Masa Muda Keempat
Mendengar bel pintu berbunyi, Zhang Ning yang sedang membaca buku di dalam rumah segera meletakkannya. Di sisinya, Leng Jian menegakkan telinga dengan pandangan waspada. Zhang Ning berdiri dan berjalan keluar, diikuti oleh Leng Jian.
Melihat sosok yang samar di layar interkom, Zhang Ning mengetuk kamera elektronik yang agak rusak itu agar gambarnya terlihat jelas. Setelah mengenali siapa yang datang, ia tersenyum dan membukakan pintu. Ia menatap Yang Chen dan bertanya, "Mengapa kau kemari?"
"Menumpang makan," ujar gadis berambut pendek yang mengenakan tas punggung dan topi bisbol itu sambil tersenyum.
Seorang anak laki-laki berusia enam atau tujuh tahun yang bersembunyi di belakangnya memunculkan wajah dengan senyum manis dan berseru, "Halo, Kak Ning!" Bocah itu berlari dengan langkah-langkah kecil, memeluk kaki Zhang Ning, dan menengadah dengan wajah ceria.
"Xiao Cheng juga datang," sapa Zhang Ning sambil mengusap kepala kecilnya. Yang Cheng menggoyangkan tangan Zhang Ning dan dengan suara kekanak-kanakan yang menggemaskan bertanya, "Kak Ning, apakah kau punya permen susu kelinci putih? Aku sangat ingin memakannya, tapi Ibu tidak mengizinkanku makan terlalu banyak, sehari hanya boleh satu."
"Tidak ada. Kalau anak kecil makan terlalu banyak permen, giginya akan menghitam dan tidak keren lagi," jawab Zhang Ning tegas, tidak terpengaruh oleh wajah imut anak itu.
"Hmph, aku tidak mau bermain denganmu lagi! Aku mau bermain dengan anjingmu saja, tidak mau bicara denganmu," ucapnya kesal sambil mengerucutkan bibir. Ia melepaskan tangan Zhang Ning dan berlari memeluk Leng Jian yang tengah menggonggong pelan karena gembira bertemu orang yang dikenalnya.
"Ini, ambil stik keju ini," kata Zhang Ning sambil mengambil sebatang stik keju dari kulkas dan memberikannya kepada anak itu.
"Terima kasih, Kak Ning." Saat Yang Cheng hendak menerimanya, Yang Chen segera menegurnya. Anak itu buru-buru menarik tangannya dan berkata kepada kakaknya, "Kak, aku pergi cuci tangan dulu."
"Dasar pengintil. Ke mana pun aku pergi, kalau tidak diajak, dia pasti akan berguling-guling di lantai sambil menangis," ujar Yang Chen pasrah sambil menggelengkan kepala, lalu mengikuti adiknya ke dapur.
Langit yang mendung mulai menurunkan rintik hujan, dan suasana di luar segera menjadi gelap.
Bocah kecil yang sedang mengunyah stik keju itu duduk menonton kartun sambil bernyanyi dengan keras, "Musim dingin baru saja berakhir, masih terasa samar, aroma rumput dan manisnya buah beri, mempercepat langkah pertumbuhanku..."
Zhang Ning yang berada di dapur tidak bisa menahan tawa mendengar nyanyian keras bocah itu.
"Dia masih kecil dan polos, tidak perlu menghadapi begitu banyak tekanan," ucap Yang Chen sambil mencuci sayuran, menoleh ke arah Zhang Ning yang sedang tertawa.
"Namanya juga anak-anak, sedikit nakal tidak apa-apa," baru saja Zhang Ning menyelesaikan kalimatnya, Yang Cheng berlari menghampiri mereka sambil menghentakkan kaki karena tidak sabar, "Kak, aku mau buang air kecil, kamar mandinya di mana?"
"Dasar, kau ini banyak sekali urusannya. Ayo, ikut aku," sahut Yang Chen sambil menyeka tangannya dengan celemek.
Yang Cheng memasang wajah memelas dan bergumam pelan di belakang kakaknya, "Habisnya aku kan harus melindungimu, makanya aku terus menempel. Eh, malah dibilang menyebalkan."
Zhang Ning yang sedang memotong sayur menoleh ke arah bocah itu dan mengacungkan jempol. Yang Chen memutar bola matanya dan mendesak adiknya untuk segera pergi.
Saat makan malam, Yang Cheng sesekali menatap Zhang Ning dan kakaknya. Mereka sedang asyik berbincang mengenai pelajaran sekolah. Ia sangat mengerti situasi dan tidak menyela pembicaraan mereka. Ia tahu kakaknya tidak sejenius dirinya yang selalu meraih peringkat pertama. Kakaknya harus mengerjakan banyak soal dan belajar hingga larut malam demi mempertahankan nilai yang bagus.
Setiap kali merasa lelah hingga hampir menyerah, kakaknya selalu berbisik padanya, "Mengapa aku bukan seorang jenius?"
Ia menatap Yang Chen yang hampir menangis dengan bingung dan bertanya, "Apa itu jenius?"
Yang Chen yang tadinya ingin menangis pun berhenti, lalu melirik adiknya dengan tajam, "Orang yang serba bisa dalam hal pelajaran."