Bab Tujuh Puluh Dua: Asli dan Palsu
Manusia takut pada mayat sesamanya.
Jiang Cheng tak pernah menyangka, ternyata si jeli raksasa itu juga takut pada mayat manusia.
Bukankah seharusnya ia lebih takut pada mayat jeli lain?
Tapi tampaknya jeli memang tak punya mayat…
“Buluh!”
Jeli raksasa itu bergetar hebat, lalu kembali menyatu ke bentuk semula.
[Kepala mayat kering]
[Mata]
[Bergerak]
Sebagai makhluk yang tak bisa berbicara namun mampu berubah bentuk, kata-katanya memang selalu singkat dan jelas.
“Mata itu bergerak?” Jiang Cheng tetap tenang, membungkuk mengambil kepala kering kerontang di tanah, lalu memperhatikannya dengan saksama.
Kepala ini sangat jelek.
Kulit manusia yang kering dan menguning menempel pada tulang di dalam, mulut yang bengkok dan cacat sedikit terbuka, menampakkan gigi kuning yang tak beraturan, bibir mengerut, hidung penyok, rambut di atas kepala bagai rumput mati di musim dingin—kaku dan kasar.
Kebanyakan mayat kering memang buruk rupa, kecuali orang legendaris bernama “Paskara”.
Kejelekan bisa menimbulkan rasa tak nyaman secara psikologis, sekaligus memperbesar rasa takut.
Jiang Cheng menatap kepala itu beberapa saat, lalu melirik ke arah jeli raksasa, bertanya, “Kamu yakin matanya bergerak?”
“Buluh!”
“Mungkin hanya ilusi? Apakah kamu merasakan kekuatan aneh dari mayat ini?”
[Tidak]
Berkomunikasi dengan jeli raksasa tidaklah sulit.
Di antara makhluk-makhluk aneh, selama saling berdekatan, biasanya akan ada semacam indra perasaan.
Seperti kakak-beradik Jia Ren dan Jia Yi, mereka mampu merasakan kehadiran satu sama lain dari jarak amat jauh, sehingga bisa membantu kelompok mereka menemukan target atau menentukan arah pelarian.
“Bisa nggak kalian berdua berhenti ngobrol dulu, lebih baik kita cari Bang Tao secepatnya.” Berang-berang tampak sangat gelisah, ia memeluk erat lukisan di pelukannya, sepasang matanya terus-menerus mengawasi sekeliling.
Bersama orang lain terasa lebih aman.
Sekarang mereka cuma bertiga, lebih tepatnya satu manusia dan dua makhluk aneh.
Sementara di balik kabut hitam yang mengelilingi mereka—dalam kegelapan dan keheningan yang tak terlihat—entah berapa banyak mayat kering yang menyeramkan tengah berdiri menanti.
Kabut yang bergulung-gulung ini menghalangi jarak pandang.
Senter terang sekalipun tak mampu memberi rasa aman pada Berang-berang.
“Jangan buru-buru, kita harus memperhatikan detail.” Jiang Cheng tak terlalu tergesa-gesa, “Saat kepala ini jatuh tadi, dari bagian leher yang patah sempat menyembur kabut hitam, jadi kemungkinan besar mayat ini bukan bergerak dengan kehendak sendiri, tapi dikendalikan oleh kabut itu.”
“Kan sama-sama hitam, mana bisa kamu pastikan itu kabut hitam yang keluar? Bagaimana kalau cuma gas biasa dalam tubuh mayat yang menyembur, lalu bikin kabut di sekeliling jadi makin tebal?” Berang-berang membantah, dan bantahannya sangat tepat.
“Masuk akal juga.”
Jiang Cheng tak ingin membantah lebih jauh, sebab itu pun hanya dugaannya.
Setelah itu ia meletakkan kepala itu, lalu mengajak dua makhluk lainnya melanjutkan perjalanan.
Kali ini, suara-suara aneh di sekeliling semakin banyak.
Bahkan Berang-berang dan jeli raksasa pun bisa mendengarnya.
Kabut hitam di sekitar mereka terus bergolak, menyelimuti suasana dengan rasa cemas dan takut.
Sesekali, satu dua mayat kering yang buruk rupa dan mengerikan muncul di jalan di depan, menatap mereka dengan tatapan kosong, seolah sedang melepas kepergian mereka.
“Sial, mereka menatapku sampai bulu kuduk berdiri.” Berang-berang berjalan menempel di kaki Jiang Cheng, terus merasa di balik kabut hitam di belakangnya ada sesuatu yang makin lama makin mendekat, tapi ia terlalu takut untuk menoleh.
“Buluh!”
Jeli raksasa tak punya bulu atau tulang, jadi ia tak bisa merasakan bulu kuduk berdiri.
Tapi rasa takut itu nyata.
