Bab Seratus Sembilan Belas: Serigala dan Harimau (Tujuh)
Memasuki kuarter keempat, pertandingan bukan lagi sekadar adu kemahiran teknis, melainkan lebih kepada uji ketahanan fisik dan kekuatan mental para pemain.
Dalam durasi pertandingan lebih dari empat puluh menit, pemain harus terus-menerus berlari bolak-balik di lapangan. Setiap transisi serangan dan pertahanan adalah sebuah aksi lari cepat jarak pendek. Ditambah dengan beban tubuh atlet basket yang jauh lebih berat daripada orang biasa, tidak mengherankan jika di kuarter terakhir, banyak pemain kunci yang bertahan hanya berkat tekad baja.
Sejak tim ini dibentuk, Wang Lei sangat mengutamakan pelatihan fisik bagi para pemainnya. Hal ini didasarkan pada pengalamannya sendiri sebagai pemain, di mana ia merasakan betul betapa krusialnya masalah stamina. Meski basket di tanah air tergolong cukup baik, namun selalu gagal menembus tiga besar dunia. Menurut pandangan Wang Lei, penyebab utama tim nasional sering tumbang di kuarter ketiga atau keempat saat menghadapi lawan tangguh adalah masalah stamina.
Wang Lei juga teringat akan pengalamannya di dimensi Bumi. Meski di sana ia hanyalah seorang pria biasa yang gemar menyendiri, ia memiliki kecintaan mendalam pada basket. Perkembangan basket di tanah air di dimensi tersebut bahkan lebih buruk, hingga tidak mampu menembus peringkat delapan besar. Sejak Yao pensiun dan tiga pemain tengah legendaris lainnya menua, basket nasional memasuki masa transisi yang sulit.
Meski tak elok membanggakan masa lalu, sejarah mencatat bahwa basket Tiongkok pernah mencapai kejayaan. Banyak orang saat ini memuji teknik bintang-bintang dari seberang samudra serta taktik tim mereka yang berani, namun sedikit yang tahu bahwa teknik dasar *turnaround jumper* dalam bola basket modern sebenarnya ditemukan oleh legenda basket Tiongkok generasi pertama, Qian Chenghai. Bahkan, taktik *run-and-gun* yang kini begitu populer juga pertama kali diletakkan dasarnya oleh Qian Chenghai saat ia menjadi pelatih.
Pada tahun 1956, Tiongkok melakoni dua pertandingan persahabatan melawan Uni Soviet, yang saat itu merupakan peraih medali perak dunia. Tim Tiongkok dengan rata-rata tinggi pemain hanya 180 cm harus menghadapi Uni Soviet yang rata-rata tingginya 200 cm, termasuk pemain tertinggi dunia saat itu, Kroney. Sebagai pemain, Qian Chenghai mencetak 30 poin sendirian melalui *turnaround jumper* dan berhasil menundukkan Uni Soviet dengan skor 67-62.
Setelah pensiun, Qian Chenghai melatih tim nasional dan menciptakan gaya bermain "kecil, cepat, dan lincah" yang merupakan cikal bakal taktik *run-and-gun*. Ironisnya, taktik *full-court press* yang kini sering digunakan tim-tim Barat untuk membatasi pergerakan tim Tiongkok justru merupakan taktik yang dipopulerkan oleh mendiang Qian.
Tim nasional Tiongkok kala itu begitu kuat hingga FIBA terpaksa mengubah aturan; sebuah aturan yang mewajibkan setidaknya dua pemain menyentuh bola sebelum melakukan tembakan dibuat khusus untuk meredam taktik "mengejar bola" tim Tiongkok. Dunia Barat, yang kala itu memegang kendali atas kebijakan internasional, menunjukkan ketidakadilan mereka dengan terang-terangan; mereka mengubah aturan hanya karena tidak mampu menandingi lawan di lapangan. Kebiasaan buruk ini masih terus berlanjut hingga hari ini.
