakan masyarakat feodal yang terbelakang. Bahkan seorang pejabat kabupaten seperti Fang Jingzhi, meski bersimpati, biasanya tidak akan menunggu dengan sabar dan mengawal dengan aman seperti itu. Bisa menyelamatkan mereka saja sudah sangat baik, soal masa depan para wanita itu bukan urusannya lagi.

Seandainya bukan karena Su Qian, Fang Jingzhi jelas takkan berbuat sejauh itu. Awalnya, Fang Jingzhi merasa heran dengan sikap Su Qian, namun kemudian ia sadar, Su Qian telah bertahun-tahun mempelajari kitab-kitab para bijak. Sudah sewajarnya ia masih punya rasa moral, apalagi ia belum lama bergelut di dunia birokrasi. Hati yang berbelas kasih seperti itu adalah hal wajar, namun begitu Su Qian masuk ke dunia pejabat, hati semacam itu bisa berubah sekeras batu—itulah jalan seorang pejabat.

Tentu saja, mumpung Su Qian masih punya sedikit belas kasihan, Fang Jingzhi pun tak ingin melewatkan kesempatan mengambil hati—siapa yang mau membuang peluang berharga untuk membangun hubungan baik yang bisa berguna di masa depan?

Setelah urusan selesai, mereka bertiga melanjutkan perjalanan ke bagian dalam. Kali ini mereka berjalan sekitar satu li, tidak lagi menemukan gua, melainkan telah tiba di ujung jalan.

Di ujungnya ada sebuah aula besar, lebih tepatnya tempat para perampok biasa berkumpul untuk minum dan bersenang-senang. Aula itu tidak terlalu besar, hanya seratusan meter persegi, di tengahnya ada sebuah meja panjang yang membentang dari satu sisi ke sisi lain. Di belakangnya, deretan kursi berjajar, kira-kira ada tujuh puluh sampai delapan puluh buah.

Yang bisa masuk ke sini umumnya adalah para petinggi dan pimpinan perampok Gunung Dongzi. Di ujung aula, terdapat sebuah panggung tinggi, di atasnya diletakkan kursi besar berlapis kulit harimau. Di sampingnya, dua kursi pendamping berjajar. Di dinding terpahat dua tulisan besar "Loyalitas & Keadilan" dengan warna darah.

Pada dinding-dinding lain, tergantung banyak tengkorak binatang. Obor di sekeliling menyebarkan kehangatan, membuat suasana aula terasa hangat. Bisa dibayangkan betapa riuhnya tempat ini bila sedang digunakan para perampok. Namun kali ini, para perampok Gunung Dongzi sudah diberantas habis—yang tewas sudah terkubur, yang tertangkap sudah ditawan. Takkan pernah lagi ada perampok biadab yang meresahkan dua kabupaten.

Su Qian hanya melirik sejenak ke arah aula, lalu melangkah ke atas panggung, langsung menuju kursi kulit harimau. Ia berdiri di depan kursi itu, sebentar kemudian melangkahi kursi, menaruh telapak tangan di sandarannya. Jemarinya seperti tengah meraba sesuatu, tiba-tiba menekan sebuah mekanisme rahasia.

Seketika, dinding tempat tulisan "Loyalitas & Keadilan" terpahat itu mengeluarkan suara bergemuruh, lalu sebuah pintu batu perlahan terbuka.

Mata Su Qian berkilat, namun hal ini sudah ia perkirakan. Umumnya, markas perampok pasti punya tempat penyimpanan harta. Tadi mereka sudah memeriksa banyak gua, tapi tidak menemukan satu keping perak pun. Jika dikatakan Gunung Dongzi tak punya harta, jangankan Su Qian, orang luar pun takkan percaya.

Perampok Gunung Dongzi telah meresahkan dua kabupaten selama lebih dari dua puluh tahun. Mustahil mereka tak punya simpanan harta. Bisa mengumpulkan hampir enam ratus perampok, sebagian besar penjahat nekat, tanpa uang siapa yang mau bergabung?

Su Qian memang belum pernah masuk sarang perampok, tapi di kehidupan sebelumnya, ia sudah menonton banyak drama pemberantasan bandit. Walau belum pernah makan daging babi, setidaknya sudah sering melihat babi berlari.

Tak salah, dengan sedikit percobaan, ia menemukan tempat penyimpanan harta Gunung Dongzi.