“Jangan khawatir,” Jiang Cheng mencoba menenangkan, “Menurut keterangan gereja, makhluk lintas dunia kali ini hanya datang sebagian kecil saja, aturannya belum sepenuhnya lengkap, jadi saat ini kita seharusnya aman. Kalau memang mayat-mayat itu mau menyerang kita, mereka pasti sudah bergerak dari tadi.”
“Jangan-jangan mereka seperti boneka di Kota Doro waktu itu?” Berang-berang teringat pengalamannya beberapa hari lalu di kota Doro.
Seluruh kota boneka dikendalikan oleh Nomor Enam Belas, sengaja mengarahkan mereka ke tempatnya.
Kalau mereka salah arah, Nomor Enam Belas akan memberi petunjuk lewat Jia Yi.
“Kali ini, kecerdasan makhluk terlarang ini sepertinya belum mencapai tingkat Nomor Enam Belas. Semua mayat yang muncul adalah manusia biasa, dari pakaian mereka, dua pertiganya tunawisma, sisanya orang-orang kesulitan ekonomi.”
“Oh…”
Mendengar penjelasan Jiang Cheng, ketegangan Berang-berang sedikit mereda.
Ia tak tahu… sebenarnya Jiang Cheng sendiri pun tak yakin.
Bagaimanapun juga, makhluk terlarang ini berada di atas makhluk aneh, belum ada yang pernah melihatnya, aturannya pun tak diketahui, dan catatan di penginapan tentang makhluk seperti ini sangatlah terbatas.
Makhluk terlarang umumnya memiliki wilayah kekuasaan.
Seperti Kota Doro waktu itu, atau kawasan kabut hitam sekarang, keduanya bisa dianggap wilayah mereka.
Makhluk aneh biasa sangat sulit mengalahkan makhluk terlarang, kecuali memiliki kemampuan aneh yang sangat langka, seperti kecepatan luar biasa atau teleportasi jarak jauh—kemampuan semacam ini bisa melawan makhluk terlarang yang punya wilayah sendiri.
“Entah bagaimana keadaan Bang Tao dan yang lain sekarang…” Berang-berang berusaha mencari topik pembicaraan.
Berbicara sedikit bisa mengurangi rasa takutnya.
Pabrik mainan itu sudah tak jauh lagi, tinggal beberapa puluh meter.
Berang-berang bergumam pelan, kadang melirik Jiang Cheng, kadang menoleh ke arah jeli raksasa.
Ia tetap tak berani melihat ke belakang.
Meski mereka bertiga, ia selalu merasa seperti berjalan sendirian di malam hari.
Perasaan menakutkan di belakang punggungnya terus mendekat.
Seolah ada angin dingin membelai punggung Berang-berang, membuat seluruh punggungnya terasa membeku.
“Itu cuma perasaan… pasti cuma perasaan…” Berang-berang berbisik menenangkan diri, tangan yang memeluk lukisan bergetar ringan.
Tapi memang ada sesuatu di belakang mereka.
Mayat-mayat itu.
Mereka tak akan terlalu dekat, seharusnya.
Namun hawa dingin itu tak juga hilang, malah semakin kuat.
Seolah ada tangan kaku dan dingin mengusap punggungnya, atau ada makhluk mengerikan dan aneh merayap di punggungnya, meniupkan napas di tulang belakangnya.
Akhirnya.
Berang-berang tak tahan, ia menoleh ke belakang.
Sekali tatap itu saja, hampir saja jiwanya melayang karena ketakutan.
“Hantu!” Berang-berang menjerit ngeri, melompat dari tempatnya, seluruh bulunya berdiri.
Dalam sekejap, rasa takut yang luar biasa menyerang otaknya.
Tanpa berpikir, ia langsung mengayunkan lukisan gulung yang ada di tangannya ke arah makhluk di belakangnya.
“Tunggu! Aku teman sendiri!” Makhluk melayang di belakangnya buru-buru mundur dan berteriak menghentikan aksi kasar Berang-berang.
Di sisi lain.
Jeli raksasa sampai bergetar mendengar teriakan Berang-berang, hampir saja pecah lagi.
Jiang Cheng tetap tenang, ia menoleh melihat makhluk itu.
Sebuah tengkorak kepala melayang di udara, tampaknya milik pria dewasa.
Tak heran Berang-berang mengira berjumpa hantu.
Di lingkungan aneh dan penuh misteri seperti ini, tiba-tiba berbalik lalu berhadapan dengan tengkorak menyeramkan, mereka yang lemah mentalnya bisa saja pingsan di tempat karena terkejut.
“Sial! Kok kamu?” Berang-berang mengumpat, “Kenapa ngikutin aku dari belakang? Tadi kamu yang meniup punggungku, ya?”
“Aku cuma mau memastikan kalian bertiga benar-benar manusia!” Tengkorak itu buru-buru membela diri.
“Maksudnya apa?” Jiang Cheng menatap tengkorak itu dengan tenang.
“Jangan-jangan ada manusia palsu?” Berang-berang menatap tajam.
“Tentu saja ada, aku sendiri setengah jam yang lalu sempat bertemu Bang Tao palsu.”