Gaya yang diterapkan Wang Lei untuk tim muda Xinjiang saat ini sejatinya adalah meneladani mendiang Qian. Para pemainnya tidak memiliki kondisi fisik yang istimewa, sehingga ia harus melatih mereka sesuai dengan situasi yang ada. Jika ia mengikuti gaya populer saat ini, timnya tidak akan mencapai prestasi seperti sekarang, dan bahkan mungkin tidak akan ada satu pemain pun yang menonjol. Bahkan bakat sebesar Turgun pun mungkin akan terbuang sia-sia.
Begitu kuarter keempat dimulai, tim muda Guangdong melancarkan serangan gencar. Mereka tertinggal dalam perolehan skor, sehingga harus terus menekan. Li Baofeng berkali-kali menginstruksikan pemainnya untuk bermain lebih agresif.
Menghadapi serangan tersebut, tim muda Xinjiang sempat kewalahan. Hawul, yang sudah kelelahan dan mengantongi empat pelanggaran, harus bermain ekstra hati-hati. Sedikit saja kesalahan akan membuatnya dikeluarkan dari lapangan. Tanpa kehadirannya, pertahanan *rebound* tim akan hancur, karena Cai Aihong, meski bisa melakukan *rebound*, masih sangat lemah dalam adu fisik.
Belum genap empat menit kuarter keempat berjalan, tim muda Guangdong berhasil menyamakan kedudukan bahkan berbalik unggul tiga poin.
Di saat kritis, Sun Dexun yang sebelumnya tampil kurang impresif akhirnya unjuk gigi. Memanfaatkan Turgun yang dijaga ketat dan ruang yang diciptakan Cai Aihong, ia berkali-kali menerobos ke bawah ring dan memaksa pemain kunci lawan, Hong Kai, melakukan dua pelanggaran beruntun, sehingga Hong Kai pun kini mengantongi empat pelanggaran.
Memasuki lima menit terakhir, kedua tim saling bergantian memimpin skor. Penonton yang tadinya hanya segelintir orang kini bersyukur bisa menyaksikan pertandingan ini, sementara orang tua yang datang memberi dukungan pun ikut terbawa suasana yang kian tegang.
Di menit-menit akhir, keunggulan tim muda Xinjiang mulai terlihat. Mereka menunjukkan kondisi yang lebih prima dibandingkan tim muda Guangdong, sehingga stamina mereka tetap terjaga meski lawan sudah tampak kelelahan.
Tim Li Baofeng memang tim hebat yang didatangkan dari Amerika Utara dengan pelatihan yang sangat ilmiah. Namun sayang, mereka terjebak dalam pola pikir konvensional dan gagal melihat basket dari perspektif yang lebih luas. Li Baofeng menggunakan taktik menyerang yang berani, namun ia mengabaikan kelemahan individu para pemainnya.
Memasuki tiga menit terakhir, tim muda Xinjiang tetap menjaga akurasi tembakan, sementara tim muda Guangdong akhirnya tumbang setelah bertarung sepanjang pertandingan. Kecepatan gerak pemain mereka menurun, efisiensi serangan merosot, dan akurasi tembakan pun anjlok secara signifikan.
Dua menit sebelum bubaran, Turgun kembali mencetak tembakan tiga angka melewati penjagaan Zhao Yongji. Kemampuannya menjaga akurasi di saat krusial membuktikan betapa tajamnya naluri bermain Turgun.
Tembakan tiga angka Turgun membawa selisih menjadi enam poin. Li Baofeng mengambil *time-out* terakhir, meski ia sendiri sadar bahwa itu mungkin tidak akan banyak membantu.
Setelah kembali dari jeda, tim muda Guangdong gagal mencetak poin, justru tim muda Xinjiang yang berhasil memanfaatkan peluang untuk melakukan serangan balik. Selisih skor melebar menjadi delapan poin, dan pertandingan pun praktis berakhir.
Akhirnya, berkat 33 poin dari Turgun, 19 poin dari Cai Aihong, 13 poin dari Wang Zhaohui, dan 12 poin dari Sun Dexun, tim muda Xinjiang berhasil menang dengan skor 90-83 atas lawan terkuat mereka di babak penyisihan grup, tim muda Guangdong, dengan selisih tujuh poin.