Rasa sakit dan gatal yang tak kunjung reda.
"Jika aku tahu kau akan melakukan ini, aku pasti sudah mencegahmu. Tapi kalau kau memang bersikeras, aku takkan menahanmu lagi, aku juga seorang perempuan," ucap Ning Zhang sambil berdiri di depan jendela, memandang ke arah laut dan membiarkan angin laut menerpa wajahnya.
"Kalau soal seperti ini, kebanyakan orang akan memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya. Tapi aku tak mau seperti itu. Sekalipun akhirnya aku harus menerima hukuman, aku tidak akan menyesal. Hukum hanyalah jembatan yang berdiri di atas moralitas. Aku tahu apa yang kulakukan ini salah, tapi dia sudah menghancurkan hidupku, membuatku harus menjalani hidup dengan penuh rasa hina. Aku ingin sekali mencabik-cabik tubuhnya, lalu menaburkan abunya ke angin," Beibei Wei mengepalkan tinjunya di atas bingkai jendela, sorot matanya masih menyala oleh kebencian.
Di luar, angin bertiup miring membawa gerimis lembut. Ning Zhang menunduk, diam tanpa berkata-kata. Dalam hidup, ada beberapa luka dan kematian yang tak bisa dihindari. Hal-hal seperti ini sudah sering ia dengar dan lihat sejak kecil di sisi ibunya yang berpengalaman.
"Setiap alat sudah kupersiapkan dengan matang supaya tak ada celah. Kalau pada akhirnya masih ketahuan, aku pun siap menerimanya," Beibei Wei berbalik dan keluar, tak lama kemudian masuk kembali dengan sebuah map dokumen, lalu membukanya satu per satu di atas meja. "Ini semua adalah senjata perlawanan yang kupunya, dan dua di antaranya lahir dari luka dan penderitaanku," ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Lupakan malam itu, itu sudah jadi masa lalu dan tak ada hubungannya lagi denganmu," Ning Zhang melangkah mendekat, mengumpulkan dokumen-dokumen itu dan memasukkannya kembali ke dalam map.
Ibunda Beibei yang baru pulang dari pasar buru-buru meletakkan kantong-kantong bawaannya. Ia mengambil sepiring buah, mencuci bersih semangka, memotongnya, lalu membawa piring itu ke kamar.
"Ning, Beibei, mari makan semangka." Melihat keadaan putrinya yang belakangan ini mulai membaik, hati sang ibu yang sekian lama tertekan akhirnya sedikit lega dan bahagia.
"Terima kasih, Tante," Ning Zhang menerima potongan semangka yang diberikan dengan manis.
"Mama juga makan, ya," Beibei Wei mengambil sepotong semangka dari piring, lalu memberikannya pada ibunya. Ia membelai lembut rambut ibunya yang mulai memutih, hidungnya terasa asam dan buru-buru membuang muka, takut air matanya tumpah jika melihat lebih lama lagi.
"Baik, baik, Mama juga makan," Ibunda Beibei memandang semangka merah di tangannya, matanya berkaca-kaca, menggigit satu potong semangka manis itu. Hati yang selama bertahun-tahun kuat kini terasa melunak. "Kalian makan duluan, Mama mau masak. Ning, tolong bantu Beibei belajar ya." Saat berkata begitu, ia melirik map di atas meja, sekilas menatap Beibei, lalu dengan cepat mengambil map itu dan keluar menutup pintu kamar.
"Tidak merepotkan kok, Tante," ujar Ning Zhang, melihat sikap cemas ibunda Beibei membuatnya teringat pada ibunya sendiri yang jauh di luar negeri, meski bukan ibu kandung.
Di tepi laut, di atas kapal nelayan, tiga remaja laki-laki membantu ayah Beibei. Mereka mengenakan caping dan jas hujan, menantang angin dan gerimis yang sejuk, wajah mereka memancarkan keceriaan khas anak muda.
"Anak-anak, ayo turun, waktunya makan," seru ayah Beibei sambil mengusap tetesan air hujan di wajah, lalu melambaikan tangan kepada mereka yang sedang memindahkan hasil laut di atas kapal.
"Baik, Paman, kami selesaikan beberapa peti lagi lalu turun," jawab Yinjing sambil mengangkat satu peti dan menyerahkannya pada temannya.
"Baru pertama kali melakukan ini, ya? Kok kelihatan senang sekali," tanya pria beralis tebal dan bermata besar, bertelanjang dada sambil mengangkat hasil laut untuk diberikan kepada teman di depannya.
"Benar, Paman," Yinjing membetulkan caping di kepalanya, tersenyum lalu mengangkat peti lain untuk diberikan ke pria itu.
"Hahaha, lebih suka laut atau suka melaut? Kalau suka laut, nanti sekolah di Universitas Kelautan, jaga laut kita. Kalau suka melaut, bagaimana kalau jadi menantu saya saja?" Suara tertawanya yang riang bergema di tengah keramaian.
Melihat Yinjing tersipu dan menundukkan kepala, tawa lepas itu pun kembali terdengar di antara mereka.