Begitu pintu gelap terbuka, Fang Jingzhi dan Xie Cang segera melangkah maju. Ketiganya saling bertukar pandang.

Sesaat kemudian, dua puluh prajurit bersenjatakan perisai, busur, dan obor masuk lebih dulu. Dalam sekejap, mereka ditelan gelapnya lorong gua itu. Sekitar lima belas menit kemudian, kabar pun datang dari dalam. Tidak ditemukan perampok yang tersisa, semua aman, dan telah ditemukan harta karun, menunggu pemeriksaan para pejabat.

Fang Jingzhi amat gembira mendengarnya, lalu bersama Su Qian dan Xie Cang masuk ke lorong. Meski gelap, dengan dua puluh prajurit yang menyalakan obor di dinding, perjalanan mereka berjalan lancar. Setelah menempuh sekitar satu li, mereka akhirnya tiba di sebuah panggung, di mana tumpukan emas dan perak menggunung.

Sekilas melihat, bahkan Xie Cang pun jantungnya berdebar. Harta yang terkumpul di situ, tak usah dihitung rinci, perkiraan kasarnya mencapai setidaknya lima puluh ribu tael.

Lima puluh ribu tael mungkin terdengar samar, namun harus diketahui, sebuah kabupaten setahun hanya mengumpulkan pajak sekitar dua puluh ribu tael. Perampok Dongzi benar-benar layak menyandang gelar kelompok perampok terkuat di dua kabupaten. Mereka telah menabung harta senilai pajak Kabupaten Lingbei selama dua tahun. Ditambah penemuan tambang besi mereka, andai diberi waktu beberapa tahun lagi, kelompok perampok ini takkan mampu ditaklukkan pasukan biasa. Kalau operasi kali ini gagal seperti sebelumnya, akibatnya sungguh mengerikan.

Ketiganya saling menatap, lalu Fang Jingzhi berkata, "Tuan Xie, Tuan Su, membasmi perampok Gunung Dongzi adalah berita gembira. Sesuai aturan, harta rampasan harus dibagi oleh pejabat kabupaten. Namun, karena ini Gunung Dongzi, saya punya usul. Setengah dari harta ini diserahkan ke kota prefektur, separuh sisanya setengah lagi digunakan untuk membagi jatah pihak terkait, sisanya kita bagi rata bertiga."

Mendengar ini, Xie Cang dan Su Qian diam sejenak, lalu mengangguk, "Baiklah, kita ikuti usul Tuan Fang."

Fang Jingzhi pun diam-diam menarik napas lega. Jujur saja, saat ia mengusulkan pembagian itu, hatinya deg-degan. Lima puluh ribu tael bukan jumlah kecil, bahkan Xie Cang pun gajinya setahun tak sampai segitu. Ia agak khawatir dua orang ini akan menyerangnya karena pembagian harta yang tidak adil.

Di sini hanya mereka bertiga dan dua puluh prajurit, yang semuanya adalah anak buah kepercayaan Xie Cang. Jika Xie Cang mau berbuat jahat, ia takkan mampu melawan. Untunglah, taruhannya benar—dua orang ini bukan tipe serakah yang akan membunuh demi harta.

Zaman sekarang, siapa yang punya kekuasaan pasti besar pula nafsunya—entah harta, wanita, atau nama baik yang abadi. Kekuasaan sudah di tangan, harta dan wanita ternyata tidak terlalu mereka pedulikan, berarti hanya satu yang diincar: nama harum yang dikenang sepanjang masa.

Fang Jingzhi memang pandai menilai orang. Jika dua orang ini memang tamak, sejak tadi ia takkan berani masuk gua bersama mereka. Dua puluh prajurit di belakang juga sudah dipilih dengan cermat, tahu betul mana yang boleh dan tak boleh diambil. Tanpa perlu Xie Cang bicara, para prajurit dengan ekspresi datar mulai menghitung harta karun itu.

Su Qian hanya melirik ke arah tumpukan harta itu sebentar, lalu berbalik dan berjalan ke luar gua. Namun saat berpapasan dengan Fang Jingzhi, ia berbisik pelan, "Hehe, Tuan Fang tadi tegang sekali ya, entah kami berdua sudah lulus ujian Tuan Fang atau belum?"

