Hidup bagaikan bunga musim panas yang memancarkan kemilau.

Taman Bintang Satu Mil Mimpi 1102kata 2026-03-05 18:18:33

“Ya Tuhan, tolong berikan kami kekuatan agar bisa melarikan diri dari penderitaan ini,” bisik seorang anak laki-laki berkulit gelap, kedua tangannya saling menggenggam di depan dada, menatap malam bertabur bintang. Di lapangan batu yang kosong itu, satu-satunya hal yang bisa ia cari dan kagumi hanyalah malam dengan bintang-bintang. Tak peduli seberapa gelap langit, cahaya bintang selalu mampu membakar lubang-lubang kecil di sana, membuatnya lupa akan rasa sakit ketika orang-orang jahat membakar kulit mereka dengan puntung rokok.

Zhang Ning duduk di balkon, memperhatikan buku catatan peninggalan neneknya, lalu mengusap matanya yang lelah sebelum menengadah ke langit malam yang hanya dihiasi bintang-bintang samar. Di tangannya tergenggam naskah catatan hidup guru sang nenek; halaman-halaman awal masih bisa ia pahami, namun semakin ke belakang, semakin sulit dimengerti. Ia sadar betul betapa berharganya catatan itu, tak seharusnya ia sia-siakan. Ia ingin menolaknya, tapi tak mampu membujuk nenek tua itu yang bersikeras memberikannya.

“Andai saja anakku tidak menjadi teladan bagi ayahmu, dia pasti tak akan membuat pilihan yang sama. Semoga anak itu bisa kembali dengan selamat. Sudah terlalu banyak pengorbanan, cukuplah sampai di sini. Ning, jangan tiru mereka, mengertikah? Itu tidak adil bagi keluarga. Jalan itu sudah ada yang menjadi pelita bagimu, kamu seharusnya juga menjadi pelita di jalan penelitian, agar jalan yang penuh duri itu lebih sedikit bahayanya. Aku tahu apa cita-citamu dulu, nenekmu menangis dan memberitahu padaku,” matanya dipenuhi air mata, ia menghela napas panjang dan menatap anak lelakinya yang masih muda; sang anak tersenyum cerah, diam-diam memandang mereka. Zhang Ning melihat sinar di mata lelaki itu, cahaya yang terpancar dari bola mata gelapnya.

Ia baru seolah mengerti, bahwa saat pertama kali nenek memukulnya, itu karena ia berkata bercita-cita menjadi polisi pemberantas narkoba seperti ayahnya. Hanya sekali ia dipukul, dan di balik keterkejutannya, ia menangis penuh rasa terzalimi.

“Anakku, ini hadiah ulang tahun ke-16 dariku. Semoga kau tekun belajar, sebab ilmu akan bermanfaat di saat dibutuhkan, dan hati yang jernih dapat membedakan benar dan salah. Jalan seorang jenius juga penuh rintangan, saat kau terjatuh jangan terbawa amarah, berhentilah sejenak dan bukalah tiap simpul kehidupanmu dengan baik.” Di tengah sampul luar, tertulis rapi dengan pena hitam—sebuah kalimat kecil yang ditulis nenek di tengah malam saat tak bisa tidur.

Tan Shaolin dan seorang dokter yang membawa kotak obat tengah berbicara pelan di luar ruangan. Tan Shaolin sesekali melirik ke dalam, ke arah Gu Xiangyi.

“Kalau kau ingin anak itu, jangan berikan obat itu lagi, biarkan dia berhenti lalu pikirkan. Di dalam kandungan pun bisa ketagihan. Sekarang sudah tiga bulan, mau dipertahankan atau tidak, terserah padamu. Kalau ada apa-apa panggil saja aku, aku pergi dulu,” kata Xia Shu sambil menepuk bahu Tan Shaolin, lalu pergi bersama sopirnya.

Gu Xiangyi mengangkat tangannya yang gemetar karena sakau, meraba perutnya, lalu tertawa keras. Ia menatap orang yang berdiri di samping ranjang dan berkata, “Tak kusangka, balasan datang secepat ini. Kalau keguguran, kaulah pembunuhnya. Huh.” Tanpa ekspresi, ia menatap dingin dan terus-menerus mengejek.

Melihat tawa dingin penuh sindiran yang begitu menusuk, Tan Shaolin tertegun, suaranya melunak dan ia bertanya pelan, “Dia juga anakmu, tidakkah kau sedih?”

“Sedih? Kenapa harus sedih? Aku bahkan belum pernah menemuinya. Lagi pula, kau itu iblis, kenapa harus membiarkan dia lahir di sisimu, menanggung dosa yang sama sepertiku? Kau juga mau memberinya obat?” Tatapan Gu Xiangyi semakin tajam dan penuh sindiran, tawanya sirna, hanya tersisa wajah dingin tanpa belas kasihan.

“Kalau saja kau tidak mencoba kabur, aku juga tak akan memberimu obat. Aku hanya ingin kau tetap di sisiku,” Tan Shaolin membalas tanpa sedikit pun penyesalan.