Fang Jingzhi tercengang, tersenyum malu, lalu segera membungkuk hormat pada Xie Cang dan Su Qian. "Maaf, saya memang kurang pantas memikirkannya. Saya janji takkan terulang lagi."

"Mm, kekhawatiran Tuan Fang wajar saja, namun aku tak ingin hal ini terjadi lagi. Bagaimanapun kita ada di perahu yang sama, aku takkan membuat perahu ini bocor. Kuharap Tuan Fang mengerti."

"Saya mengerti, terima kasih atas nasihatnya," jawab Fang Jingzhi sambil mengangguk-angguk, lalu segera mengikuti Su Qian dan Xie Cang keluar.

Baru saja keluar dari gua, dari barisan pasukan di depan, sosok Tong Zhan kembali muncul. Kali ini ia juga menyeret seseorang—dilemparnya begitu saja ke tanah.

Tampak seorang pria bertubuh kecil dengan wajah cekung dan bekas luka di pipi tergeletak lemas. Kali ini Tong Zhan tidak membunuhnya, hanya membiarkan ia sekarat. Orang ini adalah kepala ketiga perampok Gunung Dongzi, dikenal dengan nama Liu Berparut.

Tadi, semua teriakan dan perintah di puncak gunung adalah ulahnya. Meski tampak licik dan culas, ia terkenal penuh tipu daya. Su Qian memandang kepala ketiga yang sudah urat-urat tangan dan kakinya diputus itu, lalu bertanya dengan suara dingin.

"Kau kepala ketiga Gunung Dongzi, bukan? Aku akan bertanya, kau akan menjawab. Hidup matimu tergantung pada kepuasan jawabanku."

Liu Berparut menatap Su Qian, mengangguk lemah. Ia tahu, orang yang memimpin semua ini adalah cendekiawan muda bertubuh lemah itu. Soal akal bulus, semua tergantung waktu dan tempat. Ia sadar, tokoh yang tampaknya ramah ini tidak sesederhana penampilannya. Kalau memang sepele, Gunung Dongzi takkan semudah itu ditaklukkan, dan para saudara seperjuangannya takkan tewas begitu tragis.

Orang di depannya ini, tingkat kekejamannya melampaui dirinya sendiri.

"Di mana kepala utama kalian sebenarnya?"

"Tidak tahu. Yang saya tahu, wakil kepala tiga bulan lalu menjadi pengganti kepala utama. Soal ke mana kepala utama, kami pun tak tahu."

Jawaban Liu Berparut sangat lugas, tak berputar-putar dengan Su Qian.

"Dalam ingatanmu, seperti apa kepala utama kalian?"

"Kepala utama sangat cerdas, lebih pintar dari kami semua. Terus terang, seandainya wakil kepala tidak gagal waktu turun gunung, dan Gunung Dongzi punya waktu beberapa tahun lagi, pasti akan jadi besar. Sayang, kepala utama menghilang tiga bulan lalu, makanya kami kalah seburuk ini."

Liu Berparut sungguh menyesal dan sangat mengagumi kepala utama yang misterius itu—kekaguman tulus dari hati. Tatapan mata seperti itu pernah dilihat Su Qian sebelumnya, sama seperti saat ujian kabupaten, ketika bertemu pengagum setia.

Bisa membuat Liu Berparut memuja seperti itu, kepala utama yang disebut-sebut itu benar-benar membuat Su Qian penasaran.

Selanjutnya Su Qian mengajukan beberapa pertanyaan tentang kepala utama, dan Liu Berparut menjawab semuanya. Sayangnya, tak peduli apa yang ditanyakan Su Qian, ia tetap tak menemukan sedikit pun kesan terhadap sosok kepala utama itu.

Sederhananya, setiap orang yang pernah bertemu seseorang, walau hanya lewat deskripsi, pasti punya kesan pertama. Tapi dari jawaban Liu Berparut, tidak ada kesan sama sekali—karena kepala utama yang misterius itu nyaris tak pernah menampakkan diri.

Bahkan wajah kepala utama yang ditiru oleh wakil kepala hanyalah wajah pengganti yang dipilih secara acak.

Satu-satunya hal yang berulang kali diingat dan diakui adalah kecerdasan—kecerdasan yang sangat menakutkan.

Hal ini justru menambah aura aneh dan misterius pada sosok kepala utama